Informasi yang dihimpun koran ini, setelah dinyatakan memenangkan lelang pertengahan November 2023 lalu, penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) dilakukan kuartal ketiga 2023 atau paling lambat akhir tahun lalu. Setelah penandatanganan ini, masih ada beberapa tahapan yang dilewati. Yakni, pendanaan, perencanaan teknik, baru diikuti realisasi fisik.
Agaknya, hingga awal Februari ini beberapa tahapan pascalelang itu masih belum tuntas. Sehingga, pembangunan tol, terutama ruas ke Bandara Dhoho masih belum dimulai. Akses tol menuju bandar udara akan dimulai dari perempatan Bolawen ke Kelurahan Semampir, Kota Kediri.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Kediri Sukadi yang dikonfirmasi tentang dimulainya pembangunan jalan tol menyebut hingga kemarin masih belum ada tanggal secara pasti. “Masih belum ada jadwal pasti kapan tol (ruas bandara, Red) akan dibangun,” ujarnya.
Padahal, lahan yang terdampak Tol Ki Agung sudah dikosongkan sejak akhir Desember lalu. Termasuk 180 kepala keluarga (KK) di sepanjang Jl PB Sudirman yang akan menjadi akses utama tol ke bandara.
Meski waktu dimulainya pembangunan tol masih belum pasti, tol yang akan menjadi akses utama menuju ke bandara itu ditargetkan bisa beroperasi pada November tahun ini. Jika waktu dimulainya pembangunan proyek meleset, besar kemungkinan waktu penyelesaian juga akan lebih lama lagi. “Semoga saja cepat dibangun dan dapat digunakan,” harap Sukadi menyinggung pembangunan jembatan di dekat bandara yang juga akan jadi akses tol sudah dimulai.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kediri Yudha Nur Ari juga menyebut Tol Ki Agung jadi akses tumpuan menuju ke bandara. Sebab, akses non-tol ke bandara dinilai masih kurang memadai. Dia mengatakan, akses menuju ke bandara ada dua. Selain Jl PB Sudirman juga bisa melewati Jl Jawa di Desa/Kecamatan Grogol.
Dari dua ruas itu, Jl PB Sudirman menjadi pilihan utama karena jauh lebih lebar (8 meter). Bamun, kedua jalan tersebut akan bermuara di satu tikungan yang sama. Hingga kemarin, tikungan yang masuk ke Jl Jawa itu dianggap masih terlalu sempit. “Tikungan itu sudah dilakukan pembebasan lalu pelebaran tapi tetap terlalu sempit,” tuturnya.
Dengan kondisi itu, Yudha pesimis jika alur transportasi akan berjalan lancar. Sebab, dari beberapa kali uji coba menggunakan kendaraan besar, selalu terjadi kemacetan di sana. “Untuk kendaraan besar bisa saja. Tapi selalu macet,” paparnya.
Karenanya, jika Tol Ki Agung ruas bandara sudah beroperasi, menurutnya potensi kemacetan itu bisa dicegah. Sebab, kendaraan roda empat mayoritas akan melewati tol. Sedangkan akses non-tol dilewati kendaraan roda dua. “Tol Ki Agung akan jadi akses utama. Tapi sebelum dibangun, Jalan PB Sudirman yang akan jadi akses utama,” tandasnya.
Seperti diberitakan, hingga awal Februari ini pengadaan tanah tol akses ke bandara tahap I sudah mencapai 58 persen untuk Kota dan Kabupaten Kediri. Rinciannya, Kabupaten Kediri sudah mencapai 90,35 persen atau hampir semua tanah yang diperlukan sudah bebas. Sedangkan untuk Kota Kediri baru mencapai 35,40 persen.
Selain pengadaan tanah tahap I, panitia pengadaan tanah juga memulai pengadaan tanah sesuai penetapan lokasi (penlok) tahap II. Yakni, dengan memasang patok right of way (ROW) di sepanjang tanah yang terdampak. Pengadaan tanah lanjutan ini dilakukan karena mengakomodasi pembuatan clear zone tol. Serta, kebutuhan tanah dampak pemindahan interchange tol dari Jl Jaksa Agung Suprapto Kota Kediri ke Jl Suparjan Mangun Wijaya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah