Cukup klik dengan jari, konsumen zaman now bisa mendapatkan pakaian yang diingini. Tinggal menunggu barang datang ke rumah, itupun dengan harga murah. Namun, di sisi lain, pedagang-pedagang di pasar tradisional terancam gulung tikar.
Diana terus menyapa setiap pengunjung Pasar Bandar yang melintas di dekat kiosnya. Sambil duduk di kursi plastik, gadis ini mencoba merayu sang pengunjung. Menawarkan berbagai jenis pakaian. Daster, baju batik, hingga jilbab.
“Cari apa Mbak?” sapanya, dengan nada tanya, pada seorang wanita yang melintas di deretan baju aneka warna.
“Lihat-lihat saja dulu boleh kok,” sambungnya, ketika melihat yang dia sapa tak menghentikan langkahnya.
Toh, upaya persuasifnya itu tak banyak membuahkan hasil. Dua jam lebih, sejak dia membuka kios pakaiannya, tak satu orang pun pembeli datang. Meskipun orang yang melintas tergolong ramai. Mereka silih berganti melintasi deretan pakaian yang tergantung di gondola.
“Sehari-hari ya begini, sepi. Tapi nggak menentu juga,” aku perempuan asal Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu.
Saking sepinya, terkadang hanya ada dua sampai tiga pembeli dalam sehari! Setidaknya selama jam kerjanya, mulai pukul 07.30 hingga 16.00. Setelah itu memang bosnya-si pemilik kios yang melanjutkan berjualan.
“Dulu biasanya ramai tiap awal bulan atau weekend (akhir pekan, Red). Sekarang weekend saja cuma satu sampai tiga orang (pembeli) saja,” keluh gadis 21 tahun itu.
Senada dengan Diana, Dwi Kholisatul juga mengeluhkan semakin sepinya industri pakaian di pasar tradisional. Perempuan pemilik kios pakaian di Pasar Setonobetek itu mengaku tak sanggup bersaing harga dengan pedagang online atau online shop (olshop).
“Misal saya kulakan (beli barang, Red) celana kulot harganya saja sudah Rp 30 ribu. Ada tetangga saya beli di online harganya Rp 19 ribu. Bebas ongkir lagi,” ujarnya.
Kholis –sapaan akrabnya—tak bisa berbuat banyak. Sebab, harga yang ditawarkan dari tengkulak sudah ditetapkan. Yang berbeda dengan produk yang dijual secara online.
“Sekarang sehari sering cuma dapat Rp 25 ribu sampai Rp 80 ribuan. Itu masih dipotong bayar retribusi. Pokoknya kira-kira mulai setelah Hari Raya ini sepi terus,” aku perempuan 52 tahun itu.
Dengan kondisi itu, ia pun harus memutar otak agar pembeli tetap mau belanja di kiosnya. Pun dengan menjaga langganan agar tak kabur. Sebab, tak sedikit pembeli yang hanya bertanya tanpa membeli. Lebih parahnya, membandingkan dengan harga yang ditawarkan olshop hingga pedagang pinggir jalan.
“Sering ada yang tanya-tanya, terus bilang, Di online aja justru lebih murah. Ya mangga beli saja di online karena harga kulakannya saja memang sudah beda,” gerutunya. Pembeli seperti itu, menurutnya, sering kali langsung beranjak pergi saat merasa harganya tak seperti di e-commerse.
Untuk mengakali semakin sedikitnya pembeli, Kholis harus berjuang ekstra. Di antaranya menjaga variasi produk agar selalu baru. Pun dengan belajar ilmu-ilmu pemasaran untuk menggaet pembeli.
“Kalau saya pokoknya harus tetap ada model-model yang baru. Kadang kalau sudah ada pembeli yang cocok sama model-modelnya, satu orang itu bisa langsung memborong sampai habis sejuta lebih,” ungkapnya.
Termasuk dalam mempertahankan pelanggan, juga jadi poin penting. Salah satunya dengan ‘jemput bola’ kepada pelanggan.
“Kalau saya tiap ada barang baru saya upload di status Whatsapp. Atau orang datang ke sini, naksir sama baju tapi uangnya gak cukup. Kata saya bisa dicicil, asalkan barangnya baru bisa diambil setelah lunas. Jadi kalau saya jualan itu nggak kaku,” pungkasnya.
Lipsus Pasar Tradisional di Kediri yang Terjepit Online Shop: Dampingi Pedagang, Pemkot Kediri Gali Keluhan
Fenomena pedagang pakaian di pasar tradisional yang terdampak masifnya jual-beli online mendapat reaksi Pemkot Kediri. Pemerintah pun berencana memberikan pendampingan. Sebagai upaya memperkuat mereka menahan gempuran pemasaran produk berbasis online yang kian massif.
“Kami masih mendata seberapa besar efek (online shop) terhadap pedagang di Kota Kediri. Apakah sama dengan kota lain atau berbeda,” terang Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Wahyu Kusuma Wardani.
Ia menegaskan pihaknya saat ini masih merumuskan upaya pendampingan tersebut. Sebagai langkah awal, pemkot akan berkomunikasi dengan pedagang-pedagang konvensional. Tujuannya untuk menampung keluhan-keluhan mereka. Termasuk dari pedagang pasar.
“Laporan langsung ke kami memang belum ada. Tetapi di beberapa komentar kan kelihatan. Memang ada efeknya. Tapi mereka juga rata-rata kreatif. Selain jual secara offline, juga menawarkan secara online,” urainya.
Di luar itu, menurut Wahyu, pemkot juga memfasilitasi pedagang yang kesulitan dalam hal permodalan. Salah satunya lewat koperasi simpan pinjam tingkat rukun warga (RW). Pun dengan pinjaman modal lunak dari BPR atau BRI yang bisa diakses para pedagang. “Kalau memang kaitannya dengan modal,” pungkasnya.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Kediri Katino menyebut, pemerintah perlu mendorong agar pedagang pakaian di pasar bisa ikut memasuki era sekarang. Yakni, era modern di mana kegiatan jual-beli dan pemasaran banyak memanfaatkan kemajuan teknologi.
“Kita tidak bisa memungkiri bahwa di era modern banyak yang online. Dan itu sah-sah saja. Tapi kita harus memberi pembelajaran kepada para pedagang agar bisa ikut di era sekarang,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Kediri itu saat ditemui di Gedung DPRD Kota Kediri kemarin.
Menurut Katino, pembinaan terhadap sumber daya manusia (SDM) pedagang pasar penting dilakukan saat ini. Salah satunya terkait digital marketing.
“Nanti akan kami arahkan ke situ. Jadi SDM-nya pedagang-pedagang inilah yang akan kita bina untuk bisa menyaingi atau mengikuti pangsa modern,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah