Waktu masih menunjukkan jam kerja. Beberapa orang berseragam pegawai pemerintah duduk-duduk di gazebo bambu. Seperti tengah bersantai.
Ada dua gubuk beratap ijuk itu berdiri di halaman, di depan gedung induk milik Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri. Yang memang difungsikan sebagai tempat bersantai pegawai yang sedang istirahat. Atau, bagi warga yang datang dengan beragam kepentingan.
Namun, mereka yang duduk-duduk saat itu bukan sedang bersantai. Sejatinya mereka tengah bertugas. Menjaga gedung yang terbakar hebat 30 April lalu.
“Kami memang berjaga bergantian di sini,” ujar Tatik, salah seorang staf DKPP yang ada di tempat itu.
Saat itu gedung induk tersebut masih berpagar pita kuning bertuliskan garis pembatas. Menandakan proses penyidikan dan penyelidikan kasus kebakaran tersebut masih berlangsung.
“Jaganya 24 jam, bergantian,” sambung sang pegawai.
Bukan tanpa alasan mereka harus berjaga sehari semalam. Sebab arsip-arsip penting, serta barang inventaris, masih berada di dalam gedung yang sudah hangus itu.
Kalau siang, tugas mereka jadi ganda. Selain menjaga gedung sekaligus isi di dalamnya, mereka juga mengantisipasi bila ada warga yang datang. Mengarahkan mereka ke gedung lain yang digunakan sebagai kantor sementara. Yang jaraknya sekitar 100 meter.
“Masih banyak yang kecele, karena tidak tahu kalau gedung ini kebakaran,” terang Tutik lagi.
Kebakaran tersebut membuat kerja tiga bidang terganggu. Namun, mereka terus berupaya memberikan pelayanan. Tentu saja di tempat darurat. Ada 50-an pegawai yang direlokasi ke kantor sementara.
“Kami pindahkan ke tiga tempat. Di gedung belakangnya lokasi kebakaran, gedung klinik satwa, dan di sini (ruang penyuluhan gedung kelompok jabatan fungsional, Red),” ucap Kepala DKPP M. Ridwan saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Kediri beberapa waktu lalu.
Ridwan dan jajaran pegawai mulai beradaptasi dengan situasi itu. Bekerja dengan fasilitas serba darurat. Termasuk harus duduk lesehan ketika bekerja.
Sang kadis ini bersyukur, kobaran api tidak sampai menjalar ke Gedung Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), bidang yang paling sering bersinggungan dengan pelayanan masyarakat. Sehingga layanannya tak banyak terganggu.
“Kebetulan pelayanan (publik) kami pusatnya ada di puskeswan. Dan itu tidak terdampak kebakaran. Untuk pelayanan dari bidang yang terdampak alhamdulillah masih aman. Karena tidak seintens di puskeswan,” terang Ridwan.
Para pegawai pun sudah mulai beradaptasi dengan kondisi darurat ini. Termasuk bidang tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan. Mereka menempati ruangan bekas gudang, di belakang gedung yang terbakar. Meskipun harus bahu-membahu, menata tempat kerja darurat. Pun memulihkan jaringan komputer yang sebelumnya sempat terkena air pembasahan saat kebakaran.
Di ruangan darurat ini tidak ada fasilitas mentereng ala perkantoran. Hanya perangkat komputer yang ditata di tiap-tiap sisi. Pegawainya pun duduk lesehan dengan beralaskan tikar. Bidang kerja yang dikepalai Ita Sachariani itu tetap semangat walau bekerja dengan fasilitas apa adanya. Di ruangan bekas gudang dengan pintu harmonika berwarna biru itu.
“Sementara disesuaikan dengan ruangan yang kami punya. Tepatnya saat ini di ruangan yang tidak terpakai,” tambah Ridwan.
Beberapa komputer harus dikeringkan dengan hair dryer sebelum di-install di lokasi baru. Mereka pasrah dengan nasib data di dalamnya.
Tidak semua komputer bisa diselamatkan. Sebagian harus disisihkan karena rusak akibat kebakaran maupun terkena air dari proses pemadamam.
Para pegawai memahami bahwa kejadian ini merupakan musibah yang tak terelakkan. Sebab itu, fokus mereka saat ini ada pada upaya bangkit dan melanjutkan pekerjaan. Keterbatasan bukan halangan.
“Tugas kita saat ini untuk mencari solusinya. Bagaimana agar bisa tetap maju, tetap jalan. Itu yang kita pikirkan dan lakukan saat ini,” ucap Tatik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah