Dua wanita itu kompak sore itu (21/2). Sama-sama mengenakan kaos warna merah jambu. Keduanya juga terlihat bersantai di sekretariat Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Kalibelo, Kecamatan Gampengrejo.
Ita Rusita dan Sriamu, demikian nama kedua perempuan yang merupakan petugas pemutakhiran data pemilih (pantarlih). Meskipun jarum jam sudah menunjuk pukul 16.00 keduanya masih bertahan di sekretariatan yang ada di balai desa itu.
“Salut sama teman-teman PPS, selalu sigap kalau pantarlih kesulitan di lapangan,” puji Ita.
Wanita 36 tahun itu tak sekadar memuji. Dia kerap mendapat bantuan dari anggota PPS. Terutama bila kesulitan bertemu dengan warga. Bantuan itu yang membuat tugas mereka cepat tuntas. Jatah waktu pencocokan dan penelitian (coklit) yang satu setengah bulan bisa dituntaskan hanya seminggu!
Tak hanya bantuan dari PPS yang membuat tugas ibu satu anak ini cepat selesai. Tapi, wataknya yang enggan menunda pekerjaan adalah sebab lain. Begitu dilantik Minggu (12/2) Ita langsung tancap gas. Bekerja siang hingga malam.
“Saya batasi sampai jam delapan (malam) baru pulang ke rumah,” terangnya.
Pekerjaan mendatangi warga bukan hal baru. Karena dia juga berstatus kader juru pemantau jentik (jumantik). Membuatnya sangat paham karakter warga. Termasuk kapan waktu yang pas bertandang ke rumah-rumah warga.
Menurutnya, ada tiga waktu yang tepat untuk melakukan coklit. Pagi, mulai pukul 07.00 hingga 9.30. Kemudian sore hari setelah pukul 14.30 hingga sebelum maghrib. Bila malam, sebelum pukul 20.00.
“Setiap hari saya seperti minum obat. Berangkat pagi, sore, dan malam,” kenang Ita.
Yang menarik, Ita justru bersemangat ketika hujan mengguyur malam hari. Karena itu adalah berkah. Dia bisa mudah mendata warga karena mereka pasti ada di rumah. Hal serupa juga terjadi ketika weekend, dia juga bisa enak menemui warga.
Tapi, bukan berarti tugasnya berjalan mulus. Masih ada saja yang enggan ditemui. “Saya pernah bolak-balik sampai empat kali ke rumah seorang warga karena mereka tidak ada di rumah,” terangnya.
Bila ada kesulitan seperti itu, jurus pemungkasnya adalah menghubungi melalui video call. Tanda tangan dicari belakangan pada keluarga terdekat. Namun, semuanya dia koordinasikan terlebih dulu dengan anggota PPS.
Meskipun sudah video call dia tetap mengunjungi rumah warga tersebut. Meskipun lokasinya jauh seperti di Kayenkidul atau Pagu. “Yang terjauh pernah saya kunjungi jaraknya sekitar lima kilometer dari sekretariat,” ucapnya.
Beratnya tugas pantarlih sempat membuat sang suami tak setuju. Namun, seiring waktu sang suami akhirnya mendukung. Lebih-lebih setelah melihat Ita bisa menyelesaikan tugasnya hanya dalam waktu seminggu. Menuntaskan coklit 256 pemilih. Mendatangi 119 kepala keluarga untuk tempat pemungutan suara (TPS) 2 di desanya.
Kisah nyaris serupa juga dimiliki Sriamu. Dia hanya berselisih sehari dengan waktu yang dicatatkan Ita menyelesaikan tugas. Menyelesaikan coklit untuk pemilih di TPS 1 selama delapan hari. Menyasar 256 pemilih di 118 KK.
Perempuan 39 tahun ini juga punya trik khusus. Sebagai kader kesehatan, dia bisa memetakan warga. “Sebelum ke lapangan saya lihat data coklit. Petakan dulu baru datangi rumah warga,” akunya.
Sejak jadi pantarlih, dia punya kebiasaan baru. Membawa ransel. Isinya tak hanya data pemilih tapi juga topi dan rompi yang menjadi perlengkapannya.
Bila dalam perjalanan pulang dia ketemu warga yang akan dicoklit, Sri segera mengubah penampilan. Mengenakan rompi, topi, dan ID card. Kemudian melakukan pendataan. Dalam sehari dia bisa mendata satu RT yang penduduknya 50 KK.
Tapi, dia tak pernah bekerja sampai malam. Alasannya, lingkungannya relatif sepi. Jarak antar rumah jauh. Banyak melewati rumpun bambu.
Pendataan yang dia lakukan juga tidak selalu mulus. Ibu dua anak ini kerap mendapat penolakan. Pernah dikira sales karena mengenakan masker dan berseragam.
“Aja mrene Mbak, putuku nakal,” kata Sri menirukan penolakan seorang pemilih.
Kedatangannya juga kerap dikira pendataan penerima bantuan. Bahkan, banyak warga yang menolak memberikan data KTP maupun KK. Alasannya, takut disalahgunakan untuk jaminan pinjaman online (pinjol)!
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah