Sedikit banyak, gerai-gerai waralaba Internasional ini terimbas seruan boikot produk yang dituding pro-Israel. Jumlah pengunjung pun mengalami penurunan. Dan, hal itu juga dirasakan para driver ojek online, yang orderannya juga berkurang.
Gerai makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) Dhoho Plaza terlihat lengang. Hanya beberapa meja yang terisi. Jumlah pengunjungnya pun bisa dihitung dengan jari. Tak sampai sepuluh orang.
Padahal, saat itu jam makan siang. Biasanya, di jam-jam itu gerai itu dipenuhi pengunjung. Baik itu karyawan-karyawan yang mencari makan siang atau anak-anak sekolah.
Kelengangan serupa juga terlihat di Burger King. Gerainya yang ada di Kediri Mall terlihat sepi. Saat itu, ketika waktu menunjukkan pukul 15.00, pengunjungnya juga tak sampai sepuluh orang.
Demikian pula di gerai McDonald’s di Jalan Brawijaya maupun Starbucks di Jalan Diponegoro. Situasi gerai yang masuk list sebagai produk yang pro-Israel tersebut juga sepi. Di McDonald’s hanya lima motor dan dua mobil yang terparkir di halaman. Sementara yang datang di Starbucks terlihat hanya dua orang saat itu.
Apakah sepinya pengunjung tersebut imbas dari seruan boikot produk-produk yang dianggap ‘berbau’ Israel? Sayangnya, sebagian besar manajer gerai-gerai di atas enggan berkomentar. Seperti Manajer KFC di Plaza Dhoho Bagus Tri Anggara. Pria ini meminta agar Jawa Pos Radar Kediri mengonfirmasi ke kantor yang ada di Surabaya atau Jakarta.
“Kami di sini tidak bisa memberikan pernyataan apapun, bisa langsung ke call center atau bersurat ke kantor pusat,” kilahnya.
Yang pasti, menurutnya, gerai tetap beroperasi seperti biasa. Karyawan pun bekerja sesuai dengan jobdesk-nya masing-masing. Selain itu, juga tidak ada pengurangan karyawan.
Pernyataan serupa juga diberikan pihak McDonald’s. “Kami tetap beroperasi, melayani pelanggan yang datang,” ucap Restaurant General Manager McDonald’s Kota Kediri Yudi Berlian.
Apakah seruan boikot berpengaruh pada berkurangnya pengunjung? Yudi menolak berkomentar. Dia kemudian menyodorkan nomor marketing communication (marcom). Sayang, pihak marcom juga tak memberi respon ketika dihubungi via WhatsApp.
Manajer Starbucks tak ada di lokasi ketika coba dikonfirmasi. Sementara karyawan yang bertugas enggan memberi jawaban. "Kami tidak ada kewenangan untuk menjawab," tolak karyawan bernama Jalu, yang mengaku berusia 27 tahun.
Pengakuan soal menurunnya omzet setelah muncul seruan boikot datang dari pihak Burger King. Iwanda Wahyu Pratama Buana Prabu, manajer operasional, mengatakan memang ada penurunan penjualan selama November. Padahal, gerai ini sedang memberlakukan promo yang sama seperti bulan sebelumnya. Hanya, hasil sejauh ini tak sebaik seperti saat Oktober.
“Bulan lalu kami bisa mencapai target,” terangnya.
Namun, Iwanda menyebut, gerainya biasa ramai setelah maghrib. Juga ketika weekend. Meskipun ada seruan boikot mereka tetap beroperasi seperti biasa. Buka mulai pukul 10.00 dan tutup pada pukul 22.00. Jumlah karyawan pun tetap.
Bagaimana dengan seruan boikot yang juga berimbas pada gerainya? “Itu hak masyarakat (dalam mengikuti seruan boikot atau tidak, Red),” ucap Iwanda singkat.
Menurunnya omzet gerai-gerai yang masuk dalam daftar boikot diakui oleh beberapa driver ojek online. Abdurahman Ali, 33, salah satu driver ojek online dari Gojek merasakan dampak adanya boikot tersebut. Pesanan untuk Mc Donald’s mengalami penurunan.
“Teman-teman yang lain juga merasakan,” akunya saat ditemui di warung di Jalan Urip Sumoharjo.
Lalu, bagaimana dengan gerai makanan cepat saji lokal atau yang tidak masuk pada daftar boikot? Salah satu gerai cepat saji dengan sajian fried chicken, Hisana, tidak merasakan dampak peningkatan pada omzetnya. “Sama saja, penjualannya tetap di kisaran Rp 3 juta (per hari),” aku Muhammad Arif Fikri, karyawan di Hisana di Jalan Kawi Kota Kediri.
Di Rocket Chicken, di Jalan Joyoboyo, juga demikian. Tak ada lonjakan yang berarti. “Sejauh ini masih standar. Belum ada kenaikan yang drastis,” aku Muhammad Irfan, supervisor Rocket Chicken Kediri Joyoboyo.
Yang Boikot Silakan, Yang Tidak Juga Silakan
Soal boikot produk-produk yang dianggap pro-Israel, sangat bergantung pada individu masing-masing. Sebab, tidak ada paksaan mengikuti seruan tersebut. Setidaknya hal itu disampaikan oleh Ketua MUI Kabupaten Kediri Busyrol Karim.
Kalau saya pribadi biasa-biasa saja. Yang ingin memboikot silakan. Yang tidak juga silakan, ungkap lelaki yang juga ketua syuriah NU Kabupaten Kediri ini.
Sebenarnya, imbuh Busyrol, yang seharusnya dilakukan adalah berusaha tidak memasukkan barang-barang berkaitan dengan Israel ke dalam negeri. Namun, karena ada yang sudah telanjur masuk, maka tidak masalah. Menjadi hak masyarakat untuk mau memboikot atau tetap memilih netral.
Hal serupa diucapkan oleh KH Abu Bakar Abdul Jalil, ketua PCNU Kota Kediri. Pria yang biasa disapa Gus Ab ini mengatakan, aksi boikot yang terjadi adalah hak masing-masing individu. Namun, menurutnya, tidak semua produk bisa diboikot.
Jika barang tersebut tidak ada penggantinya, tidak apa-apa masih menggunakannya. Namun jika ternyata ada penggantinya lebih baik menggantinya. Karena perang yang saat ini terjadi, jadi ini bentuk simpati akan hal tersebut, ucap Gus Ab.
Lalu, bagaimana tanggapan warga Kediri? Mereka berpendapat beragam. Ada yang memilih mengikuti seruan boikot. Namun, ada pula yang mengaku netral.
Setelah ada isu boikot saya langsung mengganti produk, aku Ineke Rufaidah, warga Gurah, Kabupaten Kediri.
Selain tidak lagi menggunakan produk sehari-hari dari produsen yang dianggap pro-Israel, wanita 33 tahun itu juga tidak lagi menjual produk-produk itu. Kebetulan, dia adalah pengusaha toko swalayan.
Karena tidak bisa langsung, dia mulai mengurangi sedikit demi sedikit orderannya. Termasuk mengembalikan kulkas es krim milik produk yang dianggap pro-Israel.
Beda lagi dengan Niken Wiguna, 40. Wanita ini memilih bersikap netral. Dia masih membeli produk yang masuk daftar list boikot. Karena menurutku boikot ini tidak terlalu berpengaruh, ucap wanita yang beralamat di Kelurahan Kauman, Kota Kediri.
Hal serupa diucapkan Dwi Setyoratna. Wanita 28 tahun ini mengatakan ingin netral. "Saya pribadi mendukung saudara-saudara kita yang sedang tertindas di Palestina," ucap warga Kecamatan Kota, Kota Kediri ini.
Apabila ada kebijakan dari pemerintah agar tidak membeli atau menggunakan produk atau brand yang mendukung Israel, maka ia akan mematuhi. Hal itu sebagai bentuk dukungan untuk warga Palestina.
Editor : Anwar Bahar Basalamah