KEDIRI, JP Radar Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menginspeksi mendadak (sidak) di beberapa pangkalan elpiji kemarin (26/7). Setidaknya ada tiga lokasi didatangi orang nomor satu di Kabupaten Kediri itu. Hasilnya, Masbup –sapaan akrabnya– menyebut, masih banyak yang disalahgunakan.
“Saya langsung sidak untuk mencari tahu secara langsung kenapa elpiji bisa langka di pasaran,” terangnya kepada awak media. Ia mendatangi tiga pangkalan di tiga kecamatan berbeda. Yaitu di Kelurahan/Kecamatan Pare; Desa Bringin, Kecamatan Badas; dan Desa/Kecamatan Gurah.
Dalam sidak tersebut, Masbup mengatakan, masih banyak elpiji yang disalahgunakan. Salah satunya penggunaan di sektor pertanian. Padahal sesuai Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Migas Nomor B-2461/MG.05/DJM/2022, ada beberapa sektor yang tidak boleh menggunakan elpiji subsidi. Yaitu restoran, hotel, usaha binatu, usaha batik, peternakan, usaha pertanian, usaha tani tembakau, dan jasa las.
Dengan temuan itu, Masbup mengatakan, segera mengevaluasi. Rencananya, dalam waktu dekat, pemkab akan berdiskusi dengan beberapa pihak yang dilarang menggunakan elpiji 3 kilogram (kg). “Nanti kita akan diskusi dengan pihak peternakan dan mencari solusi,” tambah bupati berusia 28 tahun itu.
Masbup melarang seluruh pangkalan menjual ke pengecer. Dia menyarankan agar pemilik pangkalan menjual langsung ke pengguna. Terutama sektor rumah tangga dan UMKM menengah ke bawah. “Wajib membawa fotokopi KTP dan KK agar pendataan dapat dilakukan,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kelangkaan elpiji 3 kg terjadi di Kabupaten Kediri sejak dua minggu lalu. Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menyebut, distribusi yang tidak merata menjadi salah satu alasan elpiji langka. Saat sidak di Desa Pagu dan sekitarnya, ditemukan ada 8 pangkalan. Tiap minggu satu pangkalan bisa mendapat jatah hingga ratusan elpiji.
Seperti dimiliki Rudi Santoso. Di pangkalannya, hampir setiap hari stok elpiji datang. Sekali antar, Rudi bisa mendapat 100 hingga 150 tabung gas melon. Ia hanya libur Kamis. Begitu juga dengan beberapa pangkalan di Pagu.
Sedangkan di Kecamatan Kepung, Tutik menyebut, ada desa yang sama sekali tak ada pangkalan elpiji. Jika ingin membeli, warga harus ke desa terdekat yang ada pangkalan. Pangakalan di Kepung hanya mendapat jatah kurang dari 100 tabung tiap minggunya. Kondisi itu jadi salah satu penyebab elpiji langka. Karena permintaan tinggi, stok di desa tetap. Alhasil warga harus berebut untuk mendapat elpiji. “Akhirnya ada panic buying di beberapa tempat,” tutupnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah