Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sepuluh Tahun sejak Erupsi Terakhir, Mengapa Pemkab Tak Berani Membangun Kawasan Gunung Kelud?

Karen Wibi • Kamis, 15 Februari 2024 | 00:58 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Suara letusannya terdengar sampai Kota Kediri yang jaraknya 45 kilometer jauhnya. Abunya mencapai Jogjakarta dan mengganggu penerbangan di tujuh bandara. Seperti itulah gambaran dahsyatnya letusan Gunung Kelud sepuluh tahun silam.

Tak ada aktivitas mencolok di Pos Pengamatan Gunung Api Kelud seharian kemarin. Petugas yang ada, Dany Erlangga, berjalan santai menuju peralatan yang ada di pos itu.

Menunjukkan garis yang dibuat oleh seismograf, alat pencatat gempa yang ada di pos tersebut. Garisnya normal, seperti garis lurus. Tidak ada getaran-getaran, tanda munculnya gempa vulkanik.

“Saat ini masih aman,” ucap lelaki yang rambut di janggutnya tumbuh memanjang ini. Tangan sang pengamat mendekatkan bolpen yang dipegangnya di dekat garis yang dibuat oleh jarum seismograf.

“Tapi, tidak tahu nanti. Karena memang (aktivitas gunung berapi) tidak bisa diprediksi," lanjut Dany, sambil berpindah ke peta yang tertempel di dinding pos pengamatan yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari kawah itu.

Alasan itulah yang membuat pembangunan infrastruktur di kawasan Gunung Kelud berjalan sangat lambat. Bahkan, nyaris tak beranjak dari kondisi sepuluh tahun silam. Terutama di radius 2 kilometer dari kawah gunung. Wilayah yang bisa dipastikan bakal luluh-lantak ketika Gunung Kelud erupsi lagi.

“Karena hal itu (letusan, Red) tidak bisa diprediksi (kapan terjadinya). Jadi, daripada buang-buang anggaran, lebih baik kami antisipasi,” terangnya, terkait tidak adanya pembangunan fisik di kawasan tersebut.

Apalagi, Dany menambahkan, Gunung Kelud punya letusan yang tipikalnya adalah eksplosif dan efusif. Dua kombinasi letusan yang bisa membuat erupsinya berakibat fatal.

Alasan tersebut sangat dipahami oleh Pemkab Kediri. Mereka enggan membangun fasilitas umum di kawasan yang rentan terdampak letusan. Meskipun, hal itu sangat dibutuhkan karena status Kelud yang merupakan lokasi wisata andalan.

“Pemkab memang tidak ingin membangun fasum di dalam radius 2 kilometer dari kawah,” terang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Adi Suwignyo, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata Sabila Rosad.

Maka, jangan heran bila wajah wisata Gunung Kelud tak banyak berubah. Meskipun erupsi sudah sepuluh tahun lamanya. Tak ada fasilitas tambahan yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Khususnya di area sekitar kawah Kelud.

Dulu, sebelum ledakan 2014 itu, di sekitar kawah ada beberapa fasum. Mulai dari tempat parkir, musala, terowongan, hingga gedung yang bisa digunakan beragam kegiatan. Setelah letusan, hanya terowongan yang tersisa.

Lalu, setelah 10 tahun dari ledakan? “Yang tersisa masih cuma terowongan,” tambah Rosad.

Rosad berdalih jika pemkab sudah berinisiatif membangun beberapa fasum. Namun usulan tersebut ditolak oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Alasannya, jika suatu saat erupsi maka fasum tersebut bakal rusak lagi. Atau , bahkan lenyap.

Setelah menimbang-nimbang, pemkab pun mengurungkan niat tersebut. Pembangunan hanya dilakukan untuk fasilitas penunjang. Seperti arah penunjuk jalan, papan tulisan, dan bangunan kecil lainnya.

“Yang ditakutkan adalah ketika aset lenyap maka kerugiannya bisa miliaran. Sedangkan kami juga tidak bisa memprediksi kapan erupsi terjadi,” dalihnya.

Tak hanya fasum berupa bangunan yang tak mendapat perbaikan. Juga fasum berupa akses jalan. Mulai dari pintu masuk hingga tempat parkir terakhir, kondisinya masih sama seperti 10 tahun yang lalu.
Sebenarnya, hal itu relatif merepotkan bagi pengunjung. Mereka tidak bisa langsung berkendara hingga dekat kawah.

