Agustusan kental dengan gemerlap lampu hias, aneka penjor, kemeriahan lomba, serta panggung hiburan. Sayang, ada yang sedikit terlupakan. Yaitu edukasi tentang sejarah kemerdekaannya.
Malam menjelang 17 Agustus 2023 di Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Di Sumber Banteng, malam itu, berkumpul puluhan anak-anak. Sebagian disertai orang tuanya.
Tak ada suasana pesat. Juga jauh dari ingar-bingar lomba. Suasana yang terbangun justru khidmat. Karena mereka tengah menyaksikan acara nonton bareng film perjuangan. Judulnya ‘Jenderal Soedirman’.
“Wah, senang sekali anak-anak kemarin. Meskipun yang diputar film sejarah, tapi mereka cukup antusias,” ujar Sudarsono. Lelaki ini adalah panitia nonton bareng itu.
Nonton bareng film sejarah di alam terbuka dipilih sebagai sarana edukasi. Menurut Sudarsono, anak-anak usia sekolah zaman sekarang banyak yang semakin lupa dengan sejarah. Salah satunya karena banyak terpapar gadget.
“Sekarang memprihatinkan. Anak-anak cuma tahu main HP dan game. Tidak mengerti sejarah. Intinya untuk edukasi dan sarana bagi mereka mengenal pahlawan-pahlawan bangsa,” jelasnya, terkait acara 17-an yang dihadiri puluhan anak-anak usia sekolah dasar itu.
Memang, banyak cara masyarakat dalam memeriahkan bulan kemerdekaan. Yang paling umum, adalah dengan mengadakan perlombaan. Semakin berjalannya waktu, masyarakat semakin kreatif dalam mengkreasikan perlombaan. Sebut saja lomba panjat pinang, balap karung, lomba terompah beregu, hingga menangkap itik. Semuanya dalam rangka menumbuhkan rasa kebahagiaan di momen merdekanya Indonesia.
Harus diakui, semua kegiatan seperti lomba-lomba itu memang membangkitkan kegairahan dalam merayakan kemerdekaan. Namun, esensi tentang edukasi sejarah bangsa banyak yang tertelan segala keramaian itu.
Apalagi, di balik lomba-lomba itu juga mengintai bahaya. Seperti yang terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara. Seorang peserta panjat pinang tewas tertindih teman-temannya. Tentu, semua orang tidak menginginkan tragedi seperti itu terjadi.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan pun menekankan, perlombaan harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas peserta.
“Hampir seluruh sekolah mengadakan perlombaan di sekolah masing-masing. Kami menganjurkan saat itu diikuti anak-anak SD, ya perlombaannya yang sesuai dengan usianya. Begitu pula di SMP,” ujar Anang.
Ia mencontohkan bakian (terompah) beregu yang juga sering diperlombakan. Meski nampak sederhana, namun bisa berisiko jika dilakukan oleh anak belia. “Khusus untuk lomba tarik tambang, bakiak, itu untuk SD kelas 4, 5 dan 6. Yang balap kelereng dan karung itu untuk anak SD kelas 1, 2 dan 3. Untuk anak PAUD mewarnai. Jadi kami bedakan,” imbuhnya yang juga menyelenggarakan lomba 17-an untuk pelajar PAUD dan SD di halaman Balai Kota Kediri pada Sabtu (19/8) lalu.
Semarak bulan kemerdekaan juga seharusnya diselenggarakan di tempat-tempat yang aman. Khususnya bagi anak-anak anak yang tak luput ikut merayakan lomba 17. Salah satunya, dengan memanfaatkan ruang terbuka hijau (RTH).
“Silakan kepada masyarakat umum, apalagi sekolah-sekolah, untuk memakai RTH-RTH kami untuk digunakan memperingati kemerdekaan. Di situ ada tempat-tempat yang space-nya sangat cukup,” pungkas Anang yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri itu.
Lomba-Lomba Agustusan Jadi Pemupuk Solidaritas di Tengah Individualitas
Banyak pembelajaran dari ajang perayaan Agustusan. Salah satunya adalah momentum terciptanya penguatan rasa solidaritas di tengah masyarakat.
“Yang dipahami bukan wujud lombanya. Melainkan partisipasi dari manusia sebagai bagian dari masyarakat di level terkecil. Seperti rukun tetangga hingga di level yang lebih tinggi,” ujar dosen Departemen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya Genta Mahardhika Rozalinna.
Perempuan yang akrab disapa Genta itu menambahkan, penguatan solidaritas bukanlah perkara mudah. Terlebih di era sekarang dan di tengah masyarakat perkotaan yang cenderung individualistik.
“Misalnya mengkoordinir kegiatan 17-an di pedesaan akan terasa lebih mudah dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di kota. Alasan sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu berkumpul jadi tantangan,” imbuhnya.
Padahal, kegiatan yang mengarah pada pemupukan solidaritas antarwarga itu penting dan harus dijaga. Nilai moral seperti saling membantu dan menghargai antartetangga, menurut Genta, dapat ditumbuhkan dari rasa solidaritas yang tinggi.
Menyikapi semakin individualisnya masyarakat di perkotaan, menurut Genta hal tersebut justru bisa menjadi tantangan. Salah satunya bagi panitia agar bisa memilih perlombaan yang sesuai dengan kebutuhan warga. Termasuk di dalamnya mempertimbangkan partisipan agar perayaan 17-an tetap bisa terlaksana.
Ia mencontohkan, partisipasi perempuan dan laki-laki di desa dan perkotaan cenderung berbeda. Jika di desa, keterlibatan ibu-ibu dan bapak-bapak bisa dilaksanakan serentak. Sementara di perkotaan, tak sedikit ibu rumah tangga yang juga berkarir. Sehingga membatasi keterlibatan mereka dalam kepanitiaan 17an.
“Artinya penglibatan anak-anak juga menjadi penting. Mereka juga punya peran menentukan lombanya sendiri secara partisipatif. Itu bisa jadi cara awal anak-anak belajar berorganisasi di lingkungan rumah,” pungkasnya.
Di sisi lain, sosiolog Novi Catur Muspita menyoroti mulai bergantinya aneka lomba Agustusan dari tradisional ke modern. “dalam konteks sosiologi ini adalah fonemena atau perubahan sosial,” terang ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Islam Balitar.
Di satu sisi, Novi menyebut fenomena ini memprihatinkan. Karena lomba tradisional tersebut memiliki makna serta kearifan lokal. Juga menyimbolkan patriotisme.
Kini, perlombaan tradisional tersebut tergantikan dengan perlombaan yang menggunakan gawai. Akhirnya membuat semangat nasionalisme, kebersamaan, kekompakan, solideritas akan sangat menurun. Tentu saja hal tersebut juga akan memengaruhi nilai social. Membuat membuat seseorang menjadi individualistik.
Novi juga menyoroti kegiatan lain seperti panggung gembira atau malam tirakatan sebelum hari kemerdekaan. Kebiasan-kebiasan tersebut harus dicermati, agar tidak meninggalkan makna filosofinya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
“Jangan sampai nantinya masyarakat dan generasi muda ini hanya sekedar hura-hura, dan nantinya berdampak kejahatan atau perilaku mabuk-mabukan,” ingat Novi.
Editor : Anwar Bahar Basalamah