“Jalur Selingkar Wilis sejak awal digagas untuk pengembangan daerah. Kami yakin di Kediri dan Nganjuk ada banyak potensi yang bisa digali untuk kemajuan daerah,” kata Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Kediri Mahfud.
Masing-masing daerah, menurut Mahfud memiliki karakteristik yang berbeda. Demikian juga dengan potensinya. Hal tersebut menurutnya perlu dicermati dan didalami untuk bisa menunjang pembangunan daerah.
Ekspedisi Selingkar Wilis sekaligus juga memetakan sejumlah hambatan realisasi proyek strategis nasional (PSN) tersebut. Ekspedisi yang melibatkan sejumlah instansi yang membidangi ini, diharapkan bisa memunculkan solusi untuk percepatan realisasinya.
“Jalur Selingkar Wilis ditambah dengan operasional jalan tol dan Bandara Dhoho akan membuat akses menuju Kediri Raya lebih mudah. Kemajuan daerah pun menjadi sebuah keniscayaan,” papar Mahfud sembari menyebut ekspedisi akan memotret berbagai potensi mulai bidang ekonomi, pertanian, pariwisata, sosial, budaya, dan kondisi infrastruktur terkini.
Untuk diketahui, selain tim internal JP Radar Kediri, ekspedisi akan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk. Serta, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk.
Berangkat pukul 06.30 pagi ini dari kantor Jawa Pos Radar Kediri di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, tim akan menuju Desa Jugo, Mojo.
Ketua Tim Ekspedisi Selingkar Wilis M. Arif Hanafi menjelaskan, ekspedisi akan dilakukan selama dua hari. “Dari pemetaan awal, perjalanan ini akan melintasi 21 desa di dua kabupaten,” aku pria yang kerap disapa Hanafi ini.
Rinciannya, di Kabupaten Kediri ada 10 desa yang tersebar di empat kecamatan. Mulai Mojo, Semen, Banyakan, dan Grogol. Sedangkan di Kabupaten Nganjuk ada 11 desa di tiga kecamatan yang harus dilewati oleh tim.
Mulai dari Desa Bajulan, Loceret, tim akan menyusuri jalur di Kecamatan Ngetos, hingga Kecamatan Sawahan. “Targetnya satu kabupaten bisa diselesaikan dalam waktu sehari,” tegasnya sembari menyebut tim akan menginap di perkampungan warga sebelum melanjutkan perjalanan ke Nganjuk.
Editor : Anwar Bahar Basalamah