Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengulik Lagi Asal-usul Penetapan Hari Jadi Kota Kediri, Mengapa 27 Juli?

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 27 Juli 2023 | 17:09 WIB

 

Photo
Photo

Hari ini
, 27 Juli, Kota Kediri merayakan hari jadinya yang ke-1.144. Harus diakui, banyak kritik sejak hari jadi itu ditetapkan 22 tahun lalu. Toh, para  perumusnya punya dasar sejarah yang kuat.

Dua puluh dua tahun silam. Tepatnya pada 2001, di era Wali Kota H A. Maschut. Ada tiga pertimbangan yang diusulkan untuk menetapkan hari jadi Kota Kediri. Usulan yang diajukan ke dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).

Tiga pertimbangan itu hasil kerja dari tim penelusuran. Yang sudah digodok dari beberapa sumber sejarah serta sarasehan. Tiga usulan itu adalah Staatsblad Nomor 148 tentang pembentuan daerah administratif di era kolonial Belandan, berdasarkan Prasasti Hantang, dan adanya  penyebutan Bumi Kadhiri di Prasasti Kamulan.

“Berangkat dari sarasehan itu, teman-teman di prodi sejarah berdiskusi. Rasa-rasanya kok kurang pas (tiga sumber data yang dijadikan nominasi itu),” terang Zainal Afandi, yang menjadi salah satu anggota tim peneliti hari jadi Kota Kediri waktu itu.

Pria yang kini menjadi rektor Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini membeberkan, beberapa aspek ketidaksesuaian itu karena alasan beragam. Nominasi pertama misalnya, Staatsblad Nomor 148, dirasa kurang memiliki nilai nasionalisme. Staatsblad itu adalah produk hukum pemerintah kolonialis. Yang tujuannya melindungi kepentingan warga Belanda di Kediri.

“Terlalu zeno-sentris atau kolonial sentris. Bertentangan dengan upaya pembentukan karakter bangsa,” ucapnya.

Sedangkan yang kedua, Prasasti Hantang, substansinya adalah penghargaan Raja Jayabaya kepada masyarakat Hantang, yang kini dikenal dengan Ngantang, wilayah yang masuk Kabupaten Malang. Dianggap kurang pas bila ditujukan untuk warga Kota Kediri.

“Yang ketiga, Prasasti Kamulan, kalau tidak salah isinya menyebut Bumi Kadhiri. Kalau sudah menyangkut Bumi Kadhiri itu tidak hanya wilayah Kediri. Tetapi wilayah Kerajaan Kediri yang membentang dari Surabaya sampai Ponorogo,” urai Zainal. Artinya, maknanya terlalu luas untuk disimpulkan jadi dasar penentuan hari jadi.

Maka, muncullah gagasan alternatif. Yaitu melakukan penelitian lagi secara independen. Hasilnya, tim menjatuhkan pilihan pada Prasasti Kwak 801 Saka sebagai sumber data primer dalam riset. Prasasti yang kini menjadi arsip negara di Museum Nasional itu dinilai memuat bukti sejarah tertulis dari embrio komunitas masyarakat Kota Kediri.

“Jadi di dalam Prasasti Kwak 1 memuat anasir pertanggalan berupa tahun saka 801 bulan Srawana tanggal 5 paroh terang atau pancamisuklapakso hari wurukung, hari umanis, hari soma,” papar Zainal.

Jika diubah ke tarikh masehi, tanggal itu jatuh pada Senin Legi, 27 Juli 879 masehi. Dari seluruh Prasasti I sampai V yang diteliti, pertanggalan itu termuat dalam Prasasti Kwak I dan II. Praktis, itu jauh sebelum pertanggalan yang mengacu pada Staadblad No 148 Pemerintah Hindia-Belanda, tanggal diberlakukannya administrasi pemerintahan kota.

“Bahasa kami sederhana. Memangnya sebelum munculnya staatsblad, Kota Kediri belum menjadi kota? Secara administratif memang belum. Tetapi secara sosiologis, masyarakat pada waktu itu sudah menjadi kota,” kilah alumnus IKIP Malang-sekarang Universitas Negeri Malang-itu.

Prasasti Kwak bukanlah satu-satunya sumber sejarah yang dipakai untuk menelisik awal kelahiran Kota Kediri. Ada pula Prasasti Harinjing –landasan hari jadi Kabupaten Kediri—yang juga dijadikan sumber data.

“Di dalam Prasasti Harinjing juga menyebut-nyebut tentang raja yang sudah meninggal dan dimakamkan di Kuwak. Kalau dalam konteks Islam kan dimakamkan. Kalau Hindu dibuatkan candi. Lalu ada tentang desa-desa di sekitar Kuwak,” tambahnya.

Berdasarkan penelitian lebih jauh, didapat pula fakta tentang penetapan tanah Sima atau tanah yang dibebaskan dari pajak karena peruntukannya sebagai pembiayaan bangunan suci. Berdasarkan analisis toponimi, tanah sima merujuk pada Ngadisimo, satu lingkungan di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota.

