Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Krismon Bikin 6 Bioskop di Nganjuk Tutup Total

adi nugroho • Selasa, 17 Mei 2022 | 22:36 WIB
krismon-bikin-6-bioskop-di-nganjuk-tutup-total
krismon-bikin-6-bioskop-di-nganjuk-tutup-total

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Langkanya bioskop di Kota Angin saat ini membuat banyak orang kaget. Karena di tahun 1990-an, Kabupaten Nganjuk menjadi surganya pencinta film. “Nganjuk dulu punya enam gedung bioskop,” ujar Nurhadi, 45, warga Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro.


Sebagai pencinta film, Nurhadi sering menonton film di bioskop. Dia masih ingat di Kecamatan Nganjuk ada tiga gedung bioskop. Yaitu, Bioskop Perdana di Jalan Dermojoyo. Kemudian, Bioskop Mustika di Jalan Merdeka dan Bioskop Balai Budaya di Kelurahan Mangundikaran.


Saat ini, tiga bioskop itu sudah tutup. Bahkan, bangunan gedung bioskop juga sudah tidak ada. Untuk Bioskop Perdana sudah menjadi pusat perbelanjaan. Kemudian, Bioskop Mustika menjadi pusat pertokoan dan perkantoran. Namanya, Mustika Square.


Sementara untuk Bioskop Balai Budaya menjadi Rumah Sakit Darurat (RSD) Mpu Sindok saat pandemi Covid-19. “Sudah tidak ada bioskop di Kecamatan Nganjuk saat ini,” ujar Nurhadi.


Selain tiga bioskop di Kecamatan Nganjuk, Nurhadi mengatakan, ada tiga bioskop di Kecamatan Kertosono dan Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom. Dua bioskop di Kecamatan Kertosono adalah Srikandi Theatre dan Bayangkara/Arjuna Theatre. Saat ini, Srikandi Theatre berubah menjadi perumahan, pertokoan dan perkantoran. Sedangkan, Bayangkara/Arjuna Theatre menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).


Untuk bioskop di Warujayeng ada satu. Yaitu Bioskop Santoso. Saat ini juga sudah tidak ada. Gantinya adalah toko elektronik. “Enam bioskop itu tutup dalam waktu hampir bersamaan, yaitu pada tahun 1998,” ujar Nurhadi.


Penutupan gedung bioskop saat itu diduga karena adanya krisis moneter yang melanda Indonesia. Perekonomian yang ambruk. Nilai tukar rupiah dengan dollar yang melemah membuat harga film saat itu dikabarkan sangat tinggi. Akibatnya, pendapatan bioskop dengan pengeluaran tidak mencukupi. “Kayaknya banyak yang bangkrut,” ujar Nurhadi.


Selain itu, persoalan gedung bioskop semakin diperparah dengan maraknya VCD. Rental VCD mulai marak. Kemudian, film-film bajakan juga muncul. Akibatnya, warga menjadi enggan menonton film di gedung bioskop. “Sepi sekali bioskop. Jadi, akhirnya tutup semua,” keluh bapak dua anak ini.


Hal senada diutarakan, Sutrisno, 52, warga Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk. Dia mengaku sangat menyayangkan penutupan gedung bioskop di Nganjuk. “Nganjuk jadi sepi hiburan,” ujarnya.


Sutrisno berharap, gedung bioskop bisa muncul lagi di Kota Angin. Karena nonton film di rumah dengan bioskop itu berbeda. “Kalau di Nganjuk ada gedung bioskop yang representative dan di pusat perbelanjaan seperti Kota Kediri, pasti warga Nganjuk tidak akan ke Kediri jika ingin nonton film,” ujarnya.

Editor : adi nugroho
#film #kabar nganjuk #radar nganjuk