Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

3 Hari, Dua Orang Tewas Tertabrak KA di Wilayah Selatan Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 26 September 2022 | 18:08 WIB
BERBAHAYA: Warga melintas di perlintasan KA tanpa palang pintu di Desa Jambean, Kras. Pintu tanpa petugas jaga ini yang sering memicu terjadinya kecelakaan yang memakan korban jiwa. (Foto: Wahyu Adji)
BERBAHAYA: Warga melintas di perlintasan KA tanpa palang pintu di Desa Jambean, Kras. Pintu tanpa petugas jaga ini yang sering memicu terjadinya kecelakaan yang memakan korban jiwa. (Foto: Wahyu Adji)
NGADILUWIH, JP Radar Kediri–Kasus kecelakaan kereta api (KA) di wilayah selatan Kediri perlu disikapi serius oleh berbagai pihak. Pasalnya, selama tiga hari terakhir terjadi dua kasus kecelakaan yang memakan dua korban jiwa. Selain faktor human error, kondisi alarm dan lampu di perlintasan yang mati diduga jadi faktor yang membuat warga kurang waspada dan memicu terjadinya kecelakaan.

Ironisnya, dua kasus kecelakaan KA selama tiga hari ini semuanya terjadi di Desa Banjarejo, Ngadiluwih. Jumat (23/9) lalu, Ahmad Alwi Tohir, 31, asal Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, yang mengendarai mobil Daihatsu Sigra bersama Achmad Buny Andaru, 26, asal Desa Banjarejo, Ngadiluwih terserempet KA Kertanegara sekitar pukul 00.40. Akibat kejadian di pintu perlintasan KA Dusun/ Desa Banjarejo tersebut, Achmad Buny meninggal di tempat kejadian.

Dua hari berselang atau kemarin pagi, giliran Dayat, 52, yang tewas terserempet KA Rapih Doho. Warga Dusun Trate, Desa Banjarejo itu ditemukan meninggal dunia di pinggir rel KA sekitar pukul 05.40 kemarin (25/9).

Bapak dua anak tersebut mengalami luka berat di kepala bagian belakang. Ada pula luka robek di dagu, serta luka patah pada tulang kering, pergelangan tangan, dan lengan kirinya.

Kapolsek Ngadiluwih AKP Iwan Setyo Budi mengatakan, beberapa saksi menyebut awalnya Dayat terlihat duduk di teras Musala An Nur yang ada di dekat tempat kejadian perkara (TKP) bersama Ahmad Khotib, 22, menantunya.

Lansia yang tengah dalam kondisi sakit itu meminta tolong Ahmad untuk mengambil air ke rumah. Letaknya persis di belakang musala. Sejurus kemudian, KA Rapih Dhoho yang tengah melaju dari arah selatan (Blitar) menuju ke utara melintas.

Entah apa yang ada di benak Dayat, dia diketahui berjalan di rel KA. Kecelakaan pun tak terhindarkan. “Korban terpental hingga meninggal di tempat,” terang Iwan.

Melihat kejadian tersebut, Rizal Kurniawan, 32, masinis KA, melaporkan kejadian ke polisi khusus kereta api (polsuska) di asrama PT KAI Ngadiluwih. Saat dicek, mayat Dayat tergeletak di timur rel kereta. Beberapa menit berselang, warga setempat dan kerabat Dayat berdatangan ke lokasi.

Jenazah Dayat lantas dibawa ke RS Bhayangkata Kota Kediri untuk divisum. Sebelum ditemukan tewas mengenaskan, Ina, 49, tetangga Dayat mengaku melihat pria tua itu menyirami bunga miliknya di sisi timur dan barat perlintasan KA.

“Setiap hari dia memang merawat tanaman hias untuk dijual,” kata Ina. Ibu satu anak itu menyebut rutinitas Dayat memang menyirami tanaman yang juga menjadi mata pencahariannya itu.

Sebelum mengalami kejadian nahas kemarin, Dayat yang mengidap penyakit kanker itu baru saja dirawat lima hari di RSUD SLG. Seolah tahu ajalnya sudah dekat, Dayat sudah berpesan agar dirinya dimakamkan di TPU Dusun Kendaldoyong. Agaknya dia tidak ingin dimakamkan di TPU Dusun Trate, tempat tinggalnya.

Pantauan koran ini, tempat Dayat menyirami tanaman memang sangat dekat dengan rel kereta api. Yakni, hanya sekitar dua meter saja dari rel. Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi lokasi, selang air berwarna hijau yang sebelumnya digunakan untuk menyirami tanaman juga masih ada di sana.

Sementara itu, dua kali kecelakaan KA yang terjadi selama tiga hari terakhir mengundang keprihatinan warga. Sikun, 67, salah satu warga yang biasa menjadi relawan perlintasan menyebut kecelakaan KA terjadi karena beberapa sebab. Selain kesalahan manusia atau human error, menurutnya kondisi sarana dan prasarana (sarpras) di pintu perlintasan banyak yang rusak.

Dia mencontohkan di pintu perlintasan KA Desa Banjarejo lampu dan alarm-nya tak berfungsi selama dua tahun terakhir. Jika masih ada relawan, pengendara yang melintas di sana masih bisa diingatkan.

Kondisi yang berbahaya menurut Sikun terjadi pada malam hari. Sebab, di atas pukul 22.00, sudah tidak ada relawan yang berjaga. “Kalau alarm nggak bunyi dan lampu tidak hidup kan pengendara bisa nyelonong dan rawan terjadi kecelakaan,” sesalnya.

Bapak empat anak itu menjelaskan, selain dua kasus kecelakaan yang terjadi selama tiga hari terakhir, selama sembilan bulan terakhir sudah ada empat kasus kecelakaan KA di Ngadiluwih. Tiga di antaranya terjadi di perlintasan tanpa palang pintu.

Sementara itu, dua kasus kecelakaan KA yang terjadi selama tiga hari terakhir masih ditangani oleh Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polres Kediri. Kanit Gakkum Satlantas Polres Kediri Ipda Heru Prasetyo menjelaskan, pihaknya berencana memeriksa  Ahmad Alwi Tohir, 31, sopir mobil Daihatsu Sigra yang mengalami kecelakaan Jumat (23/9) lalu.

“Kami sudah meminta keterangan salah satu penjaga perlintasan KA di sana. Sopir yang masih dirawat di RSUD Gambiran belum bisa diperiksa, menunggu kondisinya membaik,” terang Heru.

Berdasar keterangan penjaga perlintasan, petugas sukarela itu memang sedang tidak berjaga saat kejadian. Sebab, mereka hanya berjaga mulai pukul 06.00-22.00. “Di atas pukul 22.00 tidak ada yang menjaga. Selebihnya nanti masih akan kami lakukan pendalaman,” tegasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #satlantas polres kediri #seputar kediri #kereta api #kediri #kabar kediri terkini #rsud slg #info terbaru kediri #info kediri #ngadiluwih #viral kediri #berita terbaru #RSUD Gambiran #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #kediri lagi #ka #berita viral kediri #kabar kediri #kediri news