Brambang impor yang umbinya jauh lebih besar dan bentuknya mirip bawang bombay itu ditemui di beberapa lapak di Pasar Pamenang. Di antaranya di lapak milik Arif, 41. Menurutnya, bawang merah impor itu laku keras saat bawang merah lokal harganya mencapai Rp 30 ribu per kilogram.
“Saat itu harganya (brambang impor, Red) hanya Rp 10 ribu per kilogram,” kata Arif sembari menyebut sejak harga BBM naik kini menjadi Rp 12 ribu per kilogramnya.
Mendapati brambang impor beredar di pasar tradisional, Ketua Satgas Pangan Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih lantas menyebut keberadaan brambang impor di sana menyalahi aturan. Sesuai Permendag No. 30/2022, brambang impor hanya boleh digunakan untuk keperluan perusahaan. “Tidak bisa beredar sembarangan. Apalagi masuk ke pasar grosir lalu diecer,” tegasnya.
Sesuai keterangan para pedagang, mereka mengaku kulakan brambang impor dari pasar induk. Menindaklanjuti hal tersebut, Tutik yang kemarin bersama perwakilan TNI, Polri, Bulog, dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), melanjutkan sidak ke Pasar Grosir Pare.
Di sana, Tutik mendapati salah satu gudang yang menjual brambang impor. "Kami beri teguran dan pembinaan untuk tidak lagi menjual bawang merah impor secara eceran ke masyarakat," tegasnya.
Jika dalam sidak berikutnya pedagang grosir masih menjual brambang impor, Tutik mengaku siap memberi tindakan tegas. Dia tidak ingin harga brambang lokal kacau karena pasokan brambang impor tersebut. "Bawang merah lokal itu dari petani lokal. Stoknya masih cukup" imbuh Tutik.
Untuk diketahui, dalam sidak satgas pangan kemarin mereka juga mendapati sejumlah harga kebutuhan pokok uyang mulai naik. Termasuk beberapa bahan pangan yang jadi pantauan penentuan inflasi. Di antaranya, cabai dan bawang merah.
Cabai merah besar yang semula Rp 55 ribu per kilogram kemarin menjadi Rp 65 ribu per kilogram. Selanjutnya, bawang merah lokal yang semula Rp 18 ribu kini menjadi Rp 25 ribu.
Rosi, 37, warga Desa Canggu, Kecamatan Badas yang belanja di Pasar Pamenang mengeluhkan kenaikan harga sejumlah bahan pangan itu. “Semua jadi naik, ya harus mengurangi belanjanya,” kata Rosi menyiasati agar dapurnya tetap mengepul.
Dia mencontohkan, jika sebelumnya biasa membeli cabai besar hingga satu kilogram, kemarin dikurangi menjadi seperempat kilogram saja. Demikian juga brambang yang dikurangi.
Sementara itu, terkait kenaikan harga beberapa bahan pokok, Ketua Satgas Pangan Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menganggapnya masih dalam batas wajar. "Tidak ada kenaikan sampai 100 persen," paparnya sembari menyebut ada beberapa harga sayuran yang turun. Bahkan, harga tomat anjlok hingga hanya seribu rupiah per kilogramnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah