KEDIRI, JP Radar Kediri – Pemulihan sumur warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren yang tercemar minyak dari SPBU Pertamina belum selesai. Namun, SPBU yang ditutup selama sekitar tiga bulan itu sudah boleh buka mulai besok (1/1).
Jelang pengoperasian kembali SPBU 54.641.35 itu, kemarin perwakilan Pertamina menemui warga terdampak untuk sosialisasi. Hasilnya, beberapa warga menyampaikan keluh kesah terkait proses pemulihan yang belum tuntas.
Seperti diungkapkan oleh Sugiyono. Dia meminta agar pihak SPBU dan Pertamina tetap bertanggung jawab menyelesaikan pencemaran air sumur di lingkungannya. “Setelah dikasih obat dan disedot, sumur saya airnya malah berwarna biru. Biru minyak,” tuturnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan saat diberi obat. Saat itu menurutnya air sumur berwarna putih. “Sekarang malah biru,” lanjut Sugiyono tentang kondisi air sumurnya setelah dikuras beberapa waktu lalu.
Sugiyono menegaskan, dirinya tidak mempermasalahkan tentang operasional kembali SPBU Tempurejo. Namun, dia meminta agar masalah pencemaran minyak di belasan sumur warga itu benar-benar dituntaskan.
Merespons keluhan Sugiyono, Sales Branch Manager Pertamina Unit Pemasaran V Depo Kediri Agung Wijaya berjanji akan menindaklanjuti keluhan dan masukan dari warga terkait penanganan pencemaran. Termasuk melakukan treatment di sumur bor atau pompa milik warga yang terdampak minyak.
Diakui Agung, sejauh ini baru sumur terbuka saja yang di-treatment dengan metode kimia tersebut. “Nanti akan kami koordinasikan dengan pihak SPBU tentang bagaimana realisasinya,” tandasnya.
Untuk diketahui, dalam sosialisasi kemarin Agung membeberkan rencana operasi kembali SPBU Tempurejo. Menurutnya, pembukaan SPBU dilakukan karena berdasar evaluasi sudah dinyatakan memenuhi syarat.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di sumur milik Sugiyono yang berjarak sekitar 100 meter dari SPBU memang belum kembali normal. Permukaan air yang seharusnya bening tertutup lapisan penuh gelembung yang keruh.
Selama 139 hari sejak kali pertama pencemaran dirasakan belasan kepala keluarga (KK) warga di sana, baru lima sumur terbuka yang dipulihkan dengan metode chemical dispersion. Dari jumlah tersebut, baru dua sumur yang pulih. Sedangkan tiga lainnya belum kembali normal. Adapun untuk sembilan sumur bor belum dipulihkan.
Di depan warga terdampak, Kabid Penataan dan Penaatan Lingkungan DLHKP Kota Kediri Aris Mahmudin meminta agar dilakukan treatment atau pemulihan serupa di sumur bor yang terdampak. Sehingga, cemaran minyak bisa benar-benar hilang. “Sumur terbuka sudah terselesaikan, tinggal sumur bor yang belum tersentuh” tandasnya.
Seperti diberitakan, sedikitnya ada 14 sumur warga di RT 5/II Kelurahan Tempurejo, Pesantren yang tercemar minyak sejak 14 Agustus lalu. Pencemaran terjadi karena salah satu pipa penyalur BBM di SPBU Pertamina bocor.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Kediri Imam Muttakin yang juga menemui warga dalam sosialisasi kemarin menyebut persetujuan teknis dari Pertamina terkait operasional SPBU sudah turun.
Pertimbangan itu pula yang membuat DLHKP menyetujui operasional kembali SPBU. “Karena dari sisi ekonomi, SPBU juga perlu perputaran omzet. Di samping itu, dari sisi kebutuhan BBM warga sekitar juga kesulitan karena agak jauh,” ungkapnya sembari menyebut tadi malam SPBU sudah kembali mendapat kiriman BBM.
Meski menyetujui operasional SPBU, Imam menegaskan agar pemulihan sumur warga akan tetap berjalan. Sebab, hingga kini proses normalisasi di sana masih menyisakan PR besar. Dari lima sumur yang dipulihkan dengan melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, tiga di antaranya masih ditemui zat total petroleum hydrocarbon (TPH).
“Dua sumur masih tinggi, satu masih agak tinggi. Jadi tiga sumur ini masih akan dilanjutkan treatment-nya dengan cairan dispersan. Untuk dua sumur ini dua kali dosis kurang lebih 16 liter. Dan satu sumur tinggal satu dosis,” jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah