Kondisi stunting di Kota Kediri secara rinci sebarannya masih didominasi wilayah Kecamatan Kota sebesar 41,1 persen dengan 381 balita stunting. Sementara di Kecamatan Pesantren ada 306 balita stunting atau 33 persen dan Kecamatan Mojoroto sebanyak 240 balita stunting atau 25,9 persen.
“Secara kumulatif, total ada 927 balita awal tahun ini. Sementara target prevalensi stunting di Kota Kediri pada tahun 2023 ini turun di angka 11,48 persen. Untuk tahun 2024 mendatang, targetnya bisa turun hingga 9,2 persen. Kami terus berupaya untuk bisa mencapai zero stunting,” terang Kepala Dinkes Kota Kediri dr Fauzan Adima.
Demi mencapai target tersebut, dokter berkacamata ini mengatakan, pihaknya mengajak ibu menyusui untuk memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya. Yakni dari umur 0-6 bulan. Baru setelah itu bisa didampingi dengan MP ASI yang bernutrisi tinggi.
“Selain memberikan ASI eksklusif kepada anak, kesehatan ibu juga harus diperhatikan. Pada saat kehamilan jangan sampai anemia, HB-nya harus dijaga dalam kondisi normal,” jelas Fauzan.
Ia menambahkan, pemerintah juga telah menyiapkan tablet tambah darah kepada ibu hamil. Jumlahnya minimal 90 tablet dan diminum sekali sehari. Lebih jauh dari itu, tablet tambah darah juga telah dibagikan kepada remaja putri.
Pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri merupakan langkah antisipasi dalam mempersiapkannya menjadi ibu yang sehat saat mengandung nanti. Karena sejak remaja, perempuan sudah mengalami menstruasi, sehingga rawan mengalami anemia ketika masih remaja.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah