Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pengujian Terakhir di Lokasi Pencemaran Air Tempurejo Kediri, Ini yang Akan Dilakukan Tim ITS

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 18 September 2023 | 20:51 WIB

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri-Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya agaknya benar-benar melengkapi pengujian untuk bisa mencari penyebab pencemaran air sumur warga di Kota Kediri secara ilmiah. Hari ini, rencananya tim masih akan melakukan core drill untuk mengambil sampel tanah di area pencemaran.

Untuk diketahui, sebelumnya tim ITS sudah melakukan uji hidrokarbon, melakukan tes geolistrik, hingga mengukur muka air tanah dan kedalaman sumur. “Core drill ini merupakan pengujian yang terakhir,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri M. Anang Kurniawan melalui Sekretaris DLHKP Roni Yusianto.

Lebih jauh Roni menjelaskan, pengukuran muka air tanah dan kedalaman sumur Sabtu (16/9) lalu, salah satunya digunakan untuk memetakan aliran air tanah di lokasi. “Dari sana nanti bisa ditentukan sumber cemarannya,” lanjut Roni.

Baca Juga: . Kabel Nyangkut Truk di Perempatan RS Baptis Kediri Bikin Macet

Nah, core drill yang merupakan uji terakhir dari tim ITS, menurutnya untuk melengkapi serangkaian pengujian tersebut. Dengan diambil sampel tanahnya akan diketahui pasti apakah terjadi pencemaran di lokasi-lokasi tersebut atau tidak.

Sebelumnya, Pakar Geologi ITS Amien Widodo juga mengamini pentingnya pengujian material tanah di kawasan terdampak pencemaran. Selain untuk mencari jejak-jejak cemaran, fungsinya untuk memitigasi pencemaran yang berpotensi semakin menyebar.

“Kalau pencemarannya hanya sekali, maka dia akan jalan terus sampai jauh. Misal pencemarnya hidrokarbon, itu kan lebih ringan dari air. Makanya dia akan jalan terus sampai menghilang,” terang Amien.

Jika cemaran terjadi terus-menerus, polutan akan terus menyebar. Sehingga, perlu pemetaan hidrogeologi yang didalamnya mencakup penelitian terhadap kemampuan tanah menyalurkan air atau permeabilitas.

Baca Juga: Operasi Pasar di Kediri Selesai, Harga Beras Belum Turun

“Tujuannya untuk melihat kecepatannya. Misal dari sini menuju ke sana dengan kemiringan muka air tanah, maka kecepatannya hingga mencapai daerah tertentu akan diketahui. Jadi ketika menyebar itu akan diketahui mengarah ke mana dan dalam waktu berapa lama,” paparnya.

Seperti diberitakan, sebanyak 14 sumur warga di RT 05/II Kelurahan Tempurejo, Pesantren diduga tercemar bahan bakar minyak (BBM). Sejak pertengahan Agustus lalu, mereka mengeluhkan air sumur berbau menyengat mirip bensin.

Pencemaran semakin parah pada Sabtu (9/9) lalu. Di sumur terbuka milik Sulastri, 58, ditemukan polutan berwarna hitam. Di saat yang sama bau mirip minyak di sana juga tercium semakin menyengat. Saat polutan itu disulut dengan api, seketika itu juga langsung terbakar.

Kecurigaan pun sempat mengarah pada timbunan sampah bekas galian batu bata di belakang permukiman terdampak. Kecurigaan yang sama juga mengarah pada SPBU Pertamina 5464135 yang hanya terpisah dengan sebuah gang di utara permukiman terdampak.

Baca Juga: Usai Dikuras, Sumur Warga Tempurejo Kota Kediri yang Tercemar Langsung Disegel

Sebelumnya, Pertamina sudah melakukan pengujian terhadap sampel air yang berbau menyengat mirip bensin pada pertengahan Agustus lalu. Hasilnya, tidak ditemukan kandungan benzene, minyak dan lemak dalam air. Justru, kandungan coliform atau e-coli yang ditemukan melebihi ambang batas baku mutu.

Dengan adanya temuan baru yang menunjukkan kandungan minyak secara visual di rumah Sulastri, Pertamina mulai mengosongkan tangki pendam sejak Selasa (12/9) lalu. Mereka juga menyedot sumur milik Sulastri pada Kamis (14/9) lalu dan menyegel di keesokannya untuk penelitian lebih lanjut.

Di lain sisi, Pemkot Kediri dan ITS Surabaya juga sudah melakukan pengujian hidrokarbon terhadap sampel air tercemar. Hasilnya, ditemukan kadar total petroleum hydrocarbon (TPH) yang tinggi. Seperti di rumah Semi yang paling dekat dengan SPBU, kadar TPH-nya mencapai 16,50 mg/liter. Selain itu, di sumur bor milik DLHKP juga ditemui kadar TPH yang menyentuh angka 14,5. Hasil itu mengindikasikan kandungan minyak bumi atau produk turunannya di dalam air yang juga tinggi.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pencemaran #tercemar #minyak #air tercemar