Dampaknya ke pengemudi mobil, pikap, maupun truk yang hendak ke Pasar Induk Pare harus memutar. “Dulu, sebelum ambrol, sejak pagi roda empat ramai ke pasar lewat jalan sini. Ini kan jalur alternatif,” tutur Sutio, 50, warga Sidodadi.
Berdasarkan pantauan koran ini kemarin (18/11), rambu-rambu dan pagar pembatas di sana sudah tak diurus. Pagar pembatas telah rusak. Rambu-rambu yang awalnya ada empat, kemarin tinggal satu. “Memang sudah tidak pernah diurus,” ungkap Sutio,
Dia mengaku, pernah melaporkannya ke perangkat desa. Tetapi, hingga kemarin belum ada tindaklanjut konkret. Ruas jembatan dengan ukuran sekitar empat meter itu sebagai jalur alternatif.
Selain ke Pasar Induk Pare, juga penghubung antar tiga kecamatan. Yakni, Badas, Kandangan, dan Kepung. “Kendaraan roda empat yang mau ke pasar induk harus muter dulu dari Pare. Kalau roda dua harus bergantian lewat jembatan,” tutur Karyo, Ketua RT 20/RW 04 Dusun Senowo, Desa Kencong, Kecamatan Kepung yang rumahnya sebelah timur jembatan.
Meskipun jembatan itu penghubung tiga kecamatan, namun akan ditindaklanjuti perangkat Desa Kencong. Karena balai desa dekat dengan jembatan. “Sudah hampir tiga kali saya lapor ke perangkat desa dan sudah dilaporkan ke PU (dinas pekerjaan umum). Kalau pengukuran sudah dilakukan. Tapi belum ada pelaksanaan perbaikan,” pungkas Karyo. Editor : Anwar Bahar Basalamah