Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, aksi desak-desakan terlihat di Balai Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri. Ratusan warga yang sudah berkumpul sejak pukul 07.00 itu antre menunggu nama mereka dipanggil untuk bisa menerima BLT BBM Rp 300 ribu dan bantuan pangan non tunai (BPNT) September sebesar Rp 200 ribu.
Tidak adanya nomor antrean membuat warga dimasukkan ke aula secara bergelombang. Aksi desak-desakan terjadi karena warga yang ada di bagian belakang ingin merangsek ke depan agar bisa segera masuk ke dalam ruangan.
Hingga pukul 11.00 kemarin, kelurahan dengan jumlah warga terbanyak di Kota Kediri itu masih dipadati antrean. Yuliati, 42, salah satu warga mengaku mengantre sejak pukul 09.00. Setelah berdiri selama sekitar dua jam, dia baru menerima bantuan sekitar pukul 11.00.
Meski harus berdesak-desakan, dia mengaku senang mendapat bantuan. Sebab, uang tersebut bisa meringankan bebannya saat harga kebutuhan pokok melonjak naik seperti sekarang. “Alhamdulillah lumayan (uang bantuan, Red) untuk menambah kebutuhan dapur,” katanya lega setelah keluar dari aula.
Hal berbeda diperlihatkan seorang pria yang terlihat emosi saat tiba di balai kelurahan. Pria yang tidak membawa undangan berupa lembaran barcode dari Kementerian Sosial (Kemensos) itu nekat antre untuk mendapat BLT. “Bawa KTP dan KK sudah bisa mencairkan bantuan,” terang pria bertopi hitam tersebut.
Meski demikian, langkahnya hanya terhenti di depan aula. Pria yang sempat berdesak-desakan dengan ratusan warga itu dilarang masuk. Sebab, dia memang tidak masuk kategori penerima BLT BBM dan BPNT.
Terkait antrean warga yang berjubel di depan aula Kelurahan Ngronggo, Lurah Ngronggo Heru Sugiarto menjelaskan, pihaknya berusaha mengantisipasi membeludaknya antrean dengan membagi menjadi dua sesi. Yakni, gelombang pertama mulai pukul 07.00-10.00. Gelombang kedua pukul 11.00 hingga selesai.
Praktiknya, diduga banyak warga yang seharusnya datang siang tetapi memilih antre sejak pagi. Hal itulah yang menurut Heru membuat banyak warga berjubel dan berdesak-desakan di depan aula. “Sampai tidak bisa di-biyak. Kami suruh tertib antre tidak bisa. Kami kewalahan,” akunya.
Di Kelurahan Ngronggo menurut Heru ada hampir 900 penerima BLT BBM. Terkait adanya satu warga yang tertolak karena tidak membawa undangan, Heru menyebut pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab, data pria itu memang tidak masuk dalam kelompok penerima manfaat BLT BBM. “Kalau diberi malah salah. Itu sudah aturan dari pusat,” tegasnya.
Saking banyaknya warga yang berjubel di kelurahan, Heru memutuskan menghentikan penyaluran BLT BBM sekitar pukul 11.00. Selanjutnya, warga yang belum menerima bisa mengambil bantuan di Kantor Pos Indonesia di Jl Mayjen Sungkono.
Sementara itu, membeludaknya antrean juga terlihat di Kelurahan Setonopande, Kota Kediri. Penyebabnya pun sama. Warga yang seharusnya datang siang memutuskan datang lebih pagi hingga antrean menumpuk.
“Seharusnya masuk jadwal pembagian (BLT BBM, Red) jam 11.00,” aku Anik Kristiani, salah satu warga yang sudah mengantre di depan aula Kelurahan Setonopande pukul 09.30 kemarin.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri Paulus Budi Luhur menyebut, total penerima BLT BBM sebanyak 25.426 orang. “Pembagian BLT rata-rata tersalurkan dengan baik dan tertib serta terkendali,” jelasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah