Persoalan itu sempat disampaikan Ketua Satuan Tugas Kabupaten Layak Anak (Satgas KLA) Kabupaten Kediri Mochamad Saleh Udin saat diverifikasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Dia menyebutkan, pernikahan dini bisa menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi serta menjadi faktor membengkaknya angka stunting.
Jika tidak dicegah dan ditanggulangi, menurut Saleh, kasus pernikahan dini bisa menjadi kendala bagi Kabupaten Kediri menjadi KLA. “Untuk mencegah kasus kematian ibu dan anak, kami siapkan tiap puskesmas punya tempat persalinan,” katanya.
Sedangkan hal lain untuk pernikahan dininya dikerjakan bersama-sama organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya. Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Kediri itu mendapat sorotan Ketua Suar Indonesia Kediri Sanusi. Lelaki yang terlibat aktif ketika ada verifikasi KLA Kabupaten Kediri dari Kemen PPPA ini membeberkan faktor penyebab pernikahan dini tetap tinggi.
“Banyaknya pernikahan dini ini diakibatkan karena hamil,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Anak yang hamil pasti akan dipaksa untuk menikah. Jika didalami lagi, penyebab terjadinya kehamilan itu disebabkan lemahnya pengawasan orang tua (ortu) dan faktor informasi teknologi yang tidak tersaring dengan baik.
Bagi Sanusi, faktor lingkungan cukup memengaruhi terjadinya pergaulan anak. Jika kondisi lingkungannya tidak baik, maka anak bisa dengan mudah terpengaruh. Karena itu, untuk menurunkan kasus pernikahan dini perlu kepedulian semua pihak.
Terutama ketika kasus anak mengalami kehamilan. Masalah ini perlu ada pendampingan maksimal dari orang dewasa. Tujuan pendampingan itu adalah untuk menjaga psikis anak agar tidak berdampak pada ibu atau calon yang dilahirkan nanti.
“Jika tidak didampingi, bayi yang baru dilahirkan bisa saja mengalami stunting,” ulas Sanusi.
Untuk pencegahan lainnya, sambung dia, perlu peran pemangku kepentingan dari petugas kantor urusan agama (KUA) dan pengadilan agama yang selama ini kerap memberikan dispensasi. “Saya berharap tidak terjadi dampak lebih buruk, yakni mengidap IMS, HIV, dan AIDS,” ujar Sanusi. Editor : Anwar Bahar Basalamah