KEDIRI, JP Radar Kediri-Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meresmikan Pasar Wates kemarin (29/1). Pasca-beroperasinya pasar, dinas perdagangan (disdag) me-warning pedagang agar tak melakukan praktik jual beli kios dan los. Jika tetap dilakukan, pemkab akan mem-blacklist mereka.
Pantauan koran ini, peresmian dilakukan sekitar pukul 10.00 kemarin. Bupati yang tiba bersama Sekda M. Solikin dan sejumlah pejabat langsung melakukan pemotongan tumpeng. Sejurus kemudian, bapak dua anak itu juga menandatangani prasasti peresmian pasar.
Menandai peresmian pasar, Dhito nganyari dengan sarapan di warung pedagang di sana. “ Ini (Pasar Wates, Red) bukti kolaborasi yang bagus pusat dan daerah,” kata pemimpin muda itu.
Hal tersebut tak lepas dari kucuran anggaran dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) selama dua tahun berturut-turut. Masing-masing Rp 8 miliar di tahun 2022 dan 2023.
Anggaran total Rp 16 miliar dari pusat itu berhasil menyulap kondisi Pasar Wates. Pasar tradisional yang semula terkesan kumuh itu kini menjadi pasar tematik yang sarat seni dan budaya. Pasar juga sudah menggunakan teknologi dalam pelayanannya. “Saya minta pedagang ikut merawat pasar. Jangan buang sampah sembarangan,” lanjut suami Eriani Annisa ini sembari berharap pasar bisa jadi sentra ekonomi baru di Wates dan sekitarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Tutik Purwaningsih mengatakan jika agenda kemarin baru peresmian. Adapun operasional baru dilakukan setelah dilakukan pengundian pedagang. Sesuai jadwal, pengundian akan dilakukan Senin (5/2) depan.
Jika semua proses berjalan lancar, pedagang bisa menempati lapak mereka pada awal Februari. “Kami beri batas maksimal yaitu minggu ke tiga di bulan Maret,” tuturnya.
Di pasar yang terdiri dari 55 kios dan 548 los itu akan ditempati oleh 486 pedagang. Terkait jumlah lapak yang jauh lebih banyak dari jumlah pedagang, menurut Tutik hal itu karena ada pedagang yang memiliki lapak lebih dari satu. Meski demikian, satu pedagang tidak boleh memiliki lebih dari empat pedagang.
“Jika ketahuan (punya lebih dari empat lapak, Red), pemkab akan mengambil alih,” tegasnya.
Pemkab, terang Tutik, juga mewanti-wanti agar pedagang tak melakukan jual beli kios dan los. Jika ada yang nekat menjual kembali jatah los yang didapat, menurut Tutik disdag akan memberikan sanksi. “Kami akan mem-blacklist nama pedagang itu,” paparnya.
Lebih jauh Tutik menyebutkan, pemkab berencana membuka pasar dalam tiga sif. Tujuannya agar seluruh pedagang bisa berjualan. Sebab, di luar 486 pedagang yang terdata, ada sekitar 100 pedagang lain yang belum masuk ke dalam daftar. Mereka adalah pedagang yang baru mendaftar beberapa bulan terakhir. “Tapi untuk rencana itu masih kami matangkan. Jika tidak bisa pedagang itu (sekitar 100 pedagang baru, Red) akan menempati TPPS,” jelasnya.
Rehab Pasar Wates:
-Pembangunan Pasar Wates yang menelan anggaran total Rp 16 miliar dimulai sejak 2022 hingga akhir 2023
-Total ada 486 pedagang yang akan menempati 603 lapak yang dibangun di sana
-Pasar diperkirakan bisa beroperasi pertengahan Februari atau paling lambat minggu ke tiga Maret
-Pasar tradisional yang semula kumuh itu disulap jadi pasar tematik yang modern tapi kental akan seni dan budaya daerah
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah