Hadirnya bandara sendiri disebut sebagai cikal bakal berkembangnya bisnis di kawasan lereng Gunung Wilis. Dari sisi administrasi pemerintahan, kehadiran bandara sudah memisahkan beberapa dusun dari desa induknya. Seperti Desa Grogol dan Bulusari, kini beberapa dusun di dua desa itu terpisah oleh bandara.
Sebelum munculnya kota mandiri, tahap awalnya bisa dimulai dari kota baru. Informasi yang dihimpun koran ini menyebut, Pemkab Kediri lewat badan perencaaan pembangunan, penelitian, dan pembembangan daerah (bappeda) sedang melakukan kajian. Pembahasannya terkait dengan peluang munculnya desa baru di dusun-dusun yang terpisah dengan desa induknya. Kawasan itu bisa menjadi embrio kota baru.
Menurut Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih, ada kebutuhan pasar baru bagi warga yang tinggal di kawasan lereng Gunung Wilis yang terpisah dari bandara. “Untuk memenuhi kebutuhan itu bisa dimulai dari pasar desa,” ungkap perempuan yang jabatan definitifnya di dinas ketahanan pangan dan peternakan (DKPP) tersebut.
Jika yang dibangun pasar milik pemda, menurut Tutik, butuh waktu panjang. Itu karena perlu kajian dari badan penelitian dan pengembangan daerah (balitbangda).
Kebutuhan terhadap pasar itu menjadi penanda adanya geliat ekonomi di lereng Wilis. Potensi itu perlu terus dipupuk hingga menjadi besar. Salah satu tolok ukurnya adalah lalu lalang penerbangan tidak boleh senyap.
Seperti diberitakan sebelumnya, agar rute penerbangan tidak lengang, Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Jawa Timur Syamsul Hadi meminta, agar disiapkan maskapai untuk memberangkatkan jemaah haji dan umrah.
Penerbangan ke tanah suci adalah peluang bagus karena jemaah umrah dan haji yang berangkat dari Bandara Juanda Surabaya lebih banyak berasal dari wilayah selatan Jawa Timur. “Lebih dari 50 persen, jemaah berasal dari wilayah Selatan Jawa Timur,” kata pengusaha travel umrah dan haji asal Pare tersebut. Karena itu, keberadaan asrama haji sangat layak disiapkan karena membawa efek positif bagi penerbangan di Bandara Dhoho Kediri.
Pemerhati Ekonomi Kediri Subagyo ikut mengamininya. Kehadiran asrama haji, pasar dan perkantoran adalah cikal bakal adanya kota mandiri. “Kalau melihat situasi hari ini, keberadaan Kota Mandiri di Kabupaten Kediri masih belum siap,” ucap. Dari kondisi ekonomi sekarang, ia memprediksi, Kota Mandiri baru bisa terwujud dalam sekitar 10 tahun sampai 20 tahun yang akan datang.
Yang paling memungkinkan dilakukan saat ini menyiapkan fondasinya. Seperti membangun beragam fasilitas yang nanti dibutuhkan kota mandiri. Tidak hanya kawasan perumahan, tetapi juga pendidikan yang kelak berbasis internasional, rumah sakit (RS) internasional, kawasan industri dan bisnis, serta tempat hiburan dan kesehatan.
“Makna kota mandiri itu adalah kota yang tidak tergantung dengan kota lainnya,” terang dekan fakultas ekonomi Universitas Nusantara PGRI Kediri ini. Sebab itu, fasilitas kesehatannya sudah harus bertaraf internasional. Untuk fasilitas kesehatannya sudah tidak lagi rujukan ke rumah sakit di daerah lainnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah