“Sejak Kamis (7/7) sudah di Arafah. Siang ini (kemarin, Red) wukuf,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk M. Afif Fauzi saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin . Wukuf adalah berdiam diri di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari pada 9 Dzulhijah. Arafah merupakan nama sebuah gunung. Tempat di mana Nabi Muhammad SAW berpidato di depan umatnya untuk yang terakhir kalinya.
Oleh karena itu, wukuf dimaknai sebagai berhentinya aktivitas jamaah haji untuk berdiam diri di Padang Arafah. Pada saat pelaksanaan wukuf, seluruh jamaah haji akan bermalam di tempat suci dan bersejarah tersebut. Wukuf juga sering kali disebut sebagai inti dari ibadah haji.
“Wukuf menjadi salah satu rukun haji yang harus dijalankan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan wukuf, terdapat tiga makna penting. Yaitu zawal, wukuf dan arafa. Melalui ibadah wukuf, umat Islam diharapkan secara optimal memanfaatkan waktu-waktu utama untuk beribadah. Selama pelaksanaan rukun haji di tempat suci tersebut.
Melihat pentingnya ibadah Wukuf tersebut, Afif selalu mengingatkan seluruh jamaah untuk menjaga kondisi fisiknya. Terutama dalam menghadapi tantangan suhu yang tinggi. Oleh karena itu, jamaah harus senantiasa menjaga cairan tubuhnya.
“Konsumsi air mineral yang cukup agar cairan di tubuh tetap terjaga,” tutur pria berkumis tersebut.
Sementara itu Afandi, 62, salah seorang CJH asal Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon mengatakan bahwa kondisi jamaah relatif baik-baik saja. Tidak ada keluhan sakit yang mengkhawatirkan. “Alhamdulillah, teman-teman di sini dalam kondisi sehat,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah