“Omzetnya turun banyak Mbak ini. Karena penutupan jembatan dan musim hujan” ungkap Rino, 37, penjual bakso di Jalan KH Hasyim Asy’ari, Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto.
Pria asal Nganjuk ini sudah sekitar 12 tahun berdagang di sana. Dia mengatakan, keluhan sama juga dirasakan pedagang soto di Jalan Bandarngalim. “Penjual soto di barat jembatan Bandarngalim pas itu juga ngeluh Mbak. Pas beli daging bareng, katanya omzet turun drastis karena jembatan ditutup,” kata Rino.
Penurunan omzet, menurutnya, mulai dirasakan saat penutupan jembatan Bandarngalim pada September lalu. Namun, hal itu diperparah saat hujan deras di pertengahan Oktober. Pasalnya, debit air sungai meningkat. Arus pun deras. Kondisi itu menyebabkan perahu tambangan di Sungai Brantas ditutup. “Ketika sungai banjir seminggu itu Mbak, dagangan sepi sekali,” papar Rino.
Ia mengungkapkan, omzet penjualan baksonya sebelum penutupan jembatan mencapai Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta . Namun, sekarang tinggal Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta saja.
Waktu akses transportasi di Jembatan Bandarngalim masih terbuka, Rino mengaku, biasanya dapat menghabiskan 60 kilogram (kg) daging dalam dua hari. Namun kini olahan daging itu baru bisa habis dalam waktu tiga hingga empat hari.
Beruntung, lapak yang ditempatinya merupakan milik Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ishlah yang digratiskan untuk berjualan. Pihak pesantren hanya menitipkan berbagai macam minuman untuk dijual. “Untung saya tidak harus bayar sewa tempat,” aku Rino.
Mohammad Sareh, 49, salah satu pelanggan makanan di sana, mengaku jarak untuk beli makanan semakin jauh. Pasalnya, ia langganan makan bakso di tempat tersebut. Namun, sekarang hanya mampir saat ia ada keperluan penting di barat sungai. “Ini tadi mampir karena saya mengantar istri ke toko kain,” ungkap bapak anak itu. Editor : Anwar Bahar Basalamah