Penentuan Ngasem sebagai pusat pemerintahan, dan lokasi ibu kota kabupaten masih ‘terhubung’ dengan nilai sejarah dan budaya. Terutama terkait filosofi sedulur papat, lima pancer.
Apa alasan utama menominasikan wilayah Kecamatan Ngasem sebagai Ibu Kota Kabupaten Kediri? Yang paling utama, adalah terkait dengan lokasi pemerintahan. Saat ini, di Ngasem adalah tempat kantor bupati, kantor sekretariatan, dan gedung DPRD.
Apalagi, berdasarkan pembahasan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) 2022-2041, Ngasem menjadi salah satu dari lima pusat kegiatan lokal (PKL) yang dimiliki Kabupaten Kediri. “Selain itu, PKL juga ada di Pare, Ngadiluwih, dan Grogol,” terang Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) M. Saleh Udin saat berbicara di acara Diskusi Menimbang Ibu Kota Kabupaten Kediri, Selasa (23/3) malam lalu.
Udin mengatakan bahwa PKL adalah titik kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan. Seperti di Pare, yang menjadi bagian paling timur, melayani kecamatan-kecamatan yang dekat dengan Pare. Agar lebih mudah melakukan pelayanan.
Begitupula dengan Ngadiluwih, dan Grogol. Dari RTRW yang sudah diparipurnakan di DPRD, tiga kecamatan itu juga disebut sebagai pusat kegiatan masyarakat.
Masih ada satu lagi PKL yang dirancang. Yaitu Papar, yang berada di bagian utara Kabupaten Kediri. Hanya, Papar termasuk PKL promosi di dalam RTRW Kabupaten Kediri.
Lelaki berkaca mata itu menambahkan, pembuatan PKL untuk membantu kegiatan lain. Baik pemerintahan atau non-pemerintahan. Seperti misalnya Ngadiluwih. Daerah ini berstatus PKL karena sebagai kecamatan di bagian selatan yang menjadi pusat berbagai sektor. Seperti pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan.
Sementara Grogol dan sekitarnya terimbas adanya pembangunan bandara dan jalan tol. Dengan berbagai proyek strategis nasional (PSN) itu, menjadikan Grogol sebagai pusat industry.
“Yang dijadikan PKL, sesuai dengan RTRW yang sudah diparipurnakan itu, memang memiliki peran masing-masing untuk membantu kinerja yang di Ibu Kota Kabupaten,” imbuhnya.
Bila dilihat secara garis besar, empat daerah tersebut menggambarkan mata angin. Dan titik pusatnya berada di Ngasem. “Dari diskusi sebelumnya, pemilihan Ngasem sebagai Ibu Kota Kabupaten Kediri juga memerhatikan aspek lokasinya juga. Berada lebih dekat dengan kecamatan-kecamatan lain,” imbuh Udin.
Pemerhati budaya Kediri Novi Bahrul Munib mengatakan bahwa proses pemilihan tempat sudah ada sejak lama. Berdasarkan pada filosofi sedulur papat, lima pancer. Atau empat bersaudara, yang kelima menjadi pusatnya. “Ini juga tertuang dan sangat terlihat di Pancawara. Seperti pasar-pasar di Jawa, berdasarkan pasarannya,” terangnya.
Sama seperti empat penjuru mata angin. Yang berada di tengah sebagai penopang atau pusatnya. “Konsep yang masih relevan hingga saat ini. Padalah sudah ada sejak abad ke-7,” imbuhnya.
Dilihat dari letak wilayah, Ngasem merupakan lokasi strategis dibandingkan pemilihan Kecamatan Pare sebagai Ibu Kota Kabupaten Kediri yang baru. Lebih dekat dengan 25 kecamatan lain mulai dari utara, selatan, timur, dan barat. Dibandingkan dengan Kecamatan Pare, yang hanya dekat dengan wilayah di bagian timur.(iqbal syahroni/fud)
Editor : adi nugroho