Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mahasiswa di Kediri Terbelit Pinjaman Online

adi nugroho • Selasa, 19 Oktober 2021 | 22:35 WIB
mahasiswa-di-kediri-terbelit-pinjaman-online
mahasiswa-di-kediri-terbelit-pinjaman-online

KOTA, JP Radar Kediri-Pinjaman online (pinjol) kian marak di Kota Kediri. Berbagai kelompok masyarakat yang tergiur jadi korbannya. Termasuk mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi yang belakangan ikut terbelit pinjaman ilegal itu.


          Masalah baru muncul saat pinjaman yang diajukan kaum terpelajar itu macet. Tidak hanya mahasiswa atau debitur saja yang terdampak. Melainkan, dosen dan teman-temannya ikut jadi sasaran penagihan debt collector. “Ada satu mahasiswa yang masuk (utang pinjol, Red),” kata Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri Sunarno.


          Dia mengaku pernah mendapat pesan pendek dari salah satu aplikasi pinjol. Sunarno diminta mengingatkan salah satu mahasiswanya agar segera melunasi utangnya.


          Tak hanya mahasiswa, Sunarno juga pernah mendapat pesan pendek dari aplikasi pinjol lainnya. Kali ini yang meminjam adalah kenalannya dari luar kampus. “Polanya sama. Meminta mengingatkan agar melunasi utangnya,” lanjut Sunarno.


          Selain dirinya, menurut Sunarno juga ada beberapa dosen lain yang menerima pesan sama. Masalah tersebut rencananya akan dibahas oleh program studinya. Tetapi, hal tersebut urung dilakukan karena mahasiswa tersebut memilih menyelesaikan masalah tersebut di ranah hukum.


Dosen psikologi itu mengaku tidak mengikuti lagi kasusnya setelah ditangani polisi. “Saya berharap tidak ada mahasiswa lain yang terpikat pinjaman online lagi,” tuturnya.


Sementara itu, tidak hanya IAIN, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Subagyo juga mengaku kerap mendapat SMS dari aplikasi pinjol. Seperti halnya Sunarno, dia turut mendapat pesan penagihan pinjaman mahasiswanya.


Di UNP, sedikitnya ada empat mahasiswa dan dua karyawan yang terbelit pinjol. “Mahasiswanya sudah lulus, karyawan juga sudah resign,” beber Subagyo.


Dengan keberadaan pihak terkait yang tidak lagi di kampus, Subagyo mengaku tidak bisa mengambil tindakan lebih lanjut. Dia menengarai, mahasiswa dan karyawan itu risih dan malu akibat teror penagihan dari pinjol. 


 Lebih jauh Subagyo menegaskan, nomornya turut dihubungi oleh pengelola pinjol karena mahasiswa yang menjadi debitur memasukkan nomornya dalam kontak emergency call. Pengirim pesan meminta Subagyo menyampaikan pesan ke mahasiswanya terkait pinjaman yang sudah jatuh tempo.


Bukan pesan biasa. Melainkan ada juga kata-kata kasar di dalamnya. “Misalnya, meminta mahasiswa tidak kabur seperti maling. Ini (pinjol, Red) rentenir model baru,” tegas pria yang juga pengamat ekonomi Kediri ini.


          Subagyo menduga orang-orang tergiur mengajukan pinjaman online karena persyaratannya mudah. Tidak ada survei dan uang bisa cair dalam waktu dekat. Nilainya juga bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.


          Jika di awal mudah, saat pinjaman macet debitur akan dikejar-kejar oleh debt collector lewat teleponnya. Saat itulah, orang-orang terdekatnya akan ikut menjadi sasaran. “Ini meresahkan warga. Apalagi sekarang juga menyasar mahasiswa,” sesalnya.


          Dengan beberapa kasus yang pernah terjadi di UNP, Subagyo mengimbau mahasiswa lain agar tak terpikat pinjol. Sebab, mereka akan menanggung malu. Bahkan, setelah lulus sekalipun.


          Sayang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Kediri belum bisa dikonfirmasi terkait pinjol ilegal yang mulai menyasar mahasiswa. Kepala OJK Kediri Bambang Supriyanto yang dikonfirmasi koran ini belum bisa memberi penjelasan. “Tanya staf saya Pak Erlangga saja ya,” elaknya.


          Saat koran ini menghubungi Erlangga lewat WhatsApp, hingga pukul 16.00 kemarin belum direspons. Pesan Jawa Pos Radar Kediri hanya dibaca dan tidak dijawab. (rq/ut)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kediri #universitas #pelajar