KEDIRI, JP Radar Kediri- Perbedaan data rawan muncul dalam aplikasi Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU. Penyebabnya adalah kesalahan sistem dalam mengubah data gambar menjadi angka.
Karena itulah perlu dilakukan rekapitulasi suara di tingkat kecamatan. Karena bisa menjadi ajang verifikasi bila ada perbedaan data di aplikasi.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kediri membenarkan adanya beberapa kekeliruan pada hasil Sirekap. Namun, hal itu bukan satu kesengajaan. Melainkan kesalahan sistem.
“Kesalahan itu misalnya hasil hitung suara salah satu paslon yang melebihi jumlah suara sah di TPS (tempat pemungutan suara, Red),” aku Komisioner KPU Kota Kediri Divisi Teknis Penyelenggaraan Nia Sari.
“Misalnya untuk PPWP (Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Red) terjadi kesalahan pembacaan sistem oleh Sirekap. Jadi angka yang sudah dituliskan dalam C-hasil itu difoto oleh KPPS. Lalu diunggah ke Sirekap web kemudian dibaca oleh sistem,” ujarnya terkait indikasi penyebab kesalahan data dalam aplikasi.
Karena itulah, di proses ini, semua hasil penghitungan suara masing-masing TPS harus dicocokkan dengan dokumen C-hasil asli. Jika ditemukan data yang tidak sama antara keduanya, maka keterangan dalam dokumen C-hasil yang dijadikan acuan.
“Hari ini (kemarin, Red) dibetulkan oleh PPK (panitia pemilihan kecamatan, Red) dalam forum rekap. Sehingga kami jamin pascaproses rekapitulasi sudah tidak ada kesalahan lagi,” tandasnya ketika ditemui di Kantor Kecamatan Mojoroto.
Memang, mulai kemarin, masing-masing PPK menggelar rekapitulasi. Tahapan rekap hasil hitung suara di tingkat kecamatan itu digelar serentak di tiga kecamatan yang ada di Kota Kediri. Sejumlah saksi partai politik dan pengawas pemilu pun ikut mengawal hasil hitung suara dari tingkat kelurahan tersebut.
Rekapitulasi itu bertujuan untuk memastikan kesesuaian data yang telah dimasukkan ke Sirekap KPU. Yakni, dengan cara dicocokkan ke dokumen C-hasil dari masing-masing kelompok penyelenggaran pemungutan suara (KPPS). Sebab, aplikasi yang mengubah data gambar Salinan C-hasil menjadi angka itu masih rawan keliru.
Adapun di tiap kecamatan, proses rekap dibagi dalam tiga sesi. Ketua PPK Mojoroto Suwoto mengatakan, proses rekapitulasi dilakukan dalam dua panel untuk 361 TPS dari 14 kelurahan di Kecamatan Mojoroto.
“Kami coba hari pertama kurang lebih satu TPS hampir satu jam. Mudah-mudahan di hari kedua dan berikutnya bisa lebih cepat,” ujarnya.
Sementara itu, proses rekapitulasi KPU RI melalui situs https://pemilu2024.go.id terus bergerak. Hingga pukul 16.30 kemarin, atau saat progresnya sudah mencapai 75 persen, pasangan calon (paslon) nomor 2 Prabowo-Gibran tetap unggul di Kota Kediri dengan 66,59 persen suara. Disusul Paslon 3 Ganjar-Mahfud dengan perolehan 19,84 persen suara. Sedangkan Paslon 1 Anies-Muhaimin berada di posisi terakhir dengan 13,58 persen suara.
Sedangkan untuk pemilihan legislatif (pileg) Kota Kediri, hingga pukul 16.40 kemarin, Partai Nasional Demokrat (NasDem) mendapat total suara terbanyak dengan 12.887 atau 14,83 persen. Disusul Partai Gerindra dengan total 12.633 suara atau 14,54 persen. Kemudian, Partai Amanat Nasional (PAN) menyusul dengan total suara 11.373 atau 13.09 persen.
Baca Juga: KPU Kota Kediri Klaim 85 Persen Pemilih Antusias Datang ke TPS
Jika diurai per daerah pemilihan (dapil), hingga kemarin sore, Partai PAN unggul di Dapil 1 Kecamatan Kota. Total perolehan suaranya mencapai 5.823 suara atau 19,85 persen. Disusul PDI Perjuangan dengan 4.585 suara atau 15,62 persen.
Sedangkan di Dapil 2 Kecamatan Pesantren, Partai Golkar unggul dengan perolehan 2.413 suara atau 20,25 persen. Disusul Partai NasDem dengan perolehan suara 2.052 suara atau 17,22 persen.
Sementara itu, di Dapil 3 Kecamatan Mojoroto, Partai Gerindra dan Partai NasDem selisih tipis. Partai Gerindra memimpin dengan perolehan 8.418 suara atau 18,09 persen. Disusul Partai NasDem dengan perolehan 7.945 suara atau 17,07 persen.
