Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Soal Pencemaran Minyak di Tempurejo Kota Kediri yang Belum Tuntas, Ini Kata Pertamina

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 28 Agustus 2023 | 16:32 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri – Pemkot Kediri telah mengambil beberapa langkah mengatasi pencemaran sumur warga di wilayahnya. Namun, Pertamina yang Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)-nya diduga menjadi sumber cemaran justru belum mengambil langkah. Melainkan hanya memberi bantuan satu galon air kepada warga terdampak.

Saat dihubungi koran ini tentang respons lebih lanjut terkait pencemaran di dekat SPBU 5464135 (sebelumnya disebut SPBU 5464136, Red), Section Head Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Taufiq Kurniawan mengungkapkan, pihaknya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri. Diperkirakan hasilnya keluar 28 Agustus nanti.

“Kalau terus-menerus di-running tanpa membahas hasil (pemeriksaan laboratorium, Red), malah akan menyesatkan masyarakat,” kata Taufiq kepada koran ini tadi malam.

Untuk diketahui, Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengunjungi lokasi air sumur warga yang tercemar pada Kamis (24/8) lalu. Dari pengecekan yang dilakukan oleh orang nomor satu di Pemkot Kediri itu diketahui, air sumur warga mengeluarkan bau menyengat mirip dengan minyak. Di beberapa sumur, airnya juga licin. Selebihnya, Abu yang baru mencelupkan tangannya ke air mengeluh gatal.

Merespons hal tersebut, wali kota dua periode ini langsung menginstruksikan agar air sumur di sana tidak dikonsumsi. Pun dilarang untuk dipakai mencuci dan mandi. Sebagai gantinya, pemkot mengirim sepuluh tandon air yang akan diisi setiap pagi dan sore hari.

Setelah rombongan Abu meninggalkan lokasi, rupanya tim Pertamina Surabaya datang ke lokasi untuk mengambil sampel air. Dikonfirmasi terkait pengambilan sampel air Kamis (24/8) lalu, Taufiq menyebut hal itu sebagai prosedur. Menindaklanjuti pengambilan sampel yang pertama. “Hasilnya tetap menunggu DLH (hasil pemeriksaan DLHKP, Red),” tutur Taufiq.

Sebelumnya, Taufiq menyebut Pertamina sudah menindaklanjuti pencemaran air warga di dekat SPBU 5464135 dengan melakukan pengecekan di SPBU. Yakni, memeriksa sumur pantau, oil catcher, hingga tangka bahan bakar minyak. Hasil pemeriksaan di dua sumur pantau menurutnya tidak ada pencemaran.

Sementara itu, menanggapi pencemaran air sumur warga yang diduga akibat minyak, Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo mengungkapkan, yang harus dilakukan untuk mencari sumber cemaran air bukan hanya dengan memeriksakan sampel air ke laboratorium. Melainkan, juga dengan cara mengukur muka air sumur. Sebab, saat musim kemarau seperti sekarang, muka air tanah sering mengalami penurunan.

“Yang perlu diketahui, muka air sumur yang ada di daerah itu kedudukannya dengan sungai, saluran, atau SPBU itu seperti apa. Kalau posisinya di bawahnya, kemungkinan tercemar besar,” ujar Amien.

Photo
Photo

Setelah mempelajari beberapa fakta, hingga denah lokasi, peneliti senior ini tak menampik adanya kemungkinan sumber cemaran dari SPBU. Meski demikian, ada pula kemungkinan lain. “Bisa juga dari sungai. Siapa tahu ada yang membuang limbah ke situ, akhirnya meresap ke air tanah. Tetapi syaratnya, lokasi terdekat dengan sungai harusnya tercemar lebih berat,” lanjutnya tentang cara mengenali sumber cemaran.

Selebihnya, untuk memastikan sumber cemaran tetap harus dilakukan pengukuran. Yaitu meliputi pengukuran kedalaman sumur dan muka air tanah. Dari sana akan terlihat apakah air tanah mengalir atau diam. “Bisa saja mengalir karena beda muka air sumur. Kalau sumbernya (asal pencemaran) ada di hulunya, maka semua akan terkena. Kalau sumbernya di hilir, berarti yang kena hanya sebagian. Jadi memang harus diukur dulu,” paparnya.

Cara yang paling sederhana menurut Amien adalah melihat pola cemaran dari tingkat keparahannya. Semakin dekat dengan sumber pencemar, baunya akan lebih menyengat. “Misalnya sumur penduduk yang paling dekat (dengan sumber pencemaran) harusnya lebih menyengat dibandingkan yang jauh,” tandasnya.

Terkait dugaan cemaran air yang berasal dari hasil pengurukan lubang bekas galian batu bata dengan sampah, menurut Amien kecil kemungkinan. Sebab, air yang tercemar sampah akan berbau seperti sampah. “Agak busuk sedikit baunya. Kalau memang itu minyak, tesnya dengan pengujian hidrokarbon. Kalau bau sampah, pasti berbeda dengan bau solar,” paparnya.

Untuk mengurai masalah ini, menurut Amien pihak terkait harus terbuka dalam proses pengukuran muka tanah. Yakni, harus mencakup semua titik kawasan. Sehingga dengan pengukuran dan pemetaan itu, akan diketahui dengan akurat arah aliran air tanah.

“Kalau misal pencemarnya dari sini (SPBU, Red), ada di tengah, maka yang tercemar berat yang ke arah hilirnya. Tapi kalau misalnya dari sungai, maka akan tercemar semuanya. Agak rumit memang, tapi harus dipetakan agar fair,” jelasnya.

Terkait dugaan kebocoran tangki minyak SPBU, menurut Amien itu juga harus dibuktikan dengan adil. Salah satunya terkait kedalaman sumur pantau SPBU yang harus dibandingkan dengan sumur milik warga yang tercemar. “Harus fair semuanya dan diperbaiki bersama. Nanti juga bisa untuk pembelajaran ke depannya,” imbuh dosen geologi dari Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut.

Seperti diberitakan, sedikitnya ada 14 sumur rumah warga di RT 05/II Kelurahan Tempurejo, Pesantren yang diduga tercemar minyak. Dugaan itu muncul dari bau air yang mirip solar. Sebagian lain mengatakan mirip dengan bensin. Dugaan sumber cemaran berasal dari SPBU Pertamina adalah karena lokasi rumah warga yang tercemar hanya dipisahkan gang. Jaraknya kurang dari 100 meter.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah