KOTA, JP Radar Kediri- Rencana Pemerintah menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10 menjadi 11 persen awal April nanti diperkirakan berdampak pada daya beli masyarakat. Hal itu akan memicu kenaikan harga barang-barang. Apalagi, momentumnya bersamaan dengan bulan Puasa.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Lilik Wibawati memaparkan, secara teori, kenaikan pajak ini akan berdampak pada usaha-usaha yang dikenakan PPN. Pengusaha yang dibebani PPN akan ‘melimpahkan’ pada konsumen. Sehingga, harga bakal naik.
“Tidak serta merta langsung (naik, Red), pasti butuh proses,” ujar Lilik.
Lantas bagaimana dengan inflasi? Menurutnya, saat ini masih dalam pemantauan harga-harga karena dihitung dalam waktu satu bulan. Untuk periode Maret akan bisa diketahui 1 April.
Di sisi lain, kenaikan PPN tersebut tak berimbas pada pendapatan daerah. “Pemkot tak dapat bagi hasil (dari kenaikan PPN),” aku Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Sugeng Wahyu Purba Kelana.
Sementara itu, pengamat ekonomi Subagyo mengatakan, kenaikkan PPN ini akan berdampak pada masyarakat miskin di Kota Kediri. Serta menjadi tantangan pemulihan ekonomi.
“Tentu akan terjadi kenaikan harga barang, beban masyarakat menjadi lebih tinggi,” ujar Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI Kota Kediri itu.
Jika harga kebutuhan pokok mengalami kenaikkan seperti yang terjadi saat ini maka ancaman terjadinya inflasi akan semakin tinggi. Belum lagi jika yang mengalami kenaikan itu adalah bahan bakar. “Efek dominonya banyak, pemulihan ekonomi di Kota Kediri akan semakin sulit,” ujarnya.
Analisa itu diamini pula oleh akedemisi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pawiyatan Daha Kediri Sri Utami. “Daya beli masyarakat makin berat,” ujarnya. Menurutnya, dampak itu tidak hanya terjadi pada warga miskin saja tetapi masyarakat ekonomi menengah ke atas.
Kenaikan harga barang itu dikhawatirkan berdampak pula pada penjualan. Daya jual produk bisa turun akibat daya beli masyarakat yang lemah. Kondisi seperti ini menjadi serba sulit di saat pemerintah berupaya melakukan pemulihan ekonomi.
Untuk diketahui, harga kebutuhan pokok saat ini merangkak naik. Penyebab kenaikan tersebut disebabkan karena siklus tahunan menjelang Ramadan. Terjadinya peningkatan permintaan akan memengaruhi harga barang.(rq/fud)
Editor : adi nugroho