KEDIRI, JP Radar Kediri–Sumur belasan rumah warga di Kelurahan Tempurejo, Pesantren diduga tercemar minyak. Hal tersebut muncul setelah warga mengeluhkan air tanah mereka berbau seperti minyak atau oli. Menindaklanjuti hal tersebut, petugas dari Dinas Kesehatan Kota Kediri, Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Kediri, serta aktivis lingkungan Ecoton melakukan pengujian kualitas air.
Sedikitnya ada 14 KK warga di RT 05 RW 02 Kelurahan Tempurejo yang mengeluhkan sumur mereka tercemar minyak dan berbau. Selain itu, saat dipakai mandi warga merasakan residu yang tertinggal di kulit.
“Rasanya licin (di kulit, Red) dan berbau,” ujar Semi, 52.
Baca Juga: Pemkab Kediri Gerojok Rp 140 Miliar untuk Atasi Kasus Stunting, Ini Peruntukkannya
Beberapa warga lain menyebut air di rumah mereka berbau seperti solar. Keluhan itu muncul di waktu yang berbeda. Awalnya, hanya ada lima rumah yang melaporkan cemaran minyak pada Minggu (13/8) lalu. Beberapa hari kemudian bertambah menjadi sembilan rumah.
“Sampai sekarang ada 14 rumah yang terdampak. Mulai dirasakannya sudah sejak seminggu sebelum pengujian air. Tapi sampai sekarang belum tahu hasilnya bagaimana,” ujar Ketua RT 05 Abdullah Mubarok.
Lebih jauh Abdullah menjelaskan, sehari selang keluhan cemaran minyak, pada Senin (14/8) lalu DLHKP Kota Kediri dan aktivis lingkungan Ecoton menguji kualitas air. Dari pengujian awal dengan lima parameter, tim Ecoton menyimpulkan hasil penelitian sederhana menunjukkan kualitas air tidak melewati ambang batas baku mutu.
“Jika dibandingkan dengan peraturan Kemenkes No. 02/2023, semua
hasil pengujian dengan parameter di bawah baku mutu. Artinya bisa dikonsumsi,” ujar Aktivis Lingkungan Ecoton Firly Mas’ulatul Janah yang ikut menguji kualitas air pada Senin (14/8) lalu.
Meski begitu, menurut Firly, bau air juga jadi parameter kelayakan air untuk dikonsumsi. “Di permenkes ada keterangan indikator bau, itu harusnya tidak berbau. Tapi kalau di sana, ada bau seperti solar. Dan rata-rata semua merasakan bau yang sama,” papar Firly.
Sembari membutuhkan penelitian lebih lanjut, Firly mengimbau warga tak menggunakan air untuk kebutuhan konsumsi. Salah satunya karena faktor bau yang masih belum diketahui asalnya. “Alat kami kurang. Kalau lewat laboratorium, lebih akurat untuk melihat kandungan airnya,” jelasnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di beberapa rumah terdampak, tingkat bau di tiap sumur warga beragam. Beberapa di antaranya memunculkan bau yang cukup menyengat. Aroma yang tercium serupa bahan bakar minyak. Secara kasatmata, beberapa air sumur tak menunjukkan perubahan warna atau lapisan minyak di atasnya. Namun saat dipegang, tertinggal residu di tangan. Tangan terasa licin seperti baru memegang lilin.
Baca Juga: Jembatan Alun-Alun Bandar Dibuka, Lalu Lintas di Jl PB Sudirman Kota Kediri Normal Kembali
“Kalau dilihat memang bening. Tapi ada juga yang melihat seperti ada pelanginya waktu melakukan pengetesan. Rasanya juga getir,” urai Firly.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri M. Anang Kurniawan melalui Sekretaris Dinas Roni Yusianto mengungkapkan, pihaknya telah mengirimkan sampel air dari lima titik sumur untuk dilakukan pengujian. Hingga kemarin pihaknya masih menunggu hasil pengujian dari laboratorium di Mojokerto.
“Kami juga tidak bisa menduga-duga penyebabnya. Karena secara visual, tidak kelihatan ada lapisan pelangi. Beberapa memang berbau,” aku Roni.
Terkait hasil pengujian, menurut Roni baru bisa ditentukan paling cepat dalam dua minggu hingga sebulan. Meski demikian, menurut Roni air masih dapat digunakan untuk keperluan non-konsumsi. “Sementara ini untuk kebutuhan luar (mandi dan cuci baju) masih nggak apa-apa,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah