Akibatnya, perjalanan pengguna jalan tersebut sempat terganggu. Apalagi perempatan dekat pasar itu termasuk jalur padat kendaraan. Sehingga rawan terjadi kecelakaan (laka).
“Pernah dua kali pengendara motor jatuh. Kaget karena ada yang tiba-tiba menyeberang,” ungkap Wawan, 45, warga yang menjadi sukarelawan pengatur lalin di perempatan traffic light itu (1/8).
Karena rambu pengatur lalin itu tidak berfungsi, tak jarang para pengendara saling serobot. “Kalo nggak distop, pengendara bisa nyelonong. Ini rawan tabrakan,” imbuh Wawan.
Selain Wawan, ada tiga pria yang mengatur arus lalin di bawah terik matahari. Itu atas inisiatif mereka untuk menghindari jalan macet dan kecelakaan. Para sukarelawan itu mengatur lalin sejak pagi hingga sore, terkadang sampai malam.
Mereka melakukan secara bergantian setiap harinya. “Jam 07.00 pagi, 17.00 sore, dan setelah Magrib hingga jam 21.00 malam itu waktu kendaraan sedang ramainya,” papar Didik, 21, sukarelawan lainnya.
Didik mengungkapkan, dinas perhubungan pernah melakukan peninjauan beberapa minggu lalu. Namun, hingga kemarin masih belum ada tindak lanjut. “Ya harapannya segera ditangani,” kata pria yang mengatur arus lalin di bagian tengah persimpangan itu. (c1/ndr) Editor : Anwar Bahar Basalamah