Dominasi petahana itu terlihat di Kecamatan Wates. Dari 10 kades lama yang maju lagi, hanya tiga yang kalah. Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Ngancar. Hanya satu dari tujuh kades lama yang kalah.
Situasi agak berbeda muncul di Kecamatan Kepung. Di sini, justru para penantang yang menguasai. Seperti di Desa Damarwulan misalnya. Purwanto, mantan wasit berlisensi FIFA, unggul. Mengalahkan Suripto, petahana, dengan selisih 168 suara.
Fenomena masih unggulnya petahana itu, salah satunya adalah faktor lebih dikenal. Terutama bagi yang punya catatan memerintah yang bagus. “Kelebihan dan kekurangan incumbent adalah mereka punya rekam jejak,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Agus Cahyono.
Menurutnya, yang penting dalam pilkades ini adalah proses demokrasinya. Yang menang tak jemawa sedangkan yang kalah berlapang dada.
Sementara, Bupati Hanindhito Himawan Pramana minta siapapun yang menang bisa melayani masyarakat sepenuh hati. Dia menilai calon yang maju adalah orang terpilih. Yang niatnya adalah mengabdi.
“Alhamdulillah, monitoring kami (forkompimpda, Red) semua pelaksanaan pilkades berjalan lancar,” kata Dhito di sela-sela mengamati proses pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Desa Gadungan, Kecamatan Puncu kemarin.
Bupati memuji partisipasi warganya yang antusias datang ke TPS. “Angkanya di atas 75 persen. Itu sudah bagus,” pujinya.
Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, angka partisipasi masyarakat memang tinggi. Jumlahnya mencapai 84,55 persen. Artinya, angka golput ‘hanya’ 15,45 persen.
Dari 57 desa yang menggelar pilkades, angka golput tertinggi di Desa Krenceng, Kecamatan Kepung. Angkanya mencapai 1.968 suara dari 8.152 pemegang hak pilih. Kemudian, ada Desa Damarwulan yang juga di Kecamatan Kepung, yang angka golputnya mencapai 1.933. Di Damarwulan ini, pemenangnya ‘hanya’ meraih 1.962 suara.
Secara umum, pelaksanaan pilkades serentak kemarin berlangsung lancar. Seperti di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih. Meskipun mendapatkan status zona kuning, pelaksanaannya berjalan aman.
“Di sini satu calon meninggal dunia,” terang Camat Ngadiluwih Harminto.
Kapolsek Ngadiluwih AKP Iwan Setyo Budi, menyebut di setiap TPS dijaga 2 polisi, 1 TNI, dan 2 anggota perlindungan masyarakat (linmas). “Juga ada satu peleton yang memantau dari polsek,” terangnya.
Demikian pula di Kecamatan Mojo yang punya dua desa menggelar pilkades. Salah satunya, Desa Tambibendo, berstatus zona hijau. Karena calonnya masih keluarga, mertua dan menantu.
Di Desa Maesan yang berstatus merah pun berlangsung lancar. Meskipun ada penambahan satu peleton Brimob, coblosan aman hingga selesai. Yang menjadi pemenang adalah pensiunan bintara pembina desa (babinsa) setempat.
Di Kecamatan Wates, meskipun diwarnai konvoi, pelaksanaan pilkades juga lancar. “Alhamdulillah berjalan lancar,” kata Kasi Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Wates Bakdo Utomo. Editor : Anwar Bahar Basalamah