KOTA, JP Radar Kediri-Ritual tawur kesanga di Pura Penataran Agung Kilisuci Kota Kediri kemarin berlangsung tanpa arak-arakan ogoh-ogoh. Meski pemusnahan simbol buta kala tak dilakukan, umat tetap melaksanakan rangkaian upacara dengan khidmat.
Tawur kesanga dimulai sekitar pukul 10.45. Berlangsung dalam kondisi hujan, umat memilih berteduh di bawah tenda dan pendapa di dalam pura.
“Ogoh-ogoh itu simbol buta kala, mengaraknya bukanlah kewajiban di ritual ini,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kediri Ni Made Susilawati tentang tidak adanya ritual pengarakan ogog-ogoh.
Perempuan yang akrab disapa Made itu menjelaskan, PHDI sengaja meniadakan arak-arakan ogoh-ogoh karena khawatir menimbulkan kerumunan. Ritual tersebut menurutnya sudah tidak lagi digelar selama tiga tahun terakhir.
Seperti tahun lalu, tawur kesanga hanya digelar di dalam pura. “Makna upacara (tawur kesanga, Red) ini untuk mengharmoniskan manusia dengan alam,” terang Made.
Dalam upacaran kemarin, pandita melakukan pemujaan dan memberikan persembahan atau yadnya kepada buta kala. Tujuannya agar mereka tidak menganggu umat manusia. Sehingga pelaksanaan perayaan catur brata penyepian nanti bisa dilaksanakan dalam keadaan hening, bersih, suci, dan harmonis.
Usai menjalankan doa dan sembahyang, masing-masing rumah tangga akan membawa tirta kamandalu, tirta amarta, tirta caru, dan beras kuning. Jelang malam, air akan dipercikkan dan disebar di sekeliling rumah. “Tujannya agar harmonis, sejahtera dan aman,” urai Made sembari menyebut sejak tadi malam umat Hindu mulai melakukan nyepi.
Selama menjalankan catur brata penyepian, umat Hindu melakukan empat hal. Yakni, amati geni atau tidak menyalakan api. Terutama api di dalam diri sendiri. Tujuannya adalah untuk menjinakkan diri sendiri. “Musuh paling berat adalah diri sendiri,” lanjut Made. Tadi malam, umat Hindu ini tidak menyalakan lampu.
Selanjutnya, amati karya atau tidak bekerja secara fisik. Adapun yang bekerja hanya rohaninya saja alias berdoa. Mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Adapun yang ketiga amati lelanguan atau tidak menikmati menikmati hiburan. Terakhir, amati lelungan atau tidak berpergian. “Semuanya wajib di rumah dalam keadaan hening,” beber Made sembari menyebut dlam kondisi itu umat bisa mendengar suara hati nuraninya. (rq/ut)
Editor : adi nugroho