KEDIRI, JP Radar Kediri - Temuan tugu Kerajaan Kadiri di Desa Kayunan, Plosoklaten akhirnya ditangani oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jawa Timur. Tim datang ke lokasi untuk meneliti temuan tugu dan beberapa benda bersejarah yang diyakini dibangun pada era Raja Kertajaya itu. Termasuk untuk mengetahui manfaat dan cerita sejarah di belakangnya.
Pantauan koran ini, peneliti dari BPK XI Jatim tiba di Balai Desa Kayunan sekitar pukul 12.00. Di sana mereka langsung meneliti beberapa benda yang sebelumnya ditemukan di tanah bekas galian milik warga setempat. “Untuk dugaan awal, situs ini sepertinya berasal dari Kerajaan Kadiri,” kata Ismail Lutfi, peneliti BPK XI Jatim ditemui di lokasi kemarin.
Total ada 37 benda yang ditemukan. Mulai dari padmasana atau tempat untuk meletakkan sesaji, kuncian bangunan, umpak. Ada pula gerabah dan sejumlah bongkahan batu bata. Benda-benda yang bentuknya mayoritas kecil-kecil itu sengaja disimpan di balai desa agar tak rusak atau dicuri.
Puluhan temuan itu langsung diteliti secara mendalam. Mengidentifikasi bahannya, ukuran, hingga informasi lain yang menyertainya. Sekitar satu jam melakukan pendataan, tim lantas berangkat ke situs Kayunan yang berjarak sekitar satu kilometer dari balai desa.
Di sana, pria yang akrab disapa Lutfi itu langsung meneliti tiga titik. Yakni, lokasi tempat temuan tugu. Serta, dua lokasi tempat batu bata merah dan batu andesit ditumpuk menyerupai tembok. “Yang paling menarik dari beberapa situs ini adalah tugu yang berada di sebelah utara ini,” lanjut pria yang juga dosen Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Lektor kepala di departemen Sejarah UM ini lantas mengambil sekop kecil. Dia mengikir beberapa batu bata di sana untuk memastikan jenis bahannya. Sejurus kemudian dia menyapukan kuas pada tugu untuk meneliti lebih lanjut.
Melihat angka bertuliskan 1.123 tahun Saka, Lutfi lantas mengonfersinya ke tahun Masehi dengan cara menghitung. “Konversi tahun Saka ke tahun Masehi hanya perlu ditambah 78. Jadi (tugu, Red) ini dibangun tahun 1.201 Masehi,” terangnya.
Sesuai catatan sejarah, di tahun itu pemerintahan masih dipegang Kerajaan Kadiri. Tepatnya di bawah kepemimpinan Raja Kertajaya. Selang 21 kemudian barulah Kerajaan Kadiri runtuh. “Jadi tugu tersebut diperkirakan dibangun di akhir masa Kerajaan Kadiri,” tuturnya.
Apa fungsi tugu itu? Pria berjenggot putih itu belum bisa memastikan. Meski demikian, umumnya tugu memiliki beberapa fungsi. Mulai untuk tapal batas hingga pengingat suatu peristiwa. Untuk memastikannya, BPK XI Jatim dan Pemkab Kediri akan melakukan penelitian lebih lanjut. Jika dianggap penting, mereka akan melakukan ekskavasi lanjutan. “Semuanya masih dugaan. Perlu waktu untuk melakukan penelitian,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Eko Priatno mengatakan, pihaknya bersama BPK XI Jatim akan melakukan penelitian lanjutan. Terutama untuk mengetahui fungsi tugu dengan panjang sekitar 170 sentimeter (cm) dan lebar 76 cm itu.
“Kami masih mencari referensi untuk melihat kegunaan tugu. Terutama peristiwa apa yang terjadi antara tahun tersebut di Desa Kayunan ini,” jelasnya berharap penelitian bisa dilakukan secepat mungkin. Sehingga, disparbud bisa segera memutuskan langkah apa yang akan diambil terkait tugu tersebut. Yakni, apakah akan diekskavasi atau dibiarkan di lokasi.
Jika hingga kemarin tugu masih ada di lokasi, menurut Eko pihaknya akan segera memindahkan tugu ke balai desa. Sebab, situs berada di lokasi yang mudah longsor. “Takutnya nanti roboh dan tugunya rusak,” papar Eko.
Sementara itu, Camat Plosoklaten Subur Widono menambahkan, situs ditemukan pada Kamis (11/1) lalu. Saat itu, warga menggali tanah di pekarangan warga untuk diolah dan ditanami. “Saat digali, ternyata mengenai ujung tugu. Benda yang awalnya dikira batu itu ternyata berbentuk tugu,” ungkap Subur sembari menyebut tanah pekarangan di sana sedianya akan ditanami cabai.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah