Pagu anggaran tahap dua ini nilainya lebih kecil bila dibanding tahap pertama. Pada tahap itu, pagu awal adalah Rp 19,5 miliar. Namun pemenang tender menyepakati nilai kontrak sebesar Rp 13,5 miliar.
“Tahap satu menyelesaikan struktur bangunan,” terang Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Kediri Agus Sugiarto.
Kepada Jawa Pos Radar Kediri Agus menjelaskan, tahap dua sekarang masih proses lelang. Tahapannya upload dokumen penawaran. Dari jadwal lelang, target penandatanganan kontraknya paling lama 5 Agustus 2022. Jika proyek dibangun Agustus mendatang maka waktu aktif mengerjakan proyek ini selama empat bulan.
Agus mengklaim, durasi waktu untuk pembangunan proyek dianggap cukup. Namun, karena keterbatasan anggaran, proyek fisik pembangunan museum ini rencananya akan dilanjutkan ke tahap tiga. Karena itu target proyek pada tahap dua ini adalah menyelesaikan bangunan atau ruangan. Sehingga bangunannya nanti sudah bisa dimanfaatkan.
Apa saja yang dibangun pada tahap dua? Agus menjelaskan, pembangunan museum pada tahap dua ini targetnya harus tuntas 75 persen dari total pembangunan. Maka, pekerjaan fisik yang diselesaikan adalah ruangan, lantai, dinding, hingga air conditioning (AC).
“Semuanya harus tuntas sehingga ruangannya bisa dipakai sama dispar (dinas pariwisata dan kebudayaan, Red),” katanya.
Agus optimistis proyek pembangunan museum ini akan tuntas seratus persen pada 2023 nanti. Pembangunan fisik museum ini masih akan berlangsung tahun depan. Targetnya menuntaskan 25 persen setelah pekerjaan tahap satu dan dua selesai.
Sebelumnya, Kepala Disparporabud Adi Suwignyo menjelaskan bila benda peninggalan bersejarah di Kabupaten Kediri tersebar di banyak tempat. Beberapa benda sejarah itu disimpan dan diamankan di rumah warga dan dirawat pemerintah desa.
“Kalau jumlahnya ratusan,” katanya.
Yang terbaru adalah penemuan dua kepala kala atau dikenal Reco Pentul di Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem. Warga desa meminta benda sejarah itu tetap berada di sana dan dirawat desa. Editor : Anwar Bahar Basalamah