“Alhamdulillah, sudah tiba dengan selamat,” ujar Kepala Kantor Kemenag Nganjuk M. Afif Fauzi saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk.
Dua jamaah tersebut berangkat dengan rombongan asal Kabupaten Jombang. Mereka termasuk dalam kelompok terbang (kloter) 35. Karena berangkat dengan daerah lain, otomatis keduanya bakal terpisah dengan rombongan asal Kota Angin.
Afif mengimbau kepada pasutri tersebut untuk tetap bersama dengan rombongan Jombang saja. Tidak perlu mencari teman yang tergabung dalam rombongan Nganjuk. Pasalnya, dia khawatir akan membingungkan petugas haji yang ada di sana.
“Sudah ada petugasnya sendiri-sendiri. Karena berangkatnya dengan kloter Jombang, ya lebih baik tetap menjadi satu rombongan saja,” imbuhnya.
Lantaran berangkat pada gelombang akhir, Imam dan istri tidak mendarat di Madinah. Melainkan langsung ke Mekkah.
Sedangkan, rombongan CJH asal Kota Angin sendiri turun di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz di Madinah. Karenabrombongan asal Kota Angin masuk gelombang awal. Sehingga, tujuan pertamanya adalah Madinah.
“Jadi sejak di asrama haji mereka (CJH kloter 35, Red) sudah diimbau untuk memakai pakaian Ihram,” sambung Afif.
Namun, di luar hal tersebut sejatinya tidak ada perbedaan antara keduanya.
Hal senada disampaikan oleh Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kemenag Nganjuk Hanif Kamalodin. Pemberangkatan CJH cadangan tersebut berjalan dengan aman dan sesuai dengan rencana awal. Rencananya, mereka akan kembali lagi ke Indonesia pada awal Agustus.
Hanif menambahkan, Imam adalah Kepala Desa Sidokare, Kecamatan Rejoso. Dia berangkat ke Tanah Suci dengan istrinya. Editor : Anwar Bahar Basalamah