Adalah Gesellschft Fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) yang akan mendanai proyek TPA terpadu tersebut. Lembaga di bawah Kementerian Luar Negeri Jerman dan Uni Eropa itu menggarap dengan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
“Tim GIZ sudah melakukan peninjauan lokasi,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti tentang progres proyek yang digagas sejak tahun lalu itu.
Untuk diketahui, pendanaan proyek TPA regional sempat beberapa kali berubah hingga membuat pembangunannya tak kunjung terealisasi. Semula, proyek disebut akan didanai anggaran pendapatan belanja negara (APBN). Dalam perkembangannya, rencana pendanaan berubah menggunakan APBD Pemprov Jatim.
Meski demikian, setelahnya tak kunjung ada progres yang berarti. Bahkan, Kota Kediri dan Kabupaten Kediri belum diajak membahas tentang porsi masing-masing di proyek tersebut.
Kedatangan tim GIZ-lah yang membuat rencana pembangunan TPA menjadi jelas. “Mereka juga melakukan survei akses jalan ke TPA regional,” terang Putut sembari menyebut tim dari Jerman itu juga menyingkronkan data persampahan di Kota dan Kabupaten Kediri.
Tak hanya itu, GIZ juga sudah menyurvei model pengolahan sampah di wilayah Kediri. Mulai dari cara mendapatkan sampah hingga nanti membuangnya ke TPA. Proses tersebut dipelajari sebelum menentukan teknologi yang tepat untuk menyelesaikan masalah sampah di Kediri.
“Mereka sudah menurunkan ahlinya. Para ahli ini yang nanti akan merumuskan model pengolahan sampah di TPA regional itu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, pengolahan sampah di TPA Kabupaten Kediri masih menggunakan metode sanitary landfill. Metode yang sama juga diterapkan di Kota Kediri. Adapun teknik pengolahan sampah di TPA terpadu nantinya, menurut Putut masih menunggu hasil survei.
Putut menegaskan, proyek TPA regional sudah pernah dilakukan feasibility study (FS). Meski demikian, saat ini tim GIS tengah melakukan FS ulang. “Kami masih menunggu hasilnya,” tegas Putut.
Terkait lokasi yang akan digunakan untuk TPA, sedikitnya ada lahan sekitar 50 hektare yang akan dipakai. Sayangnya, hingga minggu ketiga Juni ini warga setempat belum diberi sosialisasi.
Rosman, 61, warga setempat mengaku sudah mendengar rencana pembangunan TPA di daerahnya. Meski demikian, dia mengaku belum mengetahui detailnya. “Kami masih belum diajak bicara,” beber pria yang kebunnya disebut-sebut akan terdampak TPA tersebut. Editor : Anwar Bahar Basalamah