Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Antisipasi Kelangkaan, Pertamina Gelontorkan Puluhan Ribu Elpiji Melon di Kediri Raya

Karen Wibi • Jumat, 28 Juli 2023 | 17:17 WIB

 

SABAR MENANTI: Puluhan warga mengantre untuk membeli gas elpiji 3 kg di agen yang terletak di Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri kemarin (27/7)
SABAR MENANTI: Puluhan warga mengantre untuk membeli gas elpiji 3 kg di agen yang terletak di Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri kemarin (27/7)

KEDIRI, JP Radar Kediri –
Antrean masyarakat pencari elpiji subsidi 3 kilogram (kg) masih terjadi hingga kemarin. Di sejumlah wilayah di Kediri Raya, masyarakat masih berburu elpiji melon ini. Demi mendapatkan satu tabung, mereka pun harus mengantre berjam-jam di pangkalan resmi Pertamina.

Seperti yang terjadi di pangkalan elpiji Jalan Kapten Tendean Kota Kediri. Warga sudah menunggu sejak pagi. Sebelum truk yang mengirim elpiji tersebut tiba. Tabung melon kosong berbaris di sepanjang trotoar.

“Setelah antar anak sekolah saya langsung keliling (cari elpiji). Sudah di tiga pangkalan, semua kehabisan. Saya juga sudah lihat daftar pangkalan yang diumumkan medsos pemkot kemarin,” keluh Nia, 31, warga yang ikut mengantre.

Wanita ini mengatakan sudah mengantre tiga jam lamanya. Ibu rumah tangga ini pun menyayangkan tidak adanya nomor antrean. Padahal, mereka yang hendak membeli sudah mengular sejak pagi.

“Harusnya dikasih nomor antrean. Karena kami kan juga harus ngurusi lainnya. Ini saja saya mau jemput anak bingung gimana,” keluhnya, mulai panik karena tak kunjung mendapat elpiji.

Terpisah, peningkatan permintaan di pangkalan ditanggapi serius oleh pPertamina. Kemarin, perusahaan negara ini menggelontorkan sejuta tabung elpiji 3 kilogram tambahan untuk wilayah Jawa Timur. Alokasinya termasuk untuk wilayah Kediri Raya dan Kabupaten Nganjuk.

“Ini merupakan upaya kami mengamankan dan mempertebal stok di pangkalan. Karena sekarang semua sudah tahu bahwa pembelian (elpiji subsidi, Red) harus di pangkalan. Dikhawatirkan setelah sosialisasi berjalan bagus ada peningkatan permintaan di pangkalan,” ujar Section Head Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Taufiq Kurniawan.

Taufiq menjelaskan, untuk Kota Kediri akan mendapat tambahan tabung elpiji  subsidi sebanyak 7.280 unit. Penambahan itu naik 39,3 persen dari rata-rata konsumsi normal harian warga Kota Kediri yang berkisar 18.502 tabung.

Sementara untuk Kabupaten Kediri akan menerima tambahan 15.680 tabung lebih banyak dari rata-rata konsumsi harian sebanyak 62.589 tabung. Itu meningkat 25,1 persen. Kemudian Kabupaten Nganjuk bertambah 12.320 lebih banyak dari rata-rata konsumsi harian. Yakni, 42.091 tabung atau naik 29,3 persen.

“Penambahannya memang sesuai dengan kebutuhan masing-masing kabupaten dan kota. Karena permintaan pasti berbeda,” tambah Taufiq.

Adapun untuk distribusi di masing-masing pangkalan, menurut Taufiq, jumlah tiap harinya tidak bisa ditetapkan. Pun dengan penggelontoran kuota tambahan itu yang tidak akan dilakukan dalam satu waktu. Melainkan secara periodik selama 25 – 31 Juli 2023. Namun demikian, untuk Kota dan Kabupaten Kediri baru mulai dilaksanakan kemarin (27/7) hingga 31 Juli mendatang.

“Tidak sejumlah itu langsung ditambahkan di satu pangkalan dan dalam hari yang sama. Jadi kami melihat peningkatan permintaannya,” urai Taufiq sembari menambahkan, kebijakan penambahan alokasi ini hanya difokuskan pada wilayah-wilayah yang peningkatan permintaannya tinggi.

