Pantauan wartawan koran ini, plengsengan tersebut dibangun pada awal April lalu. Lokasinya di perbatasan Desa Gabru dengan Desa Wonojoyo. Panjang sekitar 100 meter memanjang dari selatan ke utara.
Awalnya tidak ada masalah dalam pembangunan plengsengan tersebut. Namun pada 17 April lalu, tiba-tiba tinggi dari pleng sengan ditambah. Dari yang awalnya hanya sekitar 40 sentimeter (cm) menjadi 80 cm.
Padahal di sisi barat sungai, ada jalan yang biasa dilewati oleh warga. Alhasil karena plengsengan terlalu tinggi, warga tidak bisa lewat.
Untuk keluar dari area pemukiman, warga terpaksa harus membopong kendaraan bermotornya.
“Warga sudah tidak bisa keluar. Padahal di sini ada 12 KK,” terang sumber wartawan koran ini yang tidak mau disebut namanya.
“Warga sudah tidak bisa keluar. Padahal di sini ada 12 KK,” terang sumber wartawan koran ini yang tidak mau disebut namanya.
Padahal beberapa hari sebelumnya, warga tidak diberitahu jika akan ada penutupan akses jalan tersebut. “Warga tiba-tiba bingung tidak punya akses jalan,” terangnya.
Pasca pembangunan plengsengan itu, warga tidak memiliki akses untuk keluar masuk ke pemukiman. Bagi warga yang hendak mengeluarkan sepeda motor, mereka harus meminta bantuan orang lain untuk mengangkat sepeda motornya.
Sedangkan untuk mobil, ada dua warga yang rela mengeluarkan uang Rp 2 juta demi menyewa crane agar mobil dapat keluar. “Karena sudah mepet sama Lebaran jadi pokoknya bisa keluar dulu,” ungkap sumber yang mewanti-wanti agar namanya tak dikorankan itu.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Wonojoyo Dwi Mei Susanto menyebut, dirinya juga tidak tahu tentang pembangunan yang dilakukan pemerintah Desa Gabru. Karena sebelumnya, tidak ada “woroworo” yang dilakukan oleh pihak Desa Gabru.
Padahal, menurut Dwi, pembangunan tersebut jelas-jelas menutup satu-satunya akses milik warganya. Bahkan hingga kemarin, belum ada perbaikan yang dilakukan oleh Desa Gabru.
Alhasil untuk menyiasati hal tersebut, pihak desa dan 12 KK urunan untuk membuat jalur alternatif. Dengan cara membeli sebidang tanah milik warga untuk dijadikan jalan umum. “Sebidang tanah kecil kemarin kita beli Rp 17 juta,” ujarnya.
Kendati demikian, jalur alternatif tersebut hanya bisa dilalui sepeda motor. Sedangkan bagi pemilik kendaraan mobil, mereka diminta untuk mengungsikan kendaraan di luar area pemukiman sementara waktu. “Kita masih cari jalur alternatif lain agar mobil dapat lewat,” tambahnya.
Terpisah, ketika dikonfirmasi koran ini, Kades Gabru masih belum bisa ditemui. Kades tersebut tidak dapat ditemui ketika di rumah atau di balai desa.
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindito Himawan Pramana menyebut, jika permasalahan penutupan akses jalan sudah menemui titik terang. Karena Rabu lalu (26/4), orang nomor satu di Kabupaten Kediri ini mendatangi rumah Kades Gabru untuk meminta penjelasan.
Alhasil, Dhito, begitu sapaan akrabnya, mengatakan jika Kades Gabru akan segera membongkar beberapa bagian plengsengan yang baru dibangun. Tujuannya, agar warga dapat kembali melewati jalan tersebut.
“Terkait penutupan Jalan Desa Wonojoyo dan Gabru sudah clear. Besok sudah akan dibongkar,” ujarnya singkat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah