Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Disdik Kota Kediri Evaluasi agar Sekolah Lima Hari dan Diniyah Bisa Berjalan Dua-duanya

Ayu Ismawati • Rabu, 25 Oktober 2023 | 17:21 WIB

SUSUT: Hanik Solikatin, 45, guru madrasah diniyah di Kelurahan Tempurejo, Pesantren mengajar anak didiknya. Pemberlakuan sekolah lima hari membuat puluhan siswanya peretel.
SUSUT: Hanik Solikatin, 45, guru madrasah diniyah di Kelurahan Tempurejo, Pesantren mengajar anak didiknya. Pemberlakuan sekolah lima hari membuat puluhan siswanya peretel.

KOTA, JP Radar Kediri–Aduan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FDKT) ke DPRD Kota Kediri tentang dampak pemberlakuan sekolah lima hari yang menggerus siswa madrasah, mendapat respons dari pengelola madrasah diniyah (madin). Pembelajaran yang berlangsung sore itu kurang diminati karena banyak siswa yang kelelahan.

Seperti diungkapkan oleh Hanik Solikatin, 45, salah satu guru Madrasah Diniyah Ula Al-Hidayah. Menurutnya, jumlah siswa di madrasah tempatnya mengajar berkurang puluhan anak. “Ada sampai 30 persen pengurangannya,” kata pengajar madrasah di Kelurahan Campurejo, Mojoroto itu.

Mayoritas anak yang tidak lagi mengaji beralasan mereka kelelahan setelah pulang sekolah. Apalagi, setelah sekolah mereka juga masih harus les tambahan sampai jelang Maghrib.
Hanik mengungkapkan, selama ini madrasah banyak mengajar anak-anak usia SD. Pendidikan non-formal yang berdiri sejak 1984 lalu itu siswanya mulai menyusut setelah pemberlakuan sekolah lima hari. “Kalau pulangnya sore seperti sekarang, kadang masih ada yang harus les. Akhirnya nggak sempat ke madin,” lanjutnya.

Dengan pola belajar anak-anak yang terbaru, diakui Hanik jika madrasah diniyah yang menerapkan pendidikan di waktu Ashar terdampak paling parah. Mayoritas madrasah memulai pembelajaran pukul 16.00-17.00.

Baca Juga: Tak Mau Afi Farma Terulang, BPOM Gandeng Pemda Awasi Peredaran Obat dan Makanan
 
“Kalau madrasah yang di pesantren-pesantren biasanya malam atau habis Maghrib. Kalau yang di desa-desa gini ya biasanya sore,” terangnya.

Lebih jauh Hanik menuturkan, pada umumnya madrasah di pelosok tidak memiliki sistem keanggotaan yang kaku. Artinya, anak tidak secara resmi terdaftar sebagai siswa di sana. Rata-rata siswa datang atas ajakan teman yang juga mengaji di sana. “Makanya kalau di madrasah desa itu mungkin dorongan orang tua (agar anak disiplin menghadiri madin) juga tidak sebesar di pesantren,” tandas Hanik tentang faktor lain penyebab menyusutnya jumlah siswa.

Photo
Photo


Terpisah, Pengasuh TPQ Darussalam Kelurahan Tosaren, Pesantren, Moh. Salim juga menyebut jumlah siswa di madrasah yang dikelolanya susut. “Penurunannya sekitar 10 persen karena banyak anak yang kepayahan,” akunya.

Madrasah yang memiliki siswa 125 anak itu pun melakukan penyesuaian. Begitu sekolah lima hari diberlakukan secara serentak, madin juga meliburkan siswa di hari Sabtu. “Jadi pembelajaran hanya Senin sampai Jumat,” paparnya.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri memastikan pihaknya akan melakukan evaluasi kebijakan sekolah lima hari. Meski demikian, disdik menyebut evaluasi yang dilakukan bukan berarti membatalkan kebijakan yang ditetapkan sejak 2017 silam itu.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan menyebut, secara detail pihaknya masih akan melakukan pendalaman. Sebab, selama ini tidak ditemukan kendala dalam pelaksanaan kebijakan itu di sekolah. “Menurut laporan guru dan kepala sekolah memang tidak ada masalah (penerapan sekolah lima hari, Red),” kata Anang.

Baca Juga: Semakin Dekat dengan Prodamas Plus Award 2023, Ini Persiapannya

Meski demikian, Anang tak menutup mata jika kebijakan tersebut berdampak pada lembaga pendidikan non-formal. Terutama madin dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). “Lembaga non-formal ini juga kami pantau setiap hari. Tinggal titiknya di mana, itu yang akan kita evaluasi. Agar ini bisa berjalan dua-duanya,” beber Anang tentang kompromi yang akan dilakukan merespons permasalahan tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Komisi C DPRD Kota Kediri menggelar rapat dengar pendapat dengan FKDT Kota Kediri. Mereka mengklaim jumlah siswa madin tergerus hingga 40-50 persen. Di Kota Kediri total ada 108 madin.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Fullday #dampak #dprd #sekolah