Pengunjung yang membawa kendaraan roda empat bahkan harus parkir sekitar tiga kilometer dari kawah. Selanjutnya mereka harus berjalan kaki bila ingin ke atas.

Memang, ada pilihan bagi yang tak mau lelah. Bisa menumpang ojek. Tarifnya, tentu saja tidak murah. Bagi wisatawan nusantara, harus membayar Rp 40 ribu. Sedangkan bila wisatawan asing tarif Rp 50 ribu. Itu untuk perjalanan pergi dan pulang.

Tak jauh berbeda bagi pengunjung yang mengendarai sepeda motor. Jarak antara tempat parkir terakhir dengan kawah sekitar 2 km. Jika ingin naik, mereka harus menyewa ojek. Dengan biaya yang sama dengan pengunjung roda empat.
Kalaupun ada perbaikan paling sering dilakukan adalah di akses jalan menuju Gunung Kelud.

Lokasinya mulai dari Kecamatan Wates hingga pintu masuk Gunung Kelud. Tahun kemarin, Kementerian PUPR menggerojok anggaran senilai Rp 46,87 miliar. Perbaikan tersebut satu paket untuk ruas Margomulyo-Manggis-Ngancar-Sempu.
“Untuk akses jalan masih sering ada perbaikan. Yang tidak adalah di radius 2 km dari kawah,” pungkasnya.

*Setelah Erupsi Tanahnya Jadi Makin Subur*
Dampak letusan Gunung Kelud tak semuanya fatal. Ada akibat yang justru membuat para petani nanas-komoditas terbanyak warga Lereng Kelud-tersenyum senang. Yaitu, tanah di wilayah itu menjadi kian subur.

“Setelah gunung meletus itu malah tambah subur,” aku Muhadi. Lelaki 63 tahun ini adalah petani nanas di Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar.

Ketika ditemui di ladangnya kemarin (13/2), Muhadi percaya jika gunung yang meletus tak hanya membawa petaka. Namun juga berkah. Hal itu dialaminya langsung di dua episode Gunung Kelud meletus. Yaitu pada 1990 dan 2014.

Tentu, pascaletusan, lahan pertanian jadi tak karu-karuan. Namun itu hanya dalam hitungan minggu. Atau, tak lebih dari dua bulan.

Selanjutnya? Tanah di lereng gunung jadi kian subur. Nyaris seluruh tanaman yang ditanam akan tumbuh dengan sehat.
Efek seperti itu tak berlangsung hanya dalam hitungan satu atau dua tahun saja. Namun lebih dari itu.

Bahkan hingga 10 tahun pascakejadian, Muhadi menjamin jika tanah di lereng gunung tetap subur.
“Semua jenis tanaman buah di sini pasti berbuah,” tegasnya.

Petani yang menanam nanas jenis Simplex ini pun mengaku jika kualitas tanamannya terus meningkat. Begitu juga dengan kapasitas panen tiap tahunnya.

Setiap 13 bulan sekali, Muhadi bisa memanen nanas hingga puluhan ton. Dari jumlah tersebut, keuntungannya hingga puluhan juta rupiah.

“Tergantung harganya. Tapi Alhamdulillah bisa puluhan juta setiap kali panen,” pungkasnya.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo.

Dia menyebut ada kaitan antara erupsi gunung berapi dan kesuburan tanah di sekitarnya.
Letusan gunung berapi mengandung banyak unsur yang baik untuh tanah. Seperti magnesium dan potasium. Yang berfungsi untuk menyuburkan tanah.
“Dua unsur tersebut dapat menjadi pupuk alami bagi tumbuhan,” ujarnya.

Hal itu pun dapat dibuktikan dari jumlah panen nanas di lereng Gunung Kelud. Sejak tahun 2020 hingga 2022, jumlah panen nanas terus meningkat. Mulai dari 158.930 Ton, 167.278 Ton, hingga 291.121 Ton.

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Ngancar menjadi daerah dengan jumlah panen terbanyak. Di tahun 2021 saja, Kecamatan Ngancar berhasil menghasilkan 152.591 ton nanas. Sedangkan di tahun 2022 bertambah banyak menjadi 236.031 Ton.
“Jadi jumlahnya terus meningkat. Salah satunya karena kesuburan di lereng gunung pasca erupsi,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #pemkab #gunung #kelud