Taufiq berpendapat, peningkatan permintaan di pangkalan ini juga dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebijakan elpiji subsidi tepat sasaran. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 37.K/MG.01/MEM.M/2023 tanggal 27 Februari 2023 yang mengatur tentang elpiji tepat sasaran, pembelian oleh individu yang termasuk kelompok konsumen penerima hanya dilakukan di pangkalan resmi pertamina.

Selama pemberlakuan ini pun, menurut Taufiq beberapa masyarakat secara sukarela sudah beralih ke elpiji non-subsidi. Mereka adalah pembeli elpiji subsidi yang pada saat pendataan NIK dinyatakan tidak berhak menerima subsidi.

“Beli di pangkalan paling gampang untuk mendapatkan elpiji sesuai harga dan stoknya pasti aman dan melimpah,” pungkas Taufiq sembari berharap, dengan ditambahkannya stok di daerah bisa meningkatkan rasa aman bagi masyarakat.

Photo
Photo

Pembelian Tabung Non-subsidi Meningkat
Kelangkaan elpiji 3 kilogram membuat sebagian warga memilih pindah ke non-subsidi. Yang disasar tentu saja tabung pink berisi 5,5 kilogram. Sayang, sebagian merasa kecewa karena tabung jenis ini juga sulit didapat. Terutama bila membeli di jaringan toko modern.

“Waktu mau beli di toko modern tidak boleh. Mereka hanya menyediakan isi ulangnya saja,” aku Tita, warga Ngadiluwih.

Pihak toko modern mengakui mereka memang tidak melayani pembelian tabung elpiji 5 kilogram. Hanya melayani pembelian isi ulangnya saja.

“Untuk di sini tidak menjual tabung untuk ukuran 5,5 kilogram,” aku Tio Fanta, seorang karyawan toko modern berjaringan yang berada di Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Menurut Tio larangan membeli tabung elpiji 5,5 kilogram itu diterapkan di jaringan tokonya sejak lama. Bahkan sebelum terjadi kelangkaan elpiji beberapa minggu lalu.

Lalu apa alasannya? Menanggapi pertanyaan itu, Tio mengatakan jika hal tersebut merupakan perintah dari pusat. Namun, dia memastikan, bukan karena kelangkaan elpiji 3 kilogram saat ini.

“Jadi memang sudah sejak bertahun-tahun yang lalu tidak boleh dibeli,” pungkas Tio sembari mengatakan harga isi ulang gas elpiji 5,5 kilogram di tempatnya adalah Rp 106 ribu.

Berbeda dengan di toko modern, di pangkalan tabung elpiji 5,5 kilogram masih diperjual-belikan. Meskipun di beberapa tempat stoknya juga habis.

Salah satu pangkalan yang menyediakan tabung warna pink itu adalah milik Rudi Santoso, di Desa/Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Menurut Rudi, kelangkaan di elpiji 3 kilogram memengaruhi penjualan tabung non-subsidi itu. Setelah ada kelangkaan elpiji melon banyak warga yang mulai memborong elpiji non-subsidi tersebut. Tidak hanya untuk isi ulang, namun juga membeli tabung.

“Baru saja kemarin ada yang mborong 10 tabung gas yang ukuran 5,5 Kg,” terangnya.

Rudi menerangkan jika satu tabung gas 5,5 kilogram harganya Rp 380 ribu. Sedangkan harga isi ulangnya Rp 110 ribu, lebih mahal sedikit dibanding di toko modern berjaringan.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan jika tidak ada kelangkaan untuk elpiji ukuran 5,5 kilogram. Hingga kemarin, kelangkaan hanya terjadi untuk elpiji yang bersubsidi saja.

Bagaimana dengan toko modern yang tidak menjual tabung elpiji 5,5 kilogram? Menanggapi pertanyaan itu, Tutik menyebut jika kewenangan menjadi milik perusahan masing-masing. Karena seperti di pangkalan, Tutik mengatakan jika tabung elpiji 5,5 Kg bebas untuk diperjual belikan.

“Untuk elpiji non-subsidi masih aman. Semua bisa membeli tanpa setor fotokopi KTP atau KK,” tutupnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#lpg 3kg #lpg #lpg langka #gas lpg 3 kg