Adapun hingga kemarin, hasil rekapitulasi suara beberapa TPS belum muncul di situs KPU RI. Menanggapi hal tersebut, Nia menyebut beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Salah satunya kemungkinan unggahan KPPS dikembalikan lagi oleh verifikator KPU karena belum sesuai.
“Atau biasanya dari KPPS memang belum menginput. Mungkin sekalian di proses ini (rekapitulasi tingkat kecamatan, Red),” tandasnya.
Rekapitulasi di Kecamatan Kota berlangsung di Kantor Kelurahan Semampir mulai pukul 08.00. Hingga pukul 16.00, PPK Kota menyelesaikan penghitungan panel A di Kelurahan Pakelan. Kemudian, penghitungan panel B di Kelurahan Setonogedeng dan Pocanan. Selanjutnya, PPK masih melanjutkan penghitungan panel A di Kelurahan Jagalan dan panel B di Kelurahan Ringinanom.
“Sekarang sedang berlangsung penghitungan panel A di Kelurahan Jagalan dan panel B di Ringinanom,” terang Mochamad Taufik Davit, selaku Divisi Sosialisasi Humas PPK Kota kemarin.
Selama pelaksanaan rekapitulasi, pria yang akrab disapa Davit itu menyebut ada kendala yang dihadapi.
Salah satunya dari data Sirekap. Beberapa TPS tidak mengunggah foto formulir Model C1 Plano. Sehingga, PPK harus mengisi mulai dari awal data dari formulir tersebut. Akibatnya, pelaksanaan rekapitulasi memakan waktu lebih lama.
“Ketika foto berhasil diunggah, maka akan langsung terbaca di data Sirekap,” jelasnya sembari menyebut pihaknya tinggal mencocokkan data di formulir C1 Plano dengan yang tertera di sistem.
Selanjutnya, Davit menyebut rekapitulasi akan dilakukan hingga malam hari. Maksimal pada pukul 21.00. Sementara, penghitungan suara di tingkat Kecamatan Kota dimungkinkan selesai dalam waktu lebih hingga dua minggu ke depan.
Pantauan media ini, formulir C1 Plano yang tengah direkapitulasi digelar pada papan. Sementara, di samping papan diaktifkan proyektor data Sirekap. Sehingga para saksi bisa mencocokkan antara data yang di formulir dengan yang tercantum pada sistem. Jika ada perbedaan angka, maka saat petugas mengganti isian pun terlihat oleh saksi atau masyarakat yang menyaksikan.
“Kami berharap supaya rekap ini berjalan dengan lancar, aman, dan tidak ada kendala. Supaya menjadi percepatan rekapitulasi di tingkat kecamatan,” harapnya sembari menyebut hingga kemarin sore dirinya belum mendapat keluhan dari saksi.
Di Kabupaten Kediri, rekapitulasi suara hasil Pemilu 2024 tingkat kecamatan tak jadi berlangsung kemarin. Proses tersebut baru akan dilakukan Senin (19/2) besok. Beberapa alasan yang menyebabkan rekapitulasi tingkat kecamatan itu mundur. Salah satunya adalah KPU belum selesai melakukan pemberkasan.
“Seharusnya hari ini (kemarin, Red) tapi terpaksa mundur,” terang Komisioner Divisi Teknik Penyelenggaraan KPU Kabupaten Kediri Anwar Anshori.
Soal mundurnya jadwal itu, menurut Anwar, tak terlalu bermasalah. Karena batas waktu yang ditentukan untuk rekapitulasi masih panjang. Sesuai rencana, rekapitulasi tingkat kecamatan dan kabupaten rampung 6 Maret mendatang.
Hingga kemarin, proses pendistribusian surat suara dan logistik lainnya ke kantor kecamatan masing-masing masih berlangsung.
“Insya Allah jika tidak kembali molor, besok Senin akan dimulai rekapitulasi,” tandasnya.
Sementara, rekapitulasi secara online terus dilakukan KPU.
Rekapitulasi tersebut melalui surat suara model C-hasil yang terus dikumpulkan. Sedangkan dari data yang dihimpun melalui https://pemilu2024.kpu.go.id/, PDI Perjuangan masih unggul untuk pemilihan umum legislatif (pileg) di Kabupaten Kediri.
Partai yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri itu memimpin dengan perolehan 123.277 suara atau 27,58 persen dari total suara.
Sedangkan urutan kedua ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan total 82.209 suara atau 18,39 persen. Sedangkan di posisi ketiga Partai Gerindra dengan total 53.855 suara atau 12,05 persen.
Menurut Anwar, jumlah tersebut kemungkinan bisa berubah. Karena data yang terkumpul masih separo atau 59,32 persen.
“Jumlah tersebut masih akan terus berubah. Dan nantinya akan dicocokan dengan perolehan dari rekapitulasi secara manual,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah