KEDIRI, JP Radar Kediri-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri terus melakukan serangkaian persiapan jelang beroperasinya Bandara Dhoho. Kemarin, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopusmik) melakukan kurasi ratusan produk UMKM bersama PT Angkasa Pura 1. Hasilnya, hanya separo saja yang lolos. Sisanya dinyatakan tidak bisa dijual di stan bandara.
“Saat ini kami terus menyiapkan produk yang yang akan dijual di bandara,” kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopusmik) Kabupaten Kediri Mamiek Amiyati saat ditemui di Ruang Joyoboyo Pemkab Kediri kemarin (23/1).
Untuk diketahui, Bandara Dhoho menyediakan tiga stan untuk penjualan produk UMKM lokal. Sesuai rencana, tiga stan itu akan diisi oleh produk UMKM dari total 13 daerah Mataraman.
Demi menentukan produk yang layak dijual di bandara, kemarin diskopusmik melakukan kurasi produk bersama PT Angkasa Pura 1. Total ada 140 produk berupa makanan dan minuman (mamin), craft atau kerajinan tangan, dan produk olahan kopi. “Untuk produk mamin dan olahan kopi hanya diisi dari produk Kabupaten Kediri. Kalau untuk craft diisi UMKM dari 13 daerah Mataraman,” lanjutnya.
Dari hasil kurasi yang dilakukan dengan PT Angkasa Pura 1, hanya sekitar 70 produk mamin yang bisa dijual di bandara. Alasannya, setelah dikurasi ternyata hanya separo dari total 140 produk yang bisa lolos.
Mengapa puluhan produk dicoret dari daftar produk di bandara? Menurut Mamiek, terutama dinyatakan tidak layak karena kemasannya kurang memadai. Misalnya tak ada tanggal kedaluwarsa, tidak ada daftar kandungan produk, dan masih banyak persyaratan lain yang belum dipenuhi. “Tapi kami memberi tenggat waktu agar mereka bisa memperbaiki,” tuturnya.
Lebih jauh Mamiek menjelaskan, selain produk mamin kemarin juga dipilih 10 produk kopi yang akan dijual di bandara. Meski demikian, menurut Mamiek jumlahnya bisa berubah saat bandara beroperasi nanti.
Bagaimana dengan craft? Mamiek belum mengetahui detail jumlah produk yang akan dijual. Menurut Mamiek hingga kemarin proses kurasi masih terus berlangsung. “Untuk craft kurasi baru dilakukan kemarin. Jadi masih perlu waktu,” papar Mamiek sembari menyebut craft yang berbentuk tajam dilarang dijual di bandara.
Mamek menegaskan, para pelaku UMKM mendapat tempat istimewa di bandara. Jika stan lain harus membayar sewa sejak awal, stan UMKM akan dibebaskan dari biaya sewa di enam bulan pertama operasional. Selebihnya, baru akan dibicarakan lebih lanjut. Termasuk apakah mereka tetap akan digratiskan atau harus membayar.
Terpisah, Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Kediri Sukadi mengatakan, kurasi dilakukan karena produk yang dijual di bandara harus memiliki kualitas yang bagus. Sehingga, pengunjung tertarik untuk membeli produk. “Sekarang disiapkan agar saat bandara beroperasi nanti benar-benar sudah siap,” tandas Sukadi.
Lalu kapan bandara akan beroperasi? Menanggapi pertanyaan itu, Sukadi mengaku belum mengetahui. Namun rencananya, produk UMKM tersebut mulai dapat dijual pada Februari mendatang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah