Rusaknya fasilitas umum tersebut dapat berisiko membahayakan bagi pengguna jalan. “Pernah pengendara sepeda motor jatuh ke parit akibat menghindari jalan yang rusak ini,” kata Supilan, 63, warga setempat.
Karena belum ada yang menangani, Supilan dengan sukarela menaruh rambu-rambu atau patok dari dahan pohon dan dipasangi karung putih. “Ini agar dapat dilihat oleh pengendara, terutama yang tidak tahu,” papar pria yang mengenakan topi di bawah terik matahari itu.
Beberapa hari sebelumnya, Supilan sempat menaruh patok. Tetapi ada saja yang mencabut. Sehingga ia menaruh rambu-rambu kembali dengan menancapkan dahan pohon, bambu, dan diikat karung putih.
Dari pantauan koran ini, ruas jalan rusak parah dan persis berada di tengah jalur kiri jalan. Kerusakan jalan itu membuat pengendara, terutama roda empat menurunkan kecepatan dan menunggu pengendara dari arah yang berlawanan terlebih dahulu. Setelah itu, pengendara dapat melintasi jalan yang berlubang.
Supilan mengaku, jalan berlubang itu pernah dilaporkan ke desa beberapa hari yang lalu. “Namun sampai sekarang saya tidak tahu kelanjutannya,” urai Supilan sambil mengikat karung ke bambu. (c1/ndr)
Editor : Anwar Bahar Basalamah