Banyak pepohan besar dan rindang. Itulah yang terlihat jelas pada sumber-sumber air. Akar-akar pohon itu menjadi pengikat air tanah. Yang bisa membuat mata air terus memancar.
Sayang, keberadaan pohon-pohon besar itu, ternyata, tak cukup untuk memastikan sumber air tidak sampai kering. Seperti yang terjadi di sumber air Ngadiloyo, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini. Sumber air ini sempat mengering.
“Kering pada tahun 2019. Tetapi saat musim penghujan air muncul lagi,” terang Ali, 56, warga Dusun Ngadiloyo, dusun di mana sumber air itu berada.
Memang, keringnya sumber tersebut berlangsung saat kemarau. Itupun tak berlangsung lama. saat musim penghujan air akan kembali mengisi sumber tersebut.
Seperti tahun ini, yang terjadi kemarau basah, debit air di sumber tersebut menyusut. Ketinggiannya pun turun hingga 20 sentimeter. Dalam kondisi normal, ketinggian kolam di sumber ini bisa mencapai 160 sentimeter. Saat kemarau menjadi hanya 140 sentimeter. Meskipun demikian, kualitas air tak terpengaruh. Sumber ini tetap jernih.
“Juga masih banyak ikannya,” ujar Ali sebelum menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air.
Seperti halnya warga sekitar sumber, Ali juga memanfaatkan sumber itu untuk berenang. Juga menjadi sarana rekreatif. Apalagi di dekat sumber juga ada lapangan sepak bola. Tempat pemuda dusun berolahraga. Setiap sore, jadinya, area sumber menjadi ramai. Beberapa warung makan pun muncul. “Pedagang keliling juga banyak,” terangnya.
Namun, fungsi utama sumber itu tentu saja untuk irigasi pertanian. Sebab, dari kolam berbentuk persegi dengan ukuran 50 x 50 meter itu keluar saluran mirip anak sungai. Langsung mengarah ke persawahan.
Di Kabupaten Kediri sendiri ada puluhan sumber air seperti itu. Selain di Ngadiloyo, sumber yang juga masih terawat ada di Desa Krenceng, Kecamatan Kepung. Mata air ini bahkan, konon, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
“Airnya terus mengalir, padahal usianya sudah ratusan tahun,” terang Kepala Desa Krenceng Sumari.
Sumber air ini fungsi utamanya tentu saja untuk pengairan lahan pertanian. Membuat para petani di sekitar sumber tak pernah mengeluh.
Selain berfungsi saluran irigasi pertanian, sumber dari Krenceng ini juga untuk suplai ke rumah sakit HVA Toeloengredjo, Pare. Air disalurkan melalui pipa-pipa yang ditanam di tanah.
Selain itu, saat ini sumber ini juga dimanfaatkan untuk air minum warga. Rencananya, juga akan berkembang sebagai tempat wisata. Yaitu untuk kolam renang.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti mengatakan, ada beraga penyebab sumber air menjadi kering. Di antaranya berkurangnya vegetasi di sekitarnya yang memang berperan untuk menyimpan air.
“Untuk musim kemarau mempengaruhi debit air,” ujarnya.
Pemicu lainnya yakni imbas dari alih fungsi lahan di kawasan sekitar sumber air. Juga peningkatan penggunaan air yang disebabkan bertambahnya penduduk. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap daya dukung kelestarian air dan daya tampungnya.
Terkait dengan upaya pelestarian, Putut mengatakan, pihaknya melakukan konservasi dengan penanaman pohon di sumber air dengan tanaman pengikat.”Bisa menggunakan trembesi, pule, cangkring, preh dan pucung,” pungkasnya. (wi/syi/fud)
Editor : adi nugroho