Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penjualan Anjlok, Petani Nanas di Kediri Merugi

adi nugroho • Senin, 18 April 2022 | 17:34 WIB
penjualan-anjlok-petani-nanas-di-kediri-merugi
penjualan-anjlok-petani-nanas-di-kediri-merugi



KOTA, JP Radar Kediri- Pandemi Covid-19 membuat penjualan nanas ke luar kota terhambat. Akibatnya, penjualan produk unggulan dari Ngancar itu langsung anjlok. Akibatnya, petani nanas merugi hingga ratusan juta rupiah.


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Adi Suwignyo mengungkapkan, nanas merupakan produk pertanian andalan di Kabupaten Kediri. Nanas yang juga dijual di area wisata Kelud itu sekaligus bisa menghidupkan perekonomian warga sekitar. “Tidak hanya petani nanas, tapi juga warga lokal,” kata Wignyo.


Nanas dari lereng Kelud yang dikenal manis, menurut Wignyo banyak dijual ke luar daerah. Selain Bali, Surabaya, nanas juga dijual ke Jawa Tengah hingga ke Jakarta.


Rupanya, pandemi Covid-19 membuat penjualan nanas jeblok hingga stok melimpah dan harga nanas menjadi murah. Belum lagi, petani harus menghadapi nanas yang busuk jika terlambat memanen dan menjualnya.


          Wignyo mencontohkan, untuk penanaman satu hektare lahan, biasanya dibutuhkan modal Rp 50 juta. Saat harga normal, petani bisa menjual nanas hingga Rp 155 juta per hektare. Namun, saat pandemi merosot separo lebih. “Keuntungan petani juga turun banyak,” terangnya.


          Pernyataan Wignyo diakui oleh Astuti, 32. Pedagang di Kampung Nanas itu mengaku kesulitan menjual buah andalan Kediri tersebut. Perempuan asal Desa Sugihwaras, Ngancar itu mengaku bisa mendapat keuntungan Rp 150 ribu dengan mudah sebelum pandemi. “Sekarang banyak tidak lakunya,” keluh Astuti.


Agar nanas dagangannya laku, dia harus membanting harga. Satu ikat nanas berisi 10-15 buah dijual hanya dengan harga Rp 10 ribu. Padahal, saat normal dia bisa menjual dengan harga dua kali lipat lebih. Tidak hanya itu, satu ikat nanas biasanya juga hanya berisi delapan buah.


Menjual dengan harga murah jadi opsi pedagang dan petani. Sebab, jika tidak segera dipetik akan membusuk di pohon. “Semoga saja setelah lebaran ini kondisi kembali normal,” harapnya.


Terpisah, Bupati Kediri Hananindito Himawan Pramana mengakui adanya penurunan penjualan nanas di Ngancar. “Antisipasi ke depan harus lebih banyak diversifikasi produk. Pengolahan nanas dalam bentuk lain,” terangnya sembari menyebut penjualan produk juga bisa dilakukan secara online.


Adapun pemasarannya menurut Dhito bisa dibantu oleh badan usaha milik desa (Bumdes). Dia juga mengapresiasi Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang turut mempromosikan nanas varian Pasir Kelud (PK) yang besar dan manis. (rq/ut)


 

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #petani #nanas #kediri #ekonomi kediri #ekonomi #info kediri #info terkini #berita kediri