Olahraga berkuda memiliki karakteristik yang sangat khas bila dibandingkan dengan olahraga lain. Ada dua ‘pihak’ yang terlibat. Selain manusia sebagai joki, juga ada kuda sebagai tunggangan. Keduanya harus memiliki hubungan emosional. Agar mencapai titik potensi terbaik kuda dan joki keluar.
Karena itulah olahraga berkuda menjadi sesuatu yang menarik. Yang bisa menjadi tontonan bagi masyarakat luas. Terutama yang berupa pacuan kuda. Meskipun yang seperti ini lebih banyak sisi tontonannya dibanding prestasi.
Di Kediri, kegiatan pacuan kuda beberapa kali berlangsung. Event seperti ini memang tak bisa diselenggarakan di sembarang tempat. Karena butuh fasilitas pendukung yang memadai. Terutama soal lintasan pacu yang butuh tempat luas.
Nah, soal sisi prestasi itu, beberapa tahun ke depan bisa berubah. Seiring dengan keberadaan Pordasi-induk olahraga berkuda di Indonesia- di Kabupaten Kediri. Serta, bakal dilombakannya olahraga berkuda di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim tahun depan.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kediri pun bereaksi cepat. Yang langsung melakukan penjaringan bakat-bakat olahraga berkuda. Sebagai langkah awal agar bisa menjaring medali dari cabang ini di Porprov Jatim VIII yang rencananya akan berlangsung di Sidoarjo, Jombang, Kota dan Kabupaten Mojokerto.
“Terutama melihat potensi joki dan kuda,” ucap Ketua KONI Kabupaten Kediri Dedy Kurniawan ketika menyaksikan pacuan kuda di lapangan pacu Desa Wonorejo, Kecamatan Wates beberapa waktu lalu.
Kejuaraan yang memperebutkan trofi Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar itu tergolong besar. Diikuti 150-an peserta. Yang berasal dari daerah-daerah di Jawa dan Bali.
Olahraga berkuda sendiri memang sudah familiar bagi masyarakat Kabupaten Kediri. Seperti di pacuan kuda di Desa Wonorejo itu yang rutin menggelarnya setiap tahun. “Sempat vakum kalau tidak salah. Karena Covid-19,” sebut Dedi.
Karena itulah Dedi merasa optimistis dengan potensi berkuda di daerahnya itu. Terutama potensi dalam meraih medali. Dan, pihak KONI pun memerlukan untuk melihat langsung pelaksanaan pacuan kuda itu.
Memang, yang berlaga tak semuanya joki asal Kabupaten Kediri. Namun, Dedi yakin bakat-bakat pejoki akan muncul. Apalagi, pelaksanaan porprov masih beberapa bulan lagi. Masih ada kesempatan untuk mencetak joki andal.
Yang paling berperan, tentu saja, adalah Pordasi. Karena lembaga ini yang akan melakukan pembinaan secara langsung pada para atlet berkuda yang akan terpilih nanti.
“Harapannya berkuda bisa menjadi salah satu cabor andalan bagi kontingen Kabupaten Kediri di ajang porprov,” harap Ketua Pordasi Pengkab Kediri Agus Setiyoko.
Agus mengatakan dengan adanya euforia yang tinggi ini, pihaknya juga bisa mengakomodasi para atlet. “Sebelum pertandingan juga sudah kami ingatkan untuk bertanding sekuat tenaga. Selain untuk latihan, juga untuk kesiapan antara joki dengan kuda,” terang Agus.
Lelaki yang juga kepala desa (kades) Wonorejo ini mengatakan selama ini olahraga berkuda ini seperti dipandang remeh. Karena itulah jadi tugas lembaganya untuk mengubah pandangan itu. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan potensi dan bibit joki sejak muda. Jangan sampai potensi ini justru dimanfaatkan oleh daerah lain. Seperti joki asal Kabupaten Kediri diambil daerah lain dalam Porprov Jatim VIII tahun 2023 besok.
“Kami terus data, dan kami akan pantau perkembangannya,” pungkas Agus. Editor : Anwar Bahar Basalamah