Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tim Ekspedisi Selingkar Wilis Putar Balik di Joho karena Medan Curam

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 6 Juli 2022 | 16:51 WIB
TITIK NOL: Tim Ekspedisi Selingkar Wilis memulai penelusuran rute dari Desa Petungroto, Mojo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tulungagung. (Foto: M. Arif Hanafi)
TITIK NOL: Tim Ekspedisi Selingkar Wilis memulai penelusuran rute dari Desa Petungroto, Mojo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tulungagung. (Foto: M. Arif Hanafi)
KABUPATEN, JP Radar Kediri-Ekspedisi Selingkar Wilis resmi digelar kemarin pagi.  Tim Jawa Pos Radar Kediri bersama perwakilan Pemkab Kediri menyusuri trase hingga perbatasan Nganjuk. Jalur sepanjang 70 kilometer harus ditempuh selama sekitar 10 jam. Hal tersebut bukan saja karena medan yang sulit. Melainkan tim terpaksa putar balik saat melewati medan curam di Desa Joho, Mojo.

Berangkat dari kantor Jawa Pos Radar Kediri di Jl Raya Gampeng No. 45, Gampengrejo sekitar pukul 08.00, tim harus menempuh jarak 148 kilometer. Mulai dari Desa Petungroto, Mojo, hingga Desa Kalipang, Grogol.

Mengendarai motor trail, enam personel ekspedisi harus melewati berbagai medan. Mulai jalan mulus, makadam, hingga jalan setapak yang licin dan curam. “Saat sampai di Dusun Kelir, Desa Joho, Kecamatan Mojo kami harus putar balik. Tidak bisa lanjut menuju Desa Parang, Banyakan karena jalan makadamnya licin dan curam,” kata Ketua Tim Ekspedisi Selingkar Wilis M. Arif Hanafi.

Kebetulan saat tim tiba di lokasi kemarin siang, wilayah setempat baru saja diguyur hujan deras. Karenanya, jalan yang curam itu berlumpur dan berbahaya. Berdasar beberapa pertimbangan, tim lantas turun kembali ke Desa/Kecamatan Semen. Selanjutnya, mereka menyusuri jalur Selingkar Wilis di Desa Parang, Banyakan lewat jalur bandara.

Tidak hanya medan yang sulit, tim ekspedisi juga mendapati jalan sepanjang tiga kilometer yang belum bisa dilewati. “Trase berupa jalan setapak di Dusun Goliman, Desa Parang menuju Dusun Krampyang, Desa Kalipang, Grogol juga belum tersambung,” lanjut Hanafi membeber kesulitan jalur sepanjang 1,5 kilometer lainnya.

Menurut penuturan warga, jalur tersebut dahulu merupakan rute gerilya Jenderal Sudirman. Dua jalur di wilayah Kediri yang relatif sulit tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) sendiri saat merealisasikan jalur Selingkar Wilis.

Bagaimana dengan kondisi jalannya? Hanafi menjelaskan, sekitar 50 persen jalur merupakan jalan aspal. Sisanya berupa jalan rabat dan makadam. Seperti di Desa Jugo, Kecamatan Mojo jalan yang digarap pada 2011 lalu. Lebar jalan rata-rata 2,7 meter hingga 3 meter.

Ada pula jalan alternatif yang dibuka warga. Kondisinya berupa jalan tanah selebar tiga meter. Musta’in, tim dari Dinas PUPR Kabupaten Kediri mengungkapkan, untuk perbaikan jalan tersebut memerlukan banyak tambahan. "Kalau jalan yang baru dibuka, harus ada banyak yang diubah," paparnya sembari menyebut langkah pengeprasan hingga tambahan tembok penahan jalan dan memakan waktu lama.

Rendra, tim dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kediri menambahkan, kendala lainnya karena jalan alternatif yang dibangun warga merupakan milik Perhutani. "Akan lebih mudah pembangunan bila jalan yang dipakai itu lahannya milik warga," urainya.

Sementara itu, setelah menyusuri rute Kediri selama 10,5 jam, tim Ekspedisi Selingkar Wilis memutuskan bermalam di Desa Kalipang, Grogol. Perjalanan akan dilanjutkan hari ini (6/7). Menyusuri rute Selingkar Wilis Desa Bajulan, Kecamatan Loceret hingga ke Desa Ngliman, Sawahan. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#tim selingkar wilis #radar kediri #jawa pos radar kediri #berita terkini #Dinas PUPR Kabupaten Kediri #seputar kediri #PUPR #tim ekspedisi #berita terbaru #mojo #info terbaru #jalur selingkar wilis #info terkini #Perhutani #pupr kabupaten kediri #grogol #bappeda kabupaten kediri #jalan-jalan #kecamatan mojo #Bappeda #berita kediri #ekspedisi selingkar wilils #jawa pos #kediri news #selingkar wilis