Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tim Ekspedisi Penyelamatan Mata Air Ekspolorasi Tiga Sumber di Wilayah Timur Kediri

Ayu Ismawati • Rabu, 17 Januari 2024 | 17:11 WIB

Photo
Photo
KEDIRI, JP Radar Kediri—Ekspedisi penyelamatan mata air kembali dilanjutkan kemarin. Setelah dari barat, kemarin tim bergeser ke wilayah timur Kediri. Yakni, dengan mengunjungi Sumber Sirah, Toto, dan Tentrem Kertoraharjo. Keterkaitan tiga sumber yang berdekatan serta kultur masyarakatnya jadi kajian yang menarik.

Tim yang terdiri dari akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, aktivis lingkungan hidup Rante Rau, Perhutani, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri bertolak dari kantor Jawa Pos Radar Kediri sekitar pukul 08.30. Mengendarai Mitsubishi Xpander, tim tiba di Sumber Sirah sekitar pukul 09.00.

Dari pemberhentian terakhir kawasan mata air, tim yang beranggotakan 21 orang itu berjalan kaki sepanjang sekitar 100 meter ke Sumber Sirah.  “Kawasan sumber ini mulai kita kelola dan dibangun sejak ada dana desa. Karena kita tidak punya potensi lain selain sumber, akhirnya kita kelola sumber ini,” ujar Kepala Desa Kerkep Bondhan Wijokangko.

Selain untuk kebutuhan pengairan sawah, mata air memang dikelola untuk wisata. Itu terlihat dari ornamen dan bangunan-bangunan yang ditambahkan di sana. Seperti Rumah Hobbit dan rumah pohon.

Seperti di lokasi ekspedisi pertama (15/1), tim mulai mengobservasi dan merekam beragam data. Mulai menguji air dengan parameter seperti kadar asam basa (PH), suhu, kadar garam, hingga oksigen terlarut. Selain itu, mahasiswa UNP Kediri juga memetakan serangga di kawasan mata air. Pun dengan sebaran vegetasi di kawasan sumber.

“Vegetasinya masih alami. Banyak pohon yang sudah terlalu tua. Tapi ada sebagian yang memprihatinkan karena dilukai dengan dibentuk seperti rumah pohon yang nantinya semakin lama bisa membahayakan,” kata Staf Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan DLH Kabupaten Kediri Hariyadi yang kemarin mengikuti ekspedisi.

Hari—sapaan akrabnya—menyoroti salah satu Pohon Trembesi besar di pintu masuk sumber. Di sekeliling batang pohon itu, dibangun semacam rumah pohon dengan rangka besi. Seiring berjalannya waktu, diameter pohon yang semakin besar ikut mendesak rangka besi. Alhasil, lapisan kulit pohon pun merangsek di antara besi-besi yang mengelilingi pohon.

“Kalau lapisan kulit sudah putus, tanaman bisa kering. Padahal hampir 75 persen asupan tanaman disalurkan lewat kulit. Kalau sudah begitu, bisa roboh. Membahayakan pengunjung,” sambungnya.

Selain itu, pola pengembangan mata air juga menjadi sorotan aktivis lingkungan hidup. Banyaknya bangunan permanen di sana dikhawatirkan bisa memengaruhi produksi air di sana.

“Istilahnya kan ada sumber yang kecil-kecil. Bangunan permanen bisa menutup itu. Tapi kalau ini sepertinya plengsengan lama, sudah ada sejak dulu,” imbuh aktivis lingkungan dari Komunitas Rante Rau Eko.

Jika air di Sumber Sirah masih mengalir, lain halnya dengan dua sumber tetangganya. Sumber Toto dan Tentrem Kertoraharjo bernasib memperihatinkan. Keduanya mengering. Hanya ada genangan kecil sisa hujan yang nampak di Sumber Toto.

Di mata air yang hanya berjarak sekitar 1,1 kilometer dari Sumber Sirah itu, pengujian tim pun terbatas. Sebaran vegetasi jadi salah satu aspek yang diteliti di sana.

Setelah selesai mendata dan mengukur tinggi serta diameter tanaman, tim selanjutnya bergeser ke Sumber Tentrem Kertoraharjo. Dengan berjalan kaki sejauh 200 meter, tim ekspedisi menyusuri pematang sawah. Sepanjang mata memandang, hamparan tanaman cabai mendominasi akses menuju Sumber Tentrem.

“Karena di sini sumbernya kering, mungkin yang bisa kita lakukan (penelitian) untuk stok karbon. Tapi masih perlu kita olah dulu datanya,” ujar Dosen Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati di sela memetakan vegetasi di mata air itu.

Sebelum mengering, ketiga sumber itu dikenal sebagai penyuplai utama kebutuhan irigasi pertanian sekitar. Air dari tiga sumber ini menyatu dalam satu aliran. Konon, keberadaan tiga sumber ini juga terkait dengan situs Calon Arang yang berada tak jauh dari sana. Cerita rakyat seperti itu menjadi wujud kearifan lokal. Yang jadi salah satu pijakan dalam upaya-upaya menyelamatkan mata air. 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#eksplorasi #penyelamatan #sumber air