“Itu berasal dari Adhisima. Adhi itu besar, sima itu tanah sima. Jadi tanah sima yang luas,” urai Zainal. Uraian itu mengisyaratkan wilayah Ngadisimo itulah kawasan sawah luas dan subur yang menjadi awal mula komunitas masyarakat tertua di Kota Kediri.

Kwak Tidak Ada di Jateng, Adanya di Kelurahan Ngadirejo
Menetapkan hari jadi satu kota bukan persoalan gampang. Perlu kajian historis yang mendalam. Termasuk memastikan sumber sejarah yang dijadikan acuan itu punya validitas melebihi opsi lain.

Pemilihan Prasasti Kwak sebagai dasar penetapan hari jadi Kota Kediri sempat diragukan. Salah satunya dipicu karena prasasti ini ditemukan di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Jika berkaitan dengan warga Kota Kediri, mengapa prasasti ini justru ditemukan ratusan kilometer jauhnya? Itulah yang beberapa kali dipertanyakan sekelompok masyarakat.

“Prasasti Kwak ini berupa tambra prasasti atau lempengan tembaga. Itu merupakan arsip negara atau kerajaan. Karena itu dikeluarkan oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah. Maka sangat mungkin itu ada di sana. Karena yang di sini harusnya berupa prasasti batu,” terang Zainal Afandi, salah satu peneliti independen penelusuran hari jadi Kota Kediri 2001 lalu.

Selain itu, dalam Prasasti Kwak memuat peristiwa terbentuknya komunitas masyarakat di Wanua (Desa) Kwak yang dianggap sebagai cikal-bakal komunitas Kota Kediri.

Lalu, di manakah letak Desa Kwak ini? “Kwak ya di Ngadirejo itu. Di Kelurahan Ngadirejo, salah satu dusunnya itu Dusun Kuwak,” ujarnya.

Akademisi sejarah dan budaya Sigit Widiatmoko menambahkan, pencocokan itu tidak semata-mata dilakukan tanpa pendalaman. Di luar kajian artefaktual dengan menganalisa Prasasti Kwak I sampai V dan Prasasti Harinjing B dan C, analisis toponimi atau nama-nama daerah juga diterapkan.

“Kami menemukan bahwa nama Kwak itu tidak ada di Jawa Tengah (tempat penemuan prasasti). Itu lebih dekat dengan Kuwak yang berada di Kediri,” tegas Sigit.

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah UNP ini mengatakan, nama Kwak jelas disebutkan dalam Prasasti Harinjing B. Yang notabene jadi dasar penentuan Hari Jadi Kabupaten Kediri yang secara geografis bersebelahan dengan Kota Kediri.

“Karena Prasasti Harinjing terbuat dari batu, tentunya tidak bisa dipindah ke mana-mana. Itulah yang memperkuat kami bahwa Kwak ini menjadi suatu embrio munculnya komunitas di Kediri,” dalih Sigit.

Selain Kuwak, menurut Sigit, turut disebutkan pula beberapa topomini wilayah yang merujuk pada daerah-daerah di Kota Kediri. Di antaranya, Pu Catura=Wonocatur, Pu Menang=Menang, Samgat Bawang=Bawang, Tal=Tinalan, dan kesamaan toponimi wilayah lainnya yang terbentang di sekitar Kota Kediri, Kabupaten Kediri, hingga Kabupaten Jombang.

“Banyak sekali istilah-istilah yang bisa kita jadikan dasar kajian topomini yang menguatkan bahwa Kwak itu ada di Kediri,” tandasnya.

Argumentasi itu pada akhirnya menguatkan keputusan DPRD Kota Kediri untuk memilih Prasasti Kwak sebagai dasar penentuan hari jadi. Keputusan itu menggugurkan tiga pertimbangan yang diajukan oleh tim penelusuran hari jadi yang dibentuk oleh Pemkot Kediri pada waktu itu.

Hingga kini, jejak sejarah itu tetap diuri-uri oleh Pemkot Kediri. Termasuk dengan melangsungkan prosesi Manusuk Sima pada puncak perayaan hari jadi. Dari tahun ke tahun pun, prosesinya selalu diadakan di Lingkungan Kuwak, tepatnya di kawasan mata air yang kini dikenal sebagai Tirtayasa.

“Karena Pucatura diberikan tugas untuk menjaga kesuburan dan sumber mata air, jadi pusatnya (peradaban Wanua Kwak, Red) di sekitar sumber air di Kuwak. Karena itu merupakan wilayah yang tua. Termasuk di daerah perkuburan Ngadisimo,” urai Sigit dengan panjang lebar.

Hal itu sekaligus mengisyaratkan bahwa wilayah di sepanjang aliran air dari Sumber Kuwak (Tirtayasa) itulah yang dimaksud sebagai kawasan tanah sima. Yang luas dan subur. Cikal bakal peradaban Kota Kediri.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#hari jadi #hari jadi kota kediri 1144 #Hari Jadi Kota Kediri #kota kediri