"Arus pendek listrik ini banyak terjadi pada kebakaran rumah atau gudang," jelas Kepala UPT PMK Kota Kediri Fanni Eryanto kemarin.
Berdasarkan data pada Januari hingga Juli, dia menyebut, kejadian korsleting atau biasa disebut arus pendek ini disebabkan kurang hati-hatinya pemilik bangunan. Selain memilih kabel yang tidak sesuai, juga terkait perawatan.
“Meski terdengar sepele, namun memahami jenis kabel dan melakukan perawatan itu sangat diperlukan,” kata Fanni.
Jika kedua hal tersebut dilakukan, ia menyatakan, kejadian korsleting listrik dapat dihindari. Selama tujuh bulan hingga Juli, salah satu kasus kebakaran karena korsleting listrik terjadi di ruang penyimpanan Polres Kediri Kota. Akibat kejadian tersebut, selain membakar gedung, juga menghanguskan sebagian peralatan yang ada di dalamnya. "Selain rumah, gudang, kandang ternak, rumpun bambu dan lahan tebu pun terbakar," ungkap Fanni.
Ia mengatakan, arus pendek listrik ini menyebabkan kebakaran rumah dan gudang. Sedangkan, kebakaran kandang ternak, rumpun bambu hingga lahan tebu disebabkan sisa pembakaran yang tidak diawasi.
Laki-laki asal Kecamatan Mojoroto ini mengatakan bahwa kebakaran kandang ternak, rumpun bambu, dan lahan tebu kerap terjadi pada musim kemarau. Tentu saja, penyebab terjadinya kebakaran ini hampir 99 persen karena ulah manusia.
"Ketika membakar sampah, biasanya masyarakat ini tidak menunggu hingga api benar-benar padam," kata Fanni.
Karena kondisi sisa pembakaran tidak padam sepenuhnya, bara api sisa pembakaran bisa kembali menyala. Apalagi kondisi kemarau, Fanni menyatakan, rumput kering atau bambu kering ini dengan mudah terbakar.
Untuk mengatasi hal tersebut, Fanni mengatakan, melalui pemangku wilayah sebenarnya damkar dan bersama BPBD Kota Kediri sudah sering melakukan edukasi dan memberi imbauan kepada masyarakat.
"Edukasi ke masyarakat lebih intensif tentang bahaya kebakaran di masa kekeringan seperti saat ini," paparnya.
Selama Januari hingga Juli, selain menangani kejadian kebakaran yang tercatat 38 kasus, PMK juga menangani kasus non kebakaran sebanyak 194 kasus. Editor : Anwar Bahar Basalamah