KABUPATEN, JP Radar Kediri- Pemkab Kediri bisa berhemat Rp 2,78 miliar dari proyek Jembatan Ngadi yang menghubungkan Kecamatan Mojo dengan wilayah Tulungagung. Sebab, CV Galatama sebagai pemenang lelang menyampikan penawaran sebesar Rp 7,72 miliar dari pagu yang senilai Rp 10,5 miliar.
Hingga tanda tangan kontrak, harga terkoreksi proyek ini tidak berubah nilainya. Perusahaan yang beralamat di Desa Bakalan, Kecamatan Grogol ini pun akan segera mengerjakan proyek tersebut. Yang pertama adalah pembongkaran jembatan bailey yang selama ini menggantikan fungsi jembatan yang ambruk beberapa tahun lalu itu.
“Kemungkinan dalam minggu ini (pembongkaran jembatan bailey),” kata pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Irwan Candra Wahyu Purnama.
Proyek jembatan yang menghungungkan Desa Ngadi dengan Desa Jeli, Kecamatan Kerangrejo, Kabupaten Tulungagung itu saat ini tengah dilakukan pencocokan volume dengan lapangan atau mutual check nol (MC 0%). Di lapangan petugas sudah mulai melakukan pengukuran.
Irwan mengatakan, pelaksanaan pembangunan proyek jembatan Ngadi ini meminimalkan lahan yang terdampak mengenai tanah warga. Sebab, bila ada pembebasan lahan warga maka akan muncul biaya tambahan. Karena itu, perlu dilakukan cek dan ukur ulang sebelum proyek dikerjakan.
Kepada Jawa Pos Radar Kediri Irwan mengatakan, kebutuhan lahan untuk abutmen dan pondasi sekitar 450 meter persegi. Sedangkan panjang jalannya adalah 47 meter. Yang terbagi menjadi dua bentang. Yakni 35 meter dan 12 meter. “Lebar jembatannya sebanyak tujuh meter,” beber Irwan.
Petugas pengukur yang ditemui di lokasi mengaku tidak ada kendala ketika melakukan pengukuran. Tidak hanya panjang dan lebar jembatan, kedalamannya pun harus diukur untuk penempatan kaki-kaki jembatan. “Sebelum jembatan bailey ini dibongkar, pengukuran sudah harus selesai semua,” kata salah satu pekerja.
Imam Ahmadi, 47, warga yang rumahnya mepet dengan jembatan mengaku telah diminta untuk mencari tempat meletakkan bongkaran jembatan bailey. “Yang (orang) minta dari provinsi. Minggu ini mereka akan datang bersama kendaraan pengangkut bailey,” ucap pria yang disapa Imam ini.
Imam mengaku jika jembatan bailey itu dibongkar maka jalur alternatif hanya bisa dipakai untuk kendaraan roda dua. Sebab, jembatan yang sudah disiapkan warga itu hanya berbahan bambu dan sesek. “Kalau mobil ya harus memutar,” ucapnya.
Sejauh ini, belum ada kepastian lewat mana kendaraan roda empat itu harus memutar. Jika menggunakan jalur lama maka pengendara bisa melintas lewat Desa Ngetrep, Mojo. “Jalannya menanjak,” akunya.
Dia berharap jembatan itu bisa segera selesai diperbaiki. Agar ekonomi warga tidak mati dalam kurun waktu lama.(rq/fud)
Editor : adi nugroho