Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Buat Tali Masker, Warga Gurah Ini Bisa Raup Omzet Puluhan Juta

adi nugroho • Selasa, 31 Agustus 2021 | 21:08 WIB
buat-tali-masker-warga-gurah-ini-bisa-raup-omzet-puluhan-juta
buat-tali-masker-warga-gurah-ini-bisa-raup-omzet-puluhan-juta


Setahun lebih kalang kabut karena pesanan jahitannya sepi, Sujinah berusaha berdamai dengan Covid-19. Dia banting setir membuat tali masker hingga berhasil meraup omzet puluhan juta rupiah. 



ILMIDZA AMALIA NADZIRA, Kabupaten. JP Radar Kediri 



Pandemi Covid-19 awal tahun lalu jadi mimpi buruk bagi Sujinah. Penyandang difabel itu pusing tujuh keliling karena pesanan jahitan yang masuk langsung drop. Pasalnya, kayuhan mesin jahitnya akan menentukan apakah asap dapurnya bisa mengepul atau tidak. 


Sebulan hingga dua bulan pandemi, perempuan yang kakinya mengecil akibat polio itu masih bisa bersabar. “Ternyata kok tidak selesai-selesai. Saya langsung memutar otak mencari peluang,” kenang perempuan berusia 56 tahun itu ditemui di rumahnya di Desa Wonojoyo, Gurah, Kamis (26/8) lalu.     


Duduk di kursi roda, Sujinah lantas berpindah ke kursi di belakang mesin jahitnya. Tangannya bertumpu pada mesin jahit, susah payah mengangkat tubuhnya hingga otot-otot di wajahnya terlihat menonjol, sebelum kemudian bisa duduk dengan sempurna. 


Sejurus kemudian, tangannya meraih tumpukan kain di tatakan mesin jahit merk Butterfly itu. Dengan cekatan dia lantas mengambil beberapa kain yang sudah dipotong untuk dijahit. “Setiap hari ya seperti ini,” lanjut Sujinah tentang kesibukannya. 


Menderita sakit polio sejak umur tiga tahun, Sujinah harus berjuang lebih keras untuk sekadar beraktivitas. Meski dalam kondisi serbaterbatas, ibu satu anak ini bersyukur karena dia mendapat keterampilan menjahit dari bibinya. 


Keterampilan itu pula yang kini menjadi tumpuan hidupnya. Makanya, begitu pesanan jahitan turun drastis selama pandemi, dia sempat kelimpungan. Melihat permintaan pasar, tahun lalu Sujinah sempat membuat masker kain.


Kebetulan ada yang meminta agar dia membuat masker kain. “Ada orang yang menawarkan untuk menjualkan, langsung saya ambil (membuat masker, Red),” urainya.  


Dalam sehari, biasanya dia bisa membuat 30 lembar masker kain. Dengan harga jual Rp 5.000 per lembar, dia bisa meraih pendapatan sekitar Rp 150 ribu per hari. Jumlah itu dinilainya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Sayangnya, booming masker kain hanya bertahan dalam beberapa bulan.


Selanjutnya, permintaan turun hingga akhirnya tidak ada lagi permintaan. Tepatnya setelah pemerintah mengimbau masyarakat memakai masker medis.  


Sujinah yang sempat berseri pun kembali lunglai. “Omzet turun drastis lagi. Ya kebingungan lagi,” lanjut perempuan yang sejak 2017 lalu harus beraktivitas menggunakan kursi roda ini.  


Tak mau terlalu lama larut dalam kesedihan, dia kembali memutar otak. Mencari peluang usaha selama pandemi. Setelah melihat tren, terpikirkan olehnya untuk membuat konektor masker. 


Kebetulan, selain menjahit Sujinah juga bisa merajut. Dari keterampilannya itu, dalam sehari dia bisa membuat 2-3 lusin. Dengan harga jual Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu, kini Sujinah bisa meraup omzet hingga Rp 5 juta rupiah per bulan. 


Selain membuat konektor masker, dia juga membuat tali masker dari bahan lain. Yakni, menggunakan elastis yang dipadu dengan manik-manik. Khusus untuk produk satu ini, dalam sehari dia bisa meraup Rp 500 ribu hingga rp 700 ribu. Sehingga, dalam sebulan dia bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 20 juta. “Ini kan sampai sekarang permintaannya masih tinggi. Kadang saya kewalahan, akhirnya dibantu dengan anak saya,” urainya gembira.


Hingga akhir Agustus ini, permintaan tali masker dan konektor masker hampir sama tingginya. Dalam sehari dia bisa membuat puluhan biji. Untuk memasarkan produknya, dia juga tidak hanya mengandalkan penjualan konvensional. 


Melainkan juga lewat akun media sosialnya. Sujinah bersyukur, pemasaran online itu membuat produknya tidak hanya diminati warga Kediri. Melainkan bisa laku terjual ke Jombang, Mojokerto, Blitar, hingga Surabaya. “Ya meskipun masih lingkup Jatim, tetap saya syukuri karena kan bisnis seperti ini juga banyak pesaingnya,” bebernya.


Pandemi memberi banyak pelajaran bagi Sujinah. Tetapi, satu hal yang diyakininya. Selama tetap berusaha dengan beradaptasi dan membuat produk sesuai permintaan pasar, dia yakin tetap bisa bertahan.


Keterbatasan fisik yang dimilikinya pun tidak lagi menjadi penghalang. “Jangan sampai menggantungkan hidup dan merepotkan orang lain. Usaha dan ikhlas menjalani, pasti Tuhan akan datangkan rezeki sendiri,” pesannya. (ut)


Editor : adi nugroho
#usaha