Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Angkutan Kota di Kediri: Tak Lagi Ikuti Trayek, Hanya Bergantung Carteran

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 2 Oktober 2023 | 17:43 WIB

 

Photo
Photo

Dulu
, mereka selalu dinanti karena jadi sarana transportasi penting warga perkotaan. Kini, laju angkutan umum ini tersendat-sendat. ‘Laju’ mereka kalah cepat dengan transportasi berbasis online.

Dua jam sudah Jawa Pos Radar Kediri berada di Terminal Tamanan. Menunggu angkutan kota. Berniat memanfaatkan moda transportasi umum tersebut menuju satu tujuan.

Sayang, tak ada satu pun angkot yang kunjung memasuki terminal yang berada di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu. Yang ada justru pengemudi becak dan tukang ojek pangkalan. Mereka ini juga menunggu penumpang yang tak kunjung menghampiri. Memandangi bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP) yang masuk dan keluar terminal.  

“Mikrolet sudah bubar semua. Paling muter kalau waktu anak-anak pulang sekolah. Atau carter-carter,” ujar Sumadi, salah seorang dari tukang ojek, mencoba memberi penjelasan.

Ucapan Sumadi bukan sekadar cemoohan. Memang seperti itulah keadaan angkutan kota yang juga biasa disebut mikrolet tersebut. Mayoritas pemilik armada sudah menjual kendaraannya. Karena sudah tak bisa mencukupi kebutuhan ekonomi yang juga terus meningkat.

Mutmainah salah satunya. Wanita 50 tahun ini, sambil duduk di kursi panjang di teras rumah, bercerita ngenesnya nasib pemilik angkot saat ini. Dulu, warga Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota ini punya dua mobil. Salah satu dikemudikan sendiri oleh suaminya, Ali Murdoko.

Kini, hanya satu armada yang dia punya. Yang satu sudah dia jual karena tak lagi mendatangkan cuan.

“Awal-awal (pandemi) Covid saya jual. Itupun cuma laku enam jutaan (rupiah). Karena mungkin (pembeli) mikirnya sudah nggak bisa dipakai. Angkot sekarang kan sepi, nggak ada penumpang,” keluhnya.

Dulu, ketika masih ramai, harga satu unit angkot masih sangat mahal. Bisa menyentuh Rp 100 juta.

Kini, satu angkot yang tersisa itu berusaha dijaga baik-baik. Dimanfaatkan oleh suaminya. Itupun, jalurnya sudah tak lagi sesuai trayek. Sepinya penumpang membuat mereka merugi bila tetap menyusuri trayek yang ditetapkan.

“Sekarang ya cuma (mengandalkan) carter. Alhamdulillah masih ada langganan. Biasanya ibu-ibu yang mau pengajian. Atau anak-anak SD mau rekreasi juga biasanya carter ke suami saya. Itu pun nggak mesti,” aku ibu dua anak ini.

Seperti halnya kemarin, saat suaminya mengantarkan rombongan ibu-ibu pengajian di sekitar rumahnya. Tarifnya pun ia serahkan kepada penyewa. Baginya, ada penyewa saja sudah sangat mereka syukuri. Dibanding tak ada pemasukan sama sekali.

“Dulu pernah juga langganan ngantar anak-anak sekolah selama Covid. Tapi ya setelah itu nggak jalan lagi karena bensin juga naik, biayanya nggak nyucuk,” keluhnya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mut-demikian wanita ini biasa disapa- mengaku harus tetap mencari pekerjaan sampingan. Bertani jadi pilihan selama beberapa tahun ke belakang.

“Saya aslinya disyukuri saja. Yang penting sehari-hari masih bisa belanja sudah bersyukur. Intinya bisa mencukupi empat kebutuhan pokok; beras, minyak, gula, listrik,” ujarnya.

Semenjak angkot semakin terpuruk, menurutnya, aliansi pengemudi angkot sudah pernah mengajukan saran ke Dinas Perhubungan Kota Kediri. Salah satunya, terkait support rebranding agar geliat angkot bisa kembali hidup. Sayang, menurutnya, tak ada respons berarti dari para pemangku kebijakan tersebut.

“Setidaknya bisa dibantu biar rame lagi. Biar orang-orang tahu kalau angkot itu masih ada. Sebenarnya peminat angkot itu masih banyak. Cuma karena terbatas angkotnya, penumpang jadi nunggu lama. Akhirnya beralih ke ojek online yang cepat. Semenjak itu jadi mikirnya angkot sudah habis semua,” tandasnya.

Mut berharap, keberadaan angkot masih dibutuhkan. Terlebih dengan potensi adanya bandara yang ia harapkan bisa ikut menghidupkan kembali moda transportasi darat tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kediri Didik Catur membenarkan semakin banyaknya angkot yang ‘mati suri’. Jika sebelumnya ada sekitar 24 armada, kini hanya tersisa dua unit angkot. Yakni, Lyn A atau Terminal Ngronggo-Selomangleng pulang-pergi, serta Lyn G atau Terminal Tamanan-Pasar Bawang pulang-pergi.

“Untuk transportasi dalam kota memang regulasinya tetap kami. Yang memberikan izin kami. Mungkin karena semakin banyak operasional transportasi online dan bus-bus AKDP juga masuk kota. Lama-lama mikrolet berkurang. Karena biaya operasional dibanding pendapatan juga berbeda jauh,” ujar Didik.

Senada dengan Mutmainah, Didik menyebut gempuran Pandemi Covid-19 juga jadi titik balik merosotnya pamor angkot. Ditambah dengan program subsidi angkot untuk pelajar yang menurut Didik juga terhenti selama pandemi.

“Dulu untuk menghidupkan angkot dan untuk memfasilitasi anak sekolah agar ada transportasi gratis, akhirnya pemkot bekerja sama dengan organda dengan pemberian subsidi itu. Karena ada refocussing anggaran prioritas untuk penanganan covid, anggaran itu tidak kita dapatkan sejak awal Covid (2020, Red),” terangnya.

Meski begitu, Didik menekankan pihaknya tak menghapus trayek angkot. Hanya saja, kondisi angkot yang semakin sepilah yang menurutnya secara alami membuat para pengemudi angkot secara bertahap beralih profesi.

“Banyak yang beralih ke transportasi lain atau profesi lain,” pungkas Didik.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#angkutan umum #angkot #Trayek #